<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342</id><updated>2012-01-31T16:41:24.857-08:00</updated><category term='NUTRISI'/><category term='PATOFISIOLOGI'/><category term='MASALAH SISTEM INDRA dan SYARAF'/><category term='GIZI'/><category term='LOKOMOTOR'/><category term='CHEST COMPLAIN'/><category term='CAMPUR CAMPUR'/><category term='ABDOMINAL COMPLAINT'/><category term='ENDROKIN'/><category term='SISTEM RESPIRASI'/><category term='IMUNOLOGI'/><category term='SISTEM REPRODUKSI'/><category term='FARMAKOLOGI'/><category term='PATOLOGI'/><category term='MEKANISME PEYAKIT dan DASAR DASAR TERAPI'/><category term='NEOPLASMA'/><category term='SISTEM DIGESTIVE'/><category term='PELAYANAN KESEHATAN PRIMER dan KEDOKTERAN KELUARGA'/><category term='VIROLOGI'/><category term='KARDIOVASKULER'/><category term='SISTEM SARAF'/><category term='MIKROBIOLOGI'/><category term='OBAT SARAF'/><title type='text'>BUKU RINGKASAN TUTORIAL</title><subtitle type='html'>Veni Wulandari
Mahasiswa Kedokteran Universitas Abdurrab
Semester V
2010/2011</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>107</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-2870977053360800705</id><published>2011-01-10T04:50:00.000-08:00</published><updated>2011-01-10T04:50:00.732-08:00</updated><title type='text'>UROLITHIASIS / BATU GINJAL</title><content type='html'>&lt;span style="color: black;"&gt;Urolithiasis atau Batu ginjal  merupakan batu pada saluran kemih (urolithiasis), Urolithiasis sudah  dikenal sejak zaman Babilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya batu  pada kandung kemih mummi. Batu saluran kemih dapat diketemukan sepanjang  saluran kemih mulai dari sistem kaliks ginjal, pielum, ureter,  buli-buli dan uretra. Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian  turun ke saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran  kemih bagian bawah karena adanya stasis urine seperti pada batu  buli-buli karena hiperplasia prostat atau batu uretra yang terbentu di  dalam divertikel uretra. Batu ginjal  adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks,  infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh  kaliks ginjal dan merupakan batu slauran kemih yang paling sering  terjadi (Purnomo, 2000).&lt;/span&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;b style="color: black;"&gt;Insidens dan Etiologi Urolithiasis/Batu Ginjal &lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; Penyakit batu saluran kemih menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan  di negara berkembang banyak ditemukan batu buli-buli sedangkan di negara  maju lebih banyak dijumpai batu saluran kemih bagian atas (gunjal dan  ureter), perbedaan ini dipengaruhi status gizi dan mobilitas aktivitas  sehari-hari. Angka prevalensi rata-rata di seluruh dunia adalah 1-12 %  penduduk menderita batu saluran kemih. Penyebab terbentuknya batu  saluran kemih diduga berhubungan dengan gangguan aliran urine, gangguan  metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan-keadaan lain  yang masih belum terungkap (idiopatik) Secara epidemiologis terdapat  beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih yang  dibedakan sebagai faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik;&lt;/span&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; Faktor intrinsik, meliputi:&lt;/span&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;br /&gt;&lt;ol style="color: black;"&gt;&lt;li&gt;Herediter; diduga dapat diturunkan dari generasi ke generasi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Umur; paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jenis kelamin; jumlah pasien pria 3 kali lebih banyak dibanding pasien wanita.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Faktor ekstrinsik, meliputi:&lt;/span&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;ol style="color: black;"&gt;&lt;li&gt;Geografi; pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian yang  lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone  belt (sabuk batu)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Iklim dan temperatur&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Asupan air; kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Diet; diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu saluran kemih.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pekerjaan; penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktivitas fisik (sedentary life).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b style="color: black;"&gt;Teori Terbentuknya Urolithiasis/Batu Ginjal &lt;/b&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;ol style="color: black;"&gt;&lt;li&gt;Teori nukleasi: Batu terbentuk di dalam urine karena adanya inti  batu atau sabuk batu (nukleus). Partikel-partikel yang berada dalam  larutan kelewat jenuh akan mengendap di dalam nukleus itu sehingga  akhirnya membentuk batu. Inti bantu dapat berupa kristal atau benda  asing saluran kemih.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Teori matriks: Matriks organik terdiri atas serum/protein urine  (albumin, globulin dan mukoprotein) sebagai kerangka tempat mengendapnya  kristal-kristal batu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penghambat kristalisasi: Urine orang normal mengandung zat  penghambat pembentuk kristal yakni magnesium, sitrat, pirofosfat,  mukoprotein dan beberapa peptida. Jika kadar salah satu atau beberapa  zat ini berkurang akan memudahkan terbentuknya batu dalam saluran kemih.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b style="color: black;"&gt;Komposisi Batu &lt;/b&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur: kalsium oksalat,  kalsium fosfat, asam urat, magnesium-amonium-fosfat (MAP), xanthyn dan  sistin. Pengetahuan tentang komposisi batu yang ditemukan penting dalam  usaha pencegahan kemungkinan timbulnya batu residif&lt;/span&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;b style="color: black;"&gt;Batu Kalsium&lt;/b&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; Batu kalsium (kalsium oksalat dan atau kalsium fosfat) paling banyak  ditemukan yaitu sekitar 75-80% dari seluh batu saluran kemih. Faktor  tejadinya batu kalsium adalah:&lt;/span&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;ol style="color: black;"&gt;&lt;li&gt;Hiperkasiuria: Kadar kasium urine lebih dari 250-300 mg/24 jam,  dapat terjadi karena peningkatan absorbsi kalsium pada usus  (hiperkalsiuria absorbtif), gangguan kemampuan reabsorbsi kalsium pada  tubulus ginjal (hiperkalsiuria renal) dan adanya peningkatan resorpsi  tulang (hiperkalsiuria resoptif) seperti pada hiperparatiridisme primer  atau tumor paratiroid.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hiperoksaluria: Ekskresi oksalat urien melebihi 45 gram/24 jam,  banyak dijumpai pada pasien pasca pembedahan usus dan kadar konsumsi  makanan kaya oksalat seperti the, kopi instan, soft drink, kakao, arbei,  jeruk sitrun dan sayuran hijau terutama bayam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hiperurikosuria: Kadar asam urat urine melebihi 850 mg/24 jam. Asam  urat dalam urine dapat bertindak sebagai inti batu yang mempermudah  terbentuknya batu kalsium oksalat. Asam urat dalam urine dapat bersumber  dari konsumsi makanan kaya purin atau berasal dari metabolisme endogen.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Hipositraturia: Dalam urine, sitrat bereaksi dengan kalsium  membentuk kalsium sitrat sehingga menghalangi ikatan kalsium dengan  oksalat atau fosfat. Keadaan hipositraturia dapat terjadi pada penyakit  asidosis tubuli ginjal, sindrom malabsorbsi atau pemakaian diuretik  golongan thiazide dalam jangka waktu lama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hipomagnesiuria: Seperti halnya dengan sitrat, magnesium bertindak  sebagai penghambat timbulnya batu kalsium karena dalam urine magnesium  akan bereaksi dengan oksalat menjadi magnesium oksalat sehingga mencegah  ikatan dengan kalsium dengan oksalat&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b style="color: black;"&gt;Batu Struvit&lt;/b&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; Batu struvit disebut juga batu sebagai batu infeksi karena terbentuknya  batu ini dipicu oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab  infeksi ini adalah golongan pemecah urea (uera splitter seperti: Proteus  spp., Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas dan Stafilokokus)  yang dapat menghasilkan enzim urease dan mengubah urine menjadi basa  melalui hidrolisis urea menjadi amoniak. Suasana basa ini memudahkan  garam-garam magnesium, amonium, fosfat dan karbonat membentuk batu  magnesium amonium fosfat (MAP) dan karbonat apatit.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;b style="color: black;"&gt;Batu Urat&lt;/b&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; Batu asam urat meliputi 5-10% dari seluruh batu saluran kemih, banyak  dialami oleh penderita gout, penyakit mieloproliferatif, pasein dengan  obat sitostatika dan urikosurik (sulfinpirazone, thiazide dan  salisilat). Kegemukan, alkoholik dan diet tinggi protein mempunyai  peluang besar untuk mengalami penyakit ini. Faktor yang mempengaruhi  terbentuknya batu asam urat adalah: urine terlalu asam (pH kurang dari&amp;nbsp;  6, volume urine kurang dari&amp;nbsp; 2 liter/hari atau dehidrasi dan  hiperurikosuria.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;b style="color: black;"&gt;Patofisiologi Urolithiasis/Batu Ginjal &lt;/b&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; Batu saluran kemih dapat menimbulkan penyulit berupa obstruksi dan  infeksi saluran kemih. Manifestasi obstruksi pada saluran kemih bagian  bawah adalah retensi urine atau keluhan miksi yang lain sedangkan pada  batu saluran kemih bagian atas dapat menyebabkan hidroureter atau  hidrinefrosis. Batu yang dibiarkan di dalam saluran kemih dapat  menimbulkan infeksi, abses ginjal, pionefrosis, urosepsis dan kerusakan  ginjal permanen (gagal ginjal)&lt;/span&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;b style="color: black;"&gt;Gambaran Klinik dan Diagnosis Urolithiasis/Batu Ginjal &lt;/b&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; Keluhan yang disampaikan pasien tergantung pada letak batu, besar batu  dan penyulit yang telah terjadi. Pada pemeriksaan fisik mungkin  didapatkan nyeri ketok di daerah kosto-vertebra, teraba ginjal pada sisi  yang sakit akibat hidronefrosis, ditemukan tanda-tanda gagal ginjal,  retensi urine dan jika disertai infeksi didaptkan demam/menggigil.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; Pemeriksaan sedimen urine menunjukan adanya lekosit, hematuria dan  dijumpai kristal-kristal pembentuk batu. Pemeriksaan kultur urine  mungkin menunjukkan adanya adanya pertumbuhan kuman pemecah urea.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; Pemeriksaan faal ginjal bertujuan mencari kemungkinan terjadinya  penurunan fungsi ginjal dan untuk mempersipkan pasien menjalani  pemeriksaan foto PIV. Perlu juga diperiksa kadar elektrolit yang diduga  sebagai penyebab timbulnya batu salran kemih (kadar kalsium, oksalat,  fosfat maupun urat dalam darah dan urine). &lt;/span&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; Pembuatan foto polos abdomen bertujuan melihat kemungkinan adanya batu  radio-opak dan paling sering dijumpai di atara jenis batu lain. Batu  asam urat bersifat non opak (radio-lusen).&lt;/span&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; Pemeriksaan pieolografi intra vena (PIV) bertujuan menilai keadaan  anatomi dan fungsi ginjal. Selain itu PIV dapat mendeteksi adanya batu  semi opak atau batu non opak yang tidak tampak pada foto polos abdomen.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; Ultrasongrafi dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan  PIV seperti pada keadaan alergi zat kontras, faal ginjal menurun dan  pada pregnansi. Pemeriksaan ini dapat menilai adanya batu di ginjal atau  buli-buli (tampak sebagai echoic shadow), hidronefrosis, pionefrosis  atau pengkerutan ginjal.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;b style="color: black;"&gt;Penatalaksanaan Urolithiasis/Batu Ginjal &lt;/b&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; Batu yang sudah menimbulkan masalah pada saluran kemih harus segera  dikeluarkan agar tidak menimbulkan penyulit yang lebih berat. Indikasi  untuk melakukan tindakan pada batu saluran kemih adalah telah terjadinya  obstruksi, infeksi atau indikasi sosial. Batu dapat dikeluarkan melalui  prosedur medikamentosa, dipecahkan dengan ESWL, melalui tindakan  endo-urologi, bedah laparoskopi atau pembedahan terbuka.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;b style="color: black;"&gt;Pencegahan Urolithiasis/Batu Ginjal&lt;/b&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; Setelah batu dikelurkan, tindak lanjut yang tidak kalah pentingnya  adalahupaya mencegah timbulnya kekambuhan. Angka kekambuhan batu saluran  kemih rata-rata 7%/tahun atau kambuh lebih dari 50% dalam 10 tahun.  Prinsip pencegahan didasarkan pada kandungan unsur penyusun batu yang  telah diangkat. Secara umum, tindakan pencegahan yang perlu dilakukan  adalah:&lt;/span&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;ol style="color: black;"&gt;&lt;li&gt;Menghindari dehidrasi dengan minum cukup, upayakan produksi urine 2-3 liter per hari&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Diet rendah zat/komponen pembentuk batu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Aktivitas harian yang cukup&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Medikamentosa&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Beberapa diet yang dianjurkan untuk untuk mengurangi kekambuhan adalah:&lt;/span&gt;&lt;br style="color: black;" /&gt; &lt;ol style="color: black;"&gt;&lt;li&gt;Rendah protein, karena protein akan memacu ekskresi kalsium urine dan menyebabkan suasana urine menjadi lebih asam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rendah oksalat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rendah garam karena natiuresis akan memacu timbulnya hiperkalsiuria&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rendah purin&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rendah kalsium tidak dianjurkan kecuali pada hiperkalsiuria absorbtif type II&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-2870977053360800705?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/2870977053360800705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2011/01/urolithiasis-batu-ginjal.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/2870977053360800705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/2870977053360800705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2011/01/urolithiasis-batu-ginjal.html' title='UROLITHIASIS / BATU GINJAL'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-3105723685787904970</id><published>2010-12-21T01:36:00.001-08:00</published><updated>2010-12-21T01:36:12.265-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OBAT SARAF'/><title type='text'>NEUROBION</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span class="textCilik"&gt;Indikasi:&lt;br /&gt;Untuk pencegahan dan pengobatan  penyakit karena kekurangan vitamin B1, B6,dan B12 seperti beri-beri,  neuritis perifer, neuralgia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontra Indikasi:&lt;br /&gt;N/A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposisi: &lt;br /&gt;1 tablet salut gula mengandung: &lt;br /&gt;Vitamin B1 (Thiamine mononitrate) 100 mg &lt;br /&gt;Vitamin B6 (Pyridoxol Hydrochloride) 200 mg &lt;br /&gt;Vitamin B12 200 mcg &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takaran Pemakaian: &lt;br /&gt;1 tablet salut gula sehari atau sesuai petunjuk dokter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Kerja Obat: &lt;br /&gt;Thiamine penting untuk metabolisma kabohidrat, dalam tubuh  dikonversi menjadi bentuk aktifnya thiamine pirofosfat yang merupakan  koenzim pada reaksi dekarboksilasi asam a-keto. Pyridoxol HCI di dalam  tubuh di ubah menjadi pyridoxol fosfat, yang merupakan koenzim reaksi  karbksilasi dan transaminasi, berfungsi terutama dalam metabolisme  protein dan asam amino.vitamin B12 diperlukan dalam sintesis asam  nukleat, dan mielin, dangan demikian mempengaruhi pematangan sel dan  memelihara keutuhan jaringan saraf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyimpanan: &lt;br /&gt;Simpan di tempat yang kering, suhu di bawah 25 derajat C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis: Tablet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produsen: PT Merck Tbk&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-3105723685787904970?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/3105723685787904970/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/12/neurobion.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/3105723685787904970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/3105723685787904970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/12/neurobion.html' title='NEUROBION'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-5137929374300752620</id><published>2010-12-21T01:35:00.000-08:00</published><updated>2010-12-21T01:35:21.640-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OBAT SARAF'/><title type='text'>ASAM MEFENAMAT</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="textCilik"&gt;Indikasi:&lt;br /&gt;Dapat menghilangkan nyeri akut dan  kronik, ringan sampai sedang sehubungan dengan sakit kepala, sakit gigi,  dismenore primer, termasuk nyeri karena trauma, nyeri sendi, nyeri  otot, nyeri sehabis operasi, nyeri pada persalinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontra Indikasi:&lt;br /&gt;N/A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposisi: &lt;br /&gt;Tiap tablet salut selaput mengandung asam mefenamat 500 mg. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosis: &lt;br /&gt;Digunakan melalui mulut (per oral), sebaiknya sewaktu makan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa dan anak di atas 14 tahun : &lt;br /&gt;Dosis awal yang dianjurkan 500 mg kemudian dilanjutkan 250 mg tiap 6 jam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dismenore &lt;br /&gt;500 mg 3 kali sehari, diberikan pada saat mulai menstruasi ataupun sakit dan dilanjutkan selama 2-3 hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menoragia &lt;br /&gt;500 mg 3 kali sehari, diberikan pada saat mulai menstruasi dan dilanjutkan selama 5 hari atau sampai perdarahan berhenti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek samping: &lt;br /&gt;Dapat terjadi gangguan saluran cerna, antara lain iritasi lambung,  kolik usus, mual, muntah dan diare, rasa mengantuk, pusing, sakit  kepala, penglihatan kabur, vertigo, dispepsia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penggunaan terus-menerus dengan dosis 2000 mg atau lebih sehari dapat mengakibatkan agranulositosis dan anemia hemolitik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontraindikasi: &lt;br /&gt;Pada penderita tukak lambung, radang usus, gangguan ginjal, asma dan hipersensitif terhadap asam mefenamat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemakaian secara hati-hati pada penderita penyakit ginjal atau hati dan peradangan saluran cerna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaksi Obat: &lt;br /&gt;Obat-obat anti koagulan oral seperti warfarin; asetosal (aspirin) dan insulin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Penyimpanan: &lt;br /&gt;Simpan di tempat sejuk dan kering. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemasan: &lt;br /&gt;Kotak isi 100&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis: Tablet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produsen: PT Indofarma&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-5137929374300752620?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/5137929374300752620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/12/asam-mefenamat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/5137929374300752620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/5137929374300752620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/12/asam-mefenamat.html' title='ASAM MEFENAMAT'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-4112099238442199988</id><published>2010-12-13T05:02:00.001-08:00</published><updated>2010-12-13T05:02:51.415-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MASALAH SISTEM INDRA dan SYARAF'/><title type='text'>OTOSKLEROSIS</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-fareast-language:EN-US;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;div style="margin-left: 21.3pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Definisi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Otosklerosis adalah penyakit primer dari tulang-tulang pendengaran dan kapsul tulang labirin. Proses ini menghasilkan tulang yang lebih lunak dan berkurang densitasnya (otospongiosis). Gangguan pendengaran disebabkan oleh pertumbuhan abnormal dari spongy bone-like tissue yang menghambat tulang- tulang di telinga tengah, terutama stapes untuk bergerak dengan baik. Pertumbuhan tulang yang abnormal ini sering terjadi di depan dari fenestra ovale, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Normalnya, stapes yang merupakan tulang terkecil pada tubuh bergetar secara bebas mengikuti transmisi suara ke telinga dalam. Ketika tulang ini menjadi terfiksasi pada tulang sekitarnya, getaran suara akan dihambat menuju ke telinga dalam sehingga fungsi pendengaran terganggu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Etiologi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Penyebab dari otosklerosis masih belum diketahui dengan jelas. Pendapat umum menyatakan bahwa otosklerosis adalah diturunkan secara autosomal dominan. Ada juga bukti ilmiah yang menyatakan adanya infeksi virus measles yang mempengaruhi otosklerosis. Hipotesis terbaru menyatakan bahwa otosklerosis memerlukan kombinasi dari spesifik gen dengan pemaparan dari virus measles sehingga dapat terlihat pengaruhnya dalam gangguan pendengaran. Beberapa berpendapat bahwa infeksi kronik measles di tulang merupakan predisposisi pasien untuk terkena otosklerosis. Materi virus dapat ditemukan di osteoblas pada lesi sklerotik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;c.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Epidemiologi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ras&lt;br /&gt;Beberapa studi menunjukan bahwa otosklerosis umumnya terjadi pada ras Kaukasian. Sekitar setengahnya terjadi pada populasi oriental. Dan sangat jarang pada orang negro dan suku Indian Amerika. Populasi multiras yang termasuk Kaukasian memiliki resiko peningkatan insiden terhadap otosklerosis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Faktor Keturunan&lt;br /&gt;Otosklerosis biasanya dideskripsikan sebagai penyakit yang diturunkan secara autosomal dominant dengan penetrasi yang tidak lengkap (hanya berkisar 40%). Derajat dari penetrasi berhubungan dengan distribusi dari lesi otosklerotik lesi pada kapsul tulang labirin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Gender&lt;br /&gt;Otosklerosis sering dilaporkan 2 kali lebih banyak pada wanita disbanding pria. Bagaimanapun, perkiraan terbaru sekarang mendekati ratio antara pria:wanita 1:1. Penyakit ini biasanya diturunkan tanpa pengaruh sex- linked, jadi rasio 1:1 dapat terjadi. Ada beberapa bukti yang menyatakan bahwa perubahan hormonal selama kehamilan dapat menstimulasi fase aktif dari otosklerosis, yang menyebabkan peningkatan gambaran klinis kejadian otosklerosis pada wanita. Onset klinik selama kehamilan telah dilaporkan sebanyak 10% dan 17%. Risiko dari peningkatan gangguan pendengaran selama kehamilan atau pemakaian oral kontrasepsi pada wanita dengan otosklerosis adalah sebesar 25 %. Penjelasan lain yang mungkin akan peningkatan prevalensi otosklerosis pada wanita adalah bilateral otosklerosis tampaknya lebih sering pada wanita dibanding pria (89% dan 65 %). Memiliki dua telinga yang terkena kelihatan akan meningkatkan kunjungan ke klinik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sejarah keluarga&lt;br /&gt;Sekitar 60% dari pasien dengan klinikal otosklerosis dilaporkan memiliki keluarga dengan riwayat yang sama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Usia&lt;br /&gt;Insiden dari klinikal otosklerosis meningkat sesuai bertambahnya umur. Evidence mikroskopik terhadap otospongiosis ditemukan pada autopsi 0,6 % individu yang berumur kurang dari 5 tahun. Pada pertengahan usia, insiden ditemukannya adalah 10 % pada orang kulit putih dan sekitar 20% pada wanita berkulit putih. Baik aktif atau tidak fase penyakitnya, terjadi pada semua umur, tetapi aktivitas yang lebih tinggi lebih sering terjadi pada mereka yang berumur kurang dari 50 tahun. Dan aktivitas yang paling rendah biasanya setelah umur lebih dari 70 tahun. Onset klinikal berkisar antara umur 15-35 tahun, tetapi manifestasi penyakit itu sendiri dapat terjadi paling awal sekitar umur 6 atau 7 tahun, dan paling lambat terjadi pada pertengahan 50-an.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Predileksi&lt;br /&gt;Menurut data yang dikumpulkan dari studi terhadap tulang temporal, tempat yang paling sering terkena Otosklerosis adalah fissula ante fenestram yang terletak di anterior jendela oval (80%-90%). Tahun 1985, Schuknecht dan Barber melaporkan area dari lesi otosklerosis yaitu:&lt;br /&gt;1. tepi dari tempat beradanya fenestra rotundum&lt;br /&gt;2. dinding medial bagian apeks dari koklea&lt;br /&gt;3. area posterior dari duktus koklearis&lt;br /&gt;4. region yang berbatasan dengan kanalis semisirkularis&lt;br /&gt;5. kaki dari stapes sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;d.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Patofisiologi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Patofisiologi dari otosklerosis sangat kompleks. Kunci utama lesi dari otosklerosis adalah adanya multifokal area sklerosis diantara tulang endokondral temporal. Ada 2 fase patologik yang dapat diidentifikasi dari penyakit ini yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Fase awal otospongiotic&lt;br /&gt;Gambaran histologis: terdiri dari histiosit, osteoblas, osteosit yang merupakan grup sel paling aktif. Osteosit mulai masuk ke pusat tulang disekitar pembuluh darah sehingga menyebabkan pelebaran lumen pembuluh darah dan dilatasi dari sirkulasi. Perubahan ini dapat terlihat sebagai gambaran kemerahan pada membran timpani. &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Schwartze sign&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; berhubungan dengan peningkatan vascular dari lesi yang mencapai daerah permukaan periosteal. Dengan keterlibatan osteosit yang semakin banyak, daerah ini menjadi kaya akan substansi dasar amorf dan kekurangan struktur kolagen yang matur dan menghasilkan pembentukkan spongy bone . Penemuan histologik ini dengan pewarnaan Hematoksilin dan Eosin dikenal dengan nama &lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Blue Mantles of Manasse&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Fase akhir otosklerotik&lt;br /&gt;Fase otosklerotik dimulai ketika osteoklas secara perlahan diganti oleh osteoblas dan tulang sklerotik yang lunak dideposit pada area resorpsi sebelumnya. Ketika proses ini terjadi pada kaki stapes akan menyebabkan fiksasi kaki stapes pada fenestra ovale sehingga pergerakan stapes terganggu dan oleh sebab itu transmisi suara ke koklear terhalang. Hasil akhirnya adalah terjadinya tuli konduktif&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jika otosklerosis hanya melibatkan kaki stapes, hanya sedikit fiksasi yang terjadi. Hal seperti ini dinamakan &lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;biscuit footplate&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;. Terjadinya tuli sensorineural pada otosklerosis dihubungkan dengan kemungkinan dilepaskannya hasil metabolisme yang toksik dari luka neuroepitel, pembuluh darah yang terdekat, hubungan langsung dengan lesi otosklerotik ke telinga dalam. Semuanya itu menyebabkan perubahan konsentrasi elektrolit dan mekanisme dari membran basal. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kebanyakan kasus dari otosklerosis menyebabkan tuli konduktif atau campur. Untuk kasus dari sensorineural murni dari otosklerosis itu sendiri &lt;u&gt;masih kontroversial&lt;/u&gt;. Kasus sensorineural murni karena otosklerosis dikemukakan oleh Shambaugh Sr. tahun 1903. Tahun 1967, Shambaugh Jr. menyatakan 7 kriteria untuk mengidentifikasi pasien yang menderita tuli sensorineural akibat koklear otosklerosis:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tanda Schwartze yang positif pada salah satu/ke dua telinga&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Adanya keluarga yang mempunyai riwayat otosklerosis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tuli sensorineural progressive pendengaran secara simetris, dengan fiksasi stapes pada salah satu telinga&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Secara tidak biasa adanya diskriminasi terhadap ambang dengar untuk tuli sensorineural murni&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;5.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Onset kehilangan pendengaran pada usia yang sama terjadinya fiksasi stapes dan berjalan tanpa etiologi lain yang diketahui&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;6.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;CT-scan pada pasien dengan satu atau lebih kriteria yang menunjukan demineralisasi dari kapsul koklear&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;7.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada timpanometri ada fenomena on-off.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;e.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Diagnosis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Anamnesa&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;: kehilangan pendengaran dan tinnitus adalah gejala yang utama. Penurunan pendengaran berlangsung secara progressif dengan angka kejadian bervariasi, tanpa adanya penyebab trauma atau infeksi.. Tinnitus merupakan variasi tersering sebanyak 75 % dan biasanya berlangsung menjadi lebih parah seiring dengan derajat tingkat penurunan pendengaran. Umumnya, dizziness dapat terjadi. Pasien mungkin mendeskripsikan seperti vertigo, pusing yang berputar, mual dan muntah. Dizziness yang hanya diasosiasikan dengan otosklerosis terkadang menunjukan proses otosklerosis pada telinga dalam. Adanya dizziness ini sulit untuk dibedakan dengan kausa lain seperti sindrom Meniere’s. Pada 60% kasus, riwayat keluarga pasien yang terkena otosklerosis dapat ditemukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pemeriksaan Fisik&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;: Membran timpani biasanya normal pada sebagian besar kasus. Hanya sekitar 10% yang menunjukan Schwartze Sign. Pemeriksaan garputala menunjukan kesan tuli konduktif. ( Rinne negatif ) Pada fase awal dari penyakit tuli konduktif didapat pada frekuensi 256 Hz. Adanya proses fiksasi stapes akan memberikan kesan pada frekuensi 512 Hz. Akhirnya pada frekuensi 1024 Hz akan memberi gambaran hantaran tulang lebih kuat daripada hantaran udara. Tes Weber menunjukan lateralisasi ke arah telinga yang memiliki derajat conduting hearing loss lebih besar. Pasien juga akan merasa lebih baik dalam ruangan yang bising (Paracusis Willisi).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pemeriksaan Penunjang&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;: Kunci penelusuran secara objektif dari otosklerosis didapat dari audiogram. Gambaran biasanya konduktif, tetapi dapat juga mixed atau sensorineural. Tanda khas dari otosklerosis adalah pelebaran air-bone gap secara perlahan yang biasanya dimulai dari frekuensi rendah. Adanya Carhart’s Notch adalah diagnosis secara abstrak dari otosklerosis , meskipun dapat juga terlihat pada gangguan konduktif lainnya. Carhart’s notch adalah penurunan dari konduksi tulang sebanyak 10-30 db pada frekuensi 2000Hz, diinduksi oleh adanya fiksasi stapes. Carhart’s notch akan menghilang setelah stapedektomy. Maksimal conductive hearing loss adalah 50 db untuk otosklerosis, kecuali adanya kombinasi dengan diskontinuitas dari tulang pendengaran. Speech discrimination biasanya tetap normal. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada masa pre klinik dari otosklerosis, tympanometri mungkin menunjukan “on-off” effect, dimana ada penurunan abnormal dari impedance pada awal dan akhir eliciting signal. Ketika penyakit berlanjut, adanya on-off ini memberi gambaran dari absennya reflek stapedial. Gambaran timpanogram biasanya adalah tipe A dengan compliance yang rendah. Walaupun jarang, gambaran tersebut dapat juga berbentuk kurva yang memendek yang dirujuk ke pola tipe As. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Fine – cut CT scan dapat mengidentifikasi pasien dengan vestibular atau koklear otosklerosis, walaupun keakuratannya masih dipertanyakan. CT dapat memperlihatkan gambaran tulang-tulang pendengaran, koklea dan vestibular organ. Adanya area radiolusen didalam dan sekitar koklea dapat ditemukan pada awal penyakit ini, dan gambaran diffuse sclerosis pada kasus yang lebih lanjut. Hasil yang negative bukan berarti non diagnostik karena beberapa pasien yang menderita penyakit ini mempunyai kemampuan dibawah dari metode CT paling canggih sekali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;f.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Diagnosis Banding&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Otosklerosis terkadang sulit untuk dibedakan dengan penyakit lain yang mengenai rangkaian tulang-tulang pendengaran atau mobilitas membran timpani. Malahan, diagnosis final sering ditunda sampai saat bedah eksplorasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Fiksasi kepala malleus, menyebabkan gangguan konduktif yang serupa dan dapat terjadi pada konjugasi dari fiksasi stapes. Inspeksi menyeluruh terhadap seluruh tulang adalah penting dalam operasi stapes untuk menghindari adanya lesi yang terlewatkan seperti itu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Congenital fixation of stapes, dapat terjadi karena abnormalitas dari telinga tengah dan harus dipertimbangkan pada kasus gangguan pendengaran yang stabil semenjak kecil. Congenital stapes fixation dapat pula terjadi pada persambungan dengan abnormalitas: membran timpani yang kecil, partial meatal atresia atau manubrium yang memendek&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Otitis Media Sekretoria Kronis, dengan otoskop dapat menyerupai otosklerosis, tetapi timpanometri dapat mengindikasi adanya cairan di telinga tengah pada otitis media&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Timpanosklerosis, dapat menimpa satu atau lebih tulang pendengaran. Gangguan konduktif mungkin sama dengan yang terlihat pada otosklerosis. Adanya riwayat infeksi, penemuan yang diasosisasikan dengan myringosklerosis dan penurunan pendengaran yang stabil dibanding progressif adalah tipikal untuk timpanosklerosis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;5.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Osteogenesis imperfecta (van der Hoeve – de Kleyn Syndrome), adalah kondisi autosomal dominan dimana terdapat defek dari aktivitas osteoblast yang menghasilkan tulang yang rapuh dan bersklera biru. Sebagai tanbahan, terdapat fraktur tulang multiple dan sekitar setengah dari pasien ini memiliki fiksasi stapes. Respon jangka pendek dari operasi stapes pada pasien ini sama dengan yang terlihat pada otosklerosis. Tetapi progresif sensorineural hearing loss post operasi lebih sering terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;g.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Penatalaksanaan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;90% pasien hanya dengan bukti histologis dari otosklerosis adalah simptomatik karena lesi barlangsung tanpa fiksasi stapes atau gangguan koklear. Pada pasien yang asimptomatik ini, penurunan pendengaran progressif secara konduktif dan sensorineural biasanya dimulai pada usia 20. Penyakit akan berkembang lebih cepat tergantung pada faktor lingkungan seperti kehamilan. Gangguan pendengaran akan berhenti stabil maksimal pada 50-60 db.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Amplifikasi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Alat Bantu dengar baik secara unilateral atau bilateral dapat merupakan terapi yang efektif. Beberapa pasien yang bukan merupakan kandidat yang cocok untuk operasi dapat menggunakan alat bantu dengar ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Terapi Medikamentosa&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tahun 1923 Escot adalah orang pertama yang menemukan kalsium florida untuk pengobatan otosklerosis. Hal ini diperkuat oleh Shambough yang memprediksi stabilasi dari lesi otosklerotik dengan penggunaan sodium florida. Ion florida membuat komplek flourapatit. Dosis dari sodium florida adalah 20-120 mg/hari. Brooks menyarankan penggunaan florida yang dikombinasi dengan 400 U vitamin D dan 10 mg Calcium Carbonate berdasar teori bahwa vit D dan CaCO3 akan memperlambat lesi dari otosklerosis. Efek samping dapat menimbulakan mual dan muntah tetapi dapat diatasi dengan menguarangi dosis atau menggunakan enteric-coated tablets. Dengan menggunakan regimen ini, sekitar 50 % menunjukan symptom yang tidak memburuk, sekitar 30 % menunjukan perbaikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Terapi Bedah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pembedahan akan membutuhkan penggantian seluruh atau sebagian dari fiksasi stapes.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Seleksi pasien&lt;br /&gt;Kandidat utama stapedectomy adalah yang mempunyai kehilangan pendengaran dan menganggu secara sosial, yang dikonfirmasi dengan garputala dan audiometric menunjukan tuli konduktif atau campur. Speech discrimination harus baik. Secara umum, pasien dengan penurunan pendengaran lebih dari 40 db dan Bone conduction lebih baik dari Air Conduction pada pemeriksaan garputala akan memperoleh keuntungan paling maksimal dari operasi. Pasien harus mempunyai resiko ana&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;stesi yang minimal dan tidak memiliki kontraindikasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Indikasi Bedah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tipe otosklerosis oval window dengan berbagai variasi derajat fiksasi stapes.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Otosklerosis atau fiksasi ligamen anularis oval window pada otitis media kronis (sebagai tahapan prosedur&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Osteogenesis imperfekta&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;beberapa keadaan anomali kongenital&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;5.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;timpanosklerosis di mana pengangkatan stapes diindikasikan (sebagai tahapan operasi)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;h.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Prognosis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pemeriksaan garpu tala preoperative menentukan keberhasilan dari tindakan bedah, diikuti dengan alat-alat bedah dan teknik pembedahan yang digunakan ikut menentukan prognosis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-4112099238442199988?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/4112099238442199988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/12/otosklerosis.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/4112099238442199988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/4112099238442199988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/12/otosklerosis.html' title='OTOSKLEROSIS'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-2212216514688669234</id><published>2010-11-29T03:09:00.000-08:00</published><updated>2010-11-29T03:09:37.062-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MASALAH SISTEM INDRA dan SYARAF'/><title type='text'>KATARAK</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;DEFINISI&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan  lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan lensa),  denaturasi protein lensa atau dapat juga akibat dari kedua-duanya yang  biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progesif. (Mansjoer,2000;62)&lt;br /&gt;Kekeruhan ini terjadi akibat gangguan metabolisme normal lensa yang  dapat timbul pada berbagai usia tertentu. Katarak dapat terjadi pada  saat perkembangan serat lensa masih berlangsung atau sesudah serat lensa  berhenti dalam perkembangannya dan telah memulai proses degenerasi.  Biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progresif. Katarak  mengakibatkan pengurangan visus oleh suatu tabir/layar yang diturunkan  di dalam mata, seperti melihat air terjun. Penderita tidak bisa melihat  dengan jelas karena dengan lensa yang keruh cahaya sulit mencapai retina  dan akan menghasilkan bayangan yang kabur pada retina. Jumlah dan  bentuk kekeruhan pada setiap lensa mata dapat bervariasi.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;ETIOLOGI&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;1. Ketuaan ( Katarak Senilis )&lt;br /&gt;Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau  bertambahnya usia seseorang. Usia rata-rata terjadinya katarak adalah  pada usia 60 tahun keatas.&lt;br /&gt;2. Trauma&lt;br /&gt;Cedera mata dapat mengenai semua umur seperti pukulan keras, tusukan  benda, terpotong, panas yang tinggi, dan bahan kimia dapat merusak lensa  mata dan keadaan ini disebut katarak traumatik.&lt;br /&gt;3. Penyakit mata lain ( Uveitis )&lt;br /&gt;4. Penyakit sistemik ( Diabetes Mellitus )&lt;br /&gt;5. Defek kongenital&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Salah satu kelainan herediter sebagai akibat dari infeksi virus prenatal  seperti German measles atau rubella. Katarak kongenitalis bisa  merupakan penyakit keturunan ( diwariskan secara autosomal domonan )  atau bisa disebabkan oleh :&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Infeksi congenital, seperti campak jerman ( german measles )&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;Berhubungan dengan penyakit metabolik, seperti galaktosemia (kadar gula yang meningkat)&lt;/span&gt;.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Factor resiko terjadinya katarak kongenitalis adalah :&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Penyakit metabolik yang diturunkan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Riwayat katarak dalam keluarga&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Infeksi virus pada ibu ketika bayi masih dalam kandungan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Penyebab katarak lainnya meliputi :&lt;/div&gt;&lt;ul class="unIndentedList" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;li&gt; Faktor keturunan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Cacat bawaan sejak lahir.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Masalah kesehatan, misalnya diabetes.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Penggunaan obat tertentu, khususnya steroid.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; gangguan metabolisme seperti DM (Diabetus Melitus)&lt;/li&gt;&lt;li&gt; gangguan pertumbuhan,&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Mata tanpa pelindung terkena sinar matahari dalam waktu yang cukup lama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Rokok dan Alkohol&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Operasi mata sebelumnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Faktor-faktor lainnya yang belum diketahui.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Faktor yang mempengaruhi terjadinya katarak adalah:&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kadar kalsium yang rendah&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Diabetes mellitus&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Pemakaian kortikosteroid jangka panjang&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Berbagai penyakit peradangan dan penyakit metabolik&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Faktor lingkungan ( trauma, penyinaran, sinar ultraviolet )&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;KLASIFIKASI&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Berdasarkan garis besar katarak dapat diklasifikasikan dalam golongan berikut :&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Katarak perkembangan ( developmental ) dan degenerative.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Katarak trauma : katarak yang terjadi akibat trauma pada lensa mata.&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Katarak komplikata (sekunder) : penyakit infeksi tertentu dan  penyakit seperti DM dapat mengakibatkan timbulnya kekeruhan pada lensa  yang akan menimbulkan katarak komplikata.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Berdasarkan usia pasien, katarak  dapat di bagi dalam :&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Katarak kongeniatal : katarak yang di temukan pada bayi ketika lahir (sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Katarak juvenil : katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun dan di bawah usia 40 tahun&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Katarak presenil, yaitu katarak sesudah usia 30-40 tahun&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Katarak senilis : katarak yang terjadi pada usia lebih dari 40 tahun.  Jenis katarak ini merupakan proses degeneratif ( kemunduran ) dan  yang  paling sering ditemukan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Adapun tahapan katarak senilis adalah :&lt;br /&gt;a) Katarak insipien : pada stadium insipien (awal) kekeruhan lensa mata  masih sangat minimal, bahkan tidak terlihat tanpa menggunakan alat  periksa. Kekeruhan lensa berbentuk bercak-bercak kekeruhan yang tidak  teratur.penderita pada stadium ini seringkali tidak merasakan keluhan  atau gangguan pada penglihatanya sehingga cenderung diabaikan.&lt;br /&gt;b) Katarak immataur  : lensa masih memiliki bagian yang jernih&lt;br /&gt;c) Katarak matur : Pada stadium ini proses kekeruhan lensa terus  berlangsung dan bertambah sampai menyeluruh pada bagian lensa sehingga  keluhan yang sering disampaikan oleh penderita katarak pada saat ini  adalah kesulitan saat membaca, penglihatan menjadi kabur, dan kesulitan  melakukan aktifitas sehari-hari. Selain keluhan tesebut ada beberapa  gejala yang dialami oleh penderita katarak, seperti :&lt;br /&gt;1) Penglihatan berkabut atau justru terlalu silau saat melihat cahaya.&lt;br /&gt;2) Warna terlihat pudar.&lt;br /&gt;3) Sulit melihat saat malam hari.&lt;br /&gt;4) Penglihatan ganda saat melihat satu benda dengan satu mata. Gejala ini terjadi saat katarak bertambah luas.&lt;br /&gt;d) Katarak hipermatur : terdapat bagian permukaan lensa yang sudah  merembes melalui kapsul lensa dan bisa menyebabkan perdangan pada  struktur mata yang lainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;MANIFESTASI KLINIS&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;Katarak didiagnosis terutama dengan gejala subjektif. Biasanya klien  melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta gangguan  fungsional sampai derajat tertentu yang diakibatkan oleh kehilangan  penglihatan tadi. Temuan objektif biasanya meliputi pengembunann seperti  mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan  oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan  dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada  retina. Hasilnya adalah pandangan menjadi kabur atau redup, menyilaukan   dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari. Pupil yang  normalnya hitam akan tampak abu-abu atau putih. Pengelihatan seakan-akan  melihat asap dan pupil mata seakan akan bertambah putih. Pada akhirnya  apabila katarak telah matang pupil akan tampak benar-benar putih  ,sehingga refleks cahaya pada mata menjadi negatif.&lt;br /&gt;Katarak biasanya terjadi bertahap selama bertahun-tahun dan ketika  katarak sudah sangat memburuk lensa yang lebih kuat pun tidak akan mampu  memperbaiki penglihatan. Orang dengan katarak secara khas selalu  mencari cara untuk menghindari silau yang berasal dari cahaya yang salah  arah. Misalnya dengan mengenkan topi berkelapak lebar atau kaca mata  hitam dan menurunkan pelindung cahaya saat mengendarai mobil pada siang  hari.&lt;br /&gt;Gejala umum gangguan katarak meliputi :&lt;/div&gt;&lt;ul class="unIndentedList" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;li&gt; Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Peka terhadap sinar atau cahaya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Dapat melihat dobel pada satu mata (diplobia).&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Gangguan penglihatan bisa berupa :&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kesulitan melihat pada malam hari&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Melihat lingkaran di sekeliling cahaya atau cahaya terasa menyilaukan mata&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Penurunan ketajaman penglihatan ( bahkan pada siang hari )&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Gejala lainya adalah :&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sering berganti kaca mata&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Penglihatan sering pada salah satu mata.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kadang katarak menyebabkan pembengkakan lensa dan peningkatan tekanan di  dalam mata ( glukoma )  yang bisa menimbulkan rasa nyeri.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;PATOFISIOLOGI&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih,  transparan, berbentuk kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang  besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral  terdapat nukleus, di perifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya  adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambah usia, nucleus  mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Di sekitar opasitas  terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nukleus.  Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling  bermakna nampak seperti kristal salju pada jendela.&lt;br /&gt;Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya  transparansi, perubahan pada serabut halus multiple (zunula) yang  memanjang dari badan silier ke sekitar daerah di luar lensa misalnya  dapat menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Perubahan Kimia dalam  protein lensa dapat menyebabkan koagulasi sehingga mengabutkan pandangan  dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori  menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks  air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan  mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim  mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim  akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan  pasien yang menderita katarak.&lt;br /&gt;Katarak biasanya terjadi bilateral, namun mempunyai kecepatan yang  berbeda. Dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistematis,  seperti DM, namun sebenarnya merupakan konsekuensi dari proses penuaan  yang normal. Kebanyakan katarak berkembang secara kronik dan matang  ketika orang memasuki dekade ke tujuh. Katarak dapat bersifat kongenital  dan harus diidentifikasi awal karena bila tidak didiagnosa dapat  menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen. Faktor yang  paling sering yang berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi  sinar ultraviolet B, obat-obatan, alcohol, merokok, DM, dan asupan  vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka waktu lama.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada penderita katarak adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1) Kartu mata snellen /mesin telebinokuler : mungkin terganggu dengan  kerusakan kornea, lensa, akueus/vitreus humor, kesalahan refraksi,  penyakit sistem saraf, penglihatan ke retina.&lt;br /&gt;2) Lapang Penglihatan : penurunan mungkin karena massa tumor, karotis, glukoma.&lt;br /&gt;3) Pengukuran Tonografi : TIO (12 – 25 mmHg)&lt;br /&gt;4) Pengukuran Gonioskopi membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup glukoma.&lt;br /&gt;5) Tes Provokatif : menentukan adanya/ tipe glukoma&lt;br /&gt;6) Oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, atrofi lempeng optik, papiledema, perdarahan.&lt;br /&gt;7) Darah lengkap, LED : menunjukkan anemi sistemik / infeksi.&lt;br /&gt;8) EKG, kolesterol serum, lipid&lt;br /&gt;9) Tes toleransi glukosa : kontrol DM&lt;br /&gt;10)  Keratometri.&lt;br /&gt;11)  Pemeriksaan lampu slit.&lt;br /&gt;12)  A-scan ultrasound (echography).&lt;br /&gt;13)  Penghitungan sel endotel penting u/ fakoemulsifikasi &amp;amp; implantasi.&lt;br /&gt;14)  USG mata sebagai persiapan untuk pembedahan katarak. &lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;PENATALAKSANAAN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;A. Pencegahan&lt;br /&gt;Disarankan agar banyak mengkonsumsi buah-buahan yang banyak mengandung vit.C ,vit.A dan vit E.&lt;br /&gt;B. Penatalaksanaan medis&lt;br /&gt;Bila penglihatan dapat dikoreksi dengan dilator pupil dan refraksi kuat  sampai ke titik di mana pasien melakukan aktivitas sehari-hari, maka  penanganan biasanya konservatif.&lt;br /&gt;Pembedahan diindikasikan bagi mereka yang memerlukan penglihatan akut  untuk bekerja ataupun keamanan. Biasanya diindikasikan bila koreksi  tajam penglihatan yang terbaik yang dapat dicapai adalah 20/50 atau  lebih buruk lagi bila ketajaman pandang mempengaruhi keamanan atau  kualitas hidup, atau bila visualisasi segmen posterior sangat perlu  untuk mengevaluasi perkembangan berbagai penyakit retina atau saraf  optikus, seperti diabetes dan glaukoma.&lt;br /&gt;Pembedahan katarak terdiri dari pengangkatan lensa dan menggantinya dengan lensa buatan.&lt;br /&gt;1) Pengangkatan lensa&lt;br /&gt;Ada dua macam teknik pembedahan ynag bias digunakan untuk mengangkat lensa:&lt;br /&gt;- Pembedahan ekstrakapsuler : lensa diangkat dengan meninggalkan kapsulnya.&lt;br /&gt;- Pembedahan intrakapsuler : pengangkatan lensa beserta kapsulnya.  Namun, saat ini pembedahan intrakapsuler sudah jarang dilakukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;2) Penggantian lensa&lt;br /&gt;Penderita yang telah menjalani pembedahan katrak biasanya akan  mendapatkan lensa buatan sebagai pengganti lensa yang teleh diangkat.  Lensa buatan ini merupakan lempengan plastik yang disebut lensa  intraokuler dan biasanya lensa intraokuler dimasukkan ke dalam kapsul  lensa di dalam mata.&lt;br /&gt;Untuk mencegah infeksi, mengurangi peradangan, dan mempercepat  penyembuhan selama beberapa minggu setelah pembedahan di berikan tetes  mata atau salep. Untuk melindungi mata dari cedera, penderita sebaiknya  menggunakan kaca mata atau pelindung mata yang terbuat dari logam sampai  luka pembedahan benar-benar sembuh. Adapaun penatalaksanaan pada saat  post operasi antara lain :&lt;br /&gt;1. Pembatasan aktivitas, pasien yang telah melaksanakan pembedahan diperbolehkan :&lt;br /&gt;- Menonton televisi; membaca bila perlu, tapi jangan terlalu lama&lt;br /&gt;- Mengerjakan aktivitas biasa tapi dikurangi&lt;br /&gt;- Pada awal mandi waslap selanjutnya menggunakan bak mandi atau pancuran&lt;br /&gt;- Tidak boleh membungkuk pada wastafel atau bak mandi; condongkan sedikit kepala kebelakang saat mencuci rambut&lt;br /&gt;2. Tidur dengan perisai pelindung mata logam pada malam hari; mengenakan kacamata pada siang hari&lt;br /&gt;3. Ketika tidur, berbaring terlentang atau miring pada posisi mata yang tidak dioperasi, dan tidak boleh telengkup&lt;br /&gt;4. Aktivitas dengan duduk&lt;br /&gt;5. Mengenakan kacamata hitam untuk kenyamanan&lt;br /&gt;6. Berlutut atau jongkok saat mengambil sesuatu dari lantai&lt;br /&gt;7. Dihindari (paling tidak selama 1 minggu)&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tidur pada sisi yang sakit&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Menggosok mata,  menekan kelopak untuk menutup&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Mengejan saat defekasi&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Memakai sabun mendekati mata&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Mengangkat benda yang lebih dari 7 Kg&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Berhubungan seks&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Mengendarai kendaraan&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Batuk, bersin, dan muntah&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Menundukkan kepala sampai bawah pinggang, melipat lutut saja dan punggung tetap lurus untuk mengambil sesuatu dari lantai.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;KOMPLIKASI&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Penyulit yg terjadi berupa  visus tdk akan mencapai 5/5 à ambliopia sensori.&lt;br /&gt;Komplikasi yang terjadi  nistagmus dan strabismus dan bila katarak  dibiarkan maka akan mengganggu penglihatan dan akan dapat menimbulkan  komplikasi berupa Glaukoma dan Uveitis.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;PROGNOSIS&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Penderita penyakit katarak memiliki prognosis untuk menjadi lebih baik  setelah dilakukan pembedahan dan disiplin dalam mematuhi  penatalaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-2212216514688669234?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/2212216514688669234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/11/katarak.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/2212216514688669234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/2212216514688669234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/11/katarak.html' title='KATARAK'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-7481477763367646639</id><published>2010-11-25T03:24:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T03:24:30.641-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MASALAH SISTEM INDRA dan SYARAF'/><title type='text'>EPILEPSI</title><content type='html'>&lt;b&gt;Definisi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Manifestasi  gangguan otak dengan berbagai etiologi namun gejala tunggal yang khas,  yaitu serangan berkala yang disebabkan oleh lepas muatan listrik neuron  kortikal secara berlebihan. Epilepsi adalah suatu penyakit yang ditandai  dengan kecenderungan untuk mengalami kejang berulang. 2% dari penduduk  dewasa pernah mengalami kejang. Sepertiga dari kelompok tersebut  mengalami epilepsi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Etiologi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ditinjau dari penyebab epilepsi dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu :&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;epilepsi primer atau epilepsi idiopatik yang hingga      kini tidak ditemukan penyebabnya&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;epilepsi sekunder yaitu yang penyebabnya diketahui.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada  epilepsi primer tidak ditemukan kelainan pada jaringan otak. Diduga  terdapat kelainan atau gangguan keseimbangan zat kimiawi dalam sel-sel  saraf pada area jaringan otak yang abnormal.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Epilepsi  sekunder berarti bahwa gejala yang timbul ialah sekunder, atau akibat  dari adanya kelainan pada jaringan otak.Kelainan ini dapat disebabkan  karena dibawa sejak lahir atau adanya jaringan parut sebagai akibat  kerusakan otak pada waktu lahir atau pada masa perkembangan anak.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penyebab spesifik dari epilepsi sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;kelainan  yang terjadi selama perkembangan      janin/kehamilan ibu, seperti ibu  menelan obat-obat tertentu yang dapat      merusak otak janin, menglami  infeksi, minum alcohol, atau mengalami      cidera.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;kelainan  yang terjadi pada saat kelahiran, seperti      kurang oksigen yang  mengalir ke otak (hipoksia), kerusakan karena      tindakan.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;cidera kepala yang dapat menyebabkan kerusakan pada      otak &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;tumor otak merupakan penyebab epilepsy yang tidak      umum terutama pada anak-anak.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;penyumbatan pembuluh darah otak atau kelainan      pembuluh darah otak&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;radang atau infeksi pada otak dan selaput otak&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;penyakit  keturunan seperti fenilketonuria (FKU),      sclerosis tuberose dan  neurofibromatosis dapat menyebabkan kejang-kejang      yang berulang.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;kecerendungan  timbulnya epilepsy yang diturunkan. Hal      ini disebabkan karena  ambang rangsang serangan yang lebih rendah dari      normal diturunkan  pada anak.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt; Klasifikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. Serangan parsial (fokal, local), kesadaran tidak berubah, brasal dari daerah tertentu dalam otak.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;a. Kejang parsial sederhana. Ditandai dengan  kesadaran tetap baik dan dapat berupa : (a) motorik fokal yang menjalar  atau tanpa menjalar (tipe Jackson), (b) gerakan versify dengan kepala  dan leher menengokm ke salah satu sisi (c) dapat pula sebagai gejala  sensorik berupa halusinasi dan kadang berupa kelumpuhan extremitas  (paralysis todd).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;b. Kejang parsial kompleks. Didapat adanya gangguan kesadran dan gejala psikis atau ganggguan fungsi luhur.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;2. Serangan umum (generalisata), sejak awal seluiruh otak terlibat secara bersamaan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;a. Kejang tonik klonik (epilepsy grand mal). Dimulai  dengan kehilangan kesadaran disusul dengan gejala motorik secara  bilateral, dapat berupa ekstensi tonik beberapa menit disusul gerakan  klonik yang sinkron dari otot-otot tersebut. Segera sesudah kejang  berhnti pasien tertidur.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;b. Kejang mioklonik. Ditandai oleh kontraksi  otot-otot tubuh secara cepat, sinkron, dan bilateral atau kadang hanya  mengenai kelompok otot tertentu&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;c. Kejang lena (petit mal). Ditandai kehilangan  kesadaran yang berlangsung sangat singkat. Beberapa episode dapat  disertai dengan mata yang menatap kosong atau gerakan mioklonik dari  kelompok otot mata atau wajah, otomatisme, kehilangan tonus otot. Kejang  berlangsung beberapa detik sampai setengah menit.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;d. Kejang atonik ditandai dengan kehilangan tonus otot (Harsono, 2007; Price dan Wilson, 2006; Mardjono dan Sidharta, 2008).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Factor pencetus&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Faktor-faktor pencetusnya dapat berupa :&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0in;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;kuarng tidur&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;stress emosional&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;infeksi&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;obat-obat tertentu&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;alcohol&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;perubahan hormonal&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;terlalu lelah&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;fotosensitif&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Patofisiologi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dasar  serangan epilepsi ialah gangguan fungsi neuron-neuron otak dan  transmisi pada sinaps. Tiap sel hidup, termasuk neuron-neuron otak  mempunyai kegiatan listrik yang disebabkan oleh adanya potensial  membrane sel. Potensial membrane neuron bergantung pada permeabilitas  selektif membrane neuron, yakni membrane sel mudah dilalui oleh ion K  dari ruang ekstraseluler ke intraseluler dan kurang sekali oleh ion Ca,  Na dan Cl, sehingga di dalam sel terdapat kosentrasi tinggi ion K dan  kosentrasi rendah ion Ca, Na, dan Cl, sedangkan keadaan sebaliknya  terdapat diruang ekstraseluler. Perbedaan konsentrasi ion-ion inilah  yang menimbulkan potensial membran.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ujung  terminal neuron-neuron berhubungan dengan dendrite-dendrit dan  badan-badan neuron yang lain, membentuk sinaps dan merubah polarisasi  membran neuron berikutnya. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;  dua jenis neurotransmitter, yakni neurotransmitter eksitasi yang  memudahkan depolarisasi atau lepas muatan listrik dan neurotransmitter  inhibisi yang menimbulkan hiperpolarisasi sehingga sel neuron lebih  stabil dan tidak mudah melepaskan listrik. Diantara  neurotransmitter-neurotransmitter eksitasi dapat disebut  glutamate,aspartat dan asetilkolin sedangkan neurotransmitter inhibisi  yang terkenal ialah &lt;i&gt;gamma amino butyric acid &lt;/i&gt;(GABA) dan  glisin. Jika hasil pengaruh kedua jenis lepas muatan listrik dan terjadi  transmisi impuls atau rangsang. Hal ini misalnya terjadi dalam keadaan  fisiologik apabila potensial aksi tiba di neuron. Dalam keadaan  istirahat, membrane neuron mempunyai potensial listrik tertentu dan  berada dalam keadaan polarisasi. Aksi potensial akan mencetuskan  depolarisasi membrane neuron dan seluruh sel akan melepas muatan  listrik. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Oleh  berbagai factor, diantaranya keadaan patologik, dapat merubah atau  mengganggu fungsi membaran neuron sehingga membrane mudah dilampaui oleh  ion Ca dan Na dari ruangan ekstra ke intra seluler. Influks Ca akan  mencetuskan letupan depolarisasi membrane dan lepas muatan listrik  berlebihan, tidak teratur dan terkendali. Lepas muatan listrik demikian  oleh sejumlah besar neuron secara sinkron merupakan dasar suatu serangan  epilepsy. Suatu sifat khas serangan epilepsy ialah bahwa beberapa saat  serangan berhenti akibat pengaruh proses inhibisi. Di duga inhibisi ini  adalah pengaruh neuron-neuron sekitar sarang epileptic. Selain itu juga  system-sistem inhibisi pra dan pasca sinaptik yang menjamin agar  neuron-neuron tidak terus-menerus berlepasmuatan memegang peranan.  Keadaan lain yang dapat menyebabkan suatu serangan epilepsy terhenti  ialah kelelahan neuron-neuron akibat habisnya zat-zat yang penting untuk  fungsi otak.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Gejala&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kejang parsial simplek&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;dimulai  dengan muatan listrik di bagian otak tertentu dan muatan ini tetap  terbatas di daerah tersebut. Penderita mengalami sensasi, gerakan atau  kelainan psikis yang abnormal, tergantung kepada daerah otak yang  terkena.Jika terjadi di bagian otak yang mengendalikan gerakan otot  lengan kanan, maka lengan kanan akan bergoyang dan mengalami sentakan;  jika terjadi pada &lt;i&gt;lobus temporalis anterior&lt;/i&gt; sebelah dalam, maka  penderita akan mencium bau yang sangat menyenangkan atau sangat tidak  menyenangkan. Pada penderita yang mengalami kelainan psikis bisa  mengalami &lt;i&gt;d?j? vu&lt;/i&gt; (merasa pernah mengalami keadaan sekarang dimasa yang lalu).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;Kejang Jacksonian&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;gejalanya  dimulai pada satu bagian tubuh tertentu (misalnya tangan atau kaki) dan  kemudian menjalar ke anggota gerak, sejalan dengan penyebaran aktivitas  listrik di otak. &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kejang parsial (&lt;i&gt;psikomotor&lt;/i&gt;) kompleks&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;dimulai  dengan hilangnya kontak penderita dengan lingkungan sekitarnya selama  1-2 menit. Penderita menjadi goyah, menggerakkan lengan dan tungkainya  dengan cara yang aneh dan tanpa tujuan, mengeluarkan suara-suara yang  tak berarti, tidak mampu memahami apa yang orang lain katakan dan  menolak bantuan. &lt;br /&gt;Kebingungan berlangsung selama beberapa menit, dan diikuti dengan penyembuhan total. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kejang konvulsif&lt;/b&gt; (&lt;i&gt;kejang tonik-klonik&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;grand mal&lt;/i&gt;) &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;biasanya  dimulai dengan kelainan muatan listrik pada daerah otak yang terbatas.  Muatan listrik ini segera menyebar ke daerah otak lainnya dan  menyebabkan seluruh daerah mengalami kelainan fungsi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_etMN1ZHAax4/SYzolaGZVBI/AAAAAAAAAZs/NSTMjMYD2KQ/s1600-h/grand_mal_seizure.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299866590867182610" src="http://1.bp.blogspot.com/_etMN1ZHAax4/SYzolaGZVBI/AAAAAAAAAZs/NSTMjMYD2KQ/s320/grand_mal_seizure.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 256px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Epilepsi primer generalisata&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;ditandai  dengan muatan listrik abnormal di daerah otak yang luas, yang sejak  awal menyebabkan penyebaran kelainan fungsi. Pada kedua jenis epilepsi  ini terjadi kejang sebagai reaksi tubuh terhadap muatan yang abnormal.  Pada kejang konvulsif, terjadi penurunan kesadaran sementara, kejang  otot yang hebat dan sentakan-sentakan di seluruh tubuh, kepala berpaling  ke satu sisi, gigi dikatupkan kuat-kuat dan hilangnya pengendalian  kandung kemih. Sesudahnya penderita bisa mengalami sakit kepala,  linglung sementara dan merasa sangat lelah. Biasanya penderita tidak  dapat mengingat apa yang terjadi selama kejang. &lt;br /&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="Grand mal" style="'width:300pt;height:240pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\DINDA\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" href="file:///C:\Documents%20and%20Settings\DINDA\Desktop\index.php_files\grand_mal_seizure.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Kejang petit mal&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;dimulai  pada masa kanak-kanak, biasanya sebelum usia 5 tahun. Tidak terjadi  kejang dan gejala dramatis lainnya dari grand mal. Penderita hanya  menatap, kelopak matanya bergetar atau otot wajahnya berkedut-kedut  selama 10-30 detik. Penderita tidak memberikan respon terhadap  sekitarnya tetapi tidak terjatuh, pingsan maupun menyentak-nyentak. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b&gt;Status epileptikus&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;merupakan  kejang yang paling serius, dimana kejang terjadi terus menerus, tidak  berhenti. Kontraksi otot sangat kuat, tidak mampu bernafas sebagaimana  mestinya dan muatan listrik di dalam otaknya menyebar luas. Jika tidak  segera ditangani, bisa terjadi kerusakan jantung dan otak yang menetap  dan penderita bisa meninggal.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Diagnosis&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala yang disampaikan oleh  orang lain yang menyaksikan terjadinya serangan epilepsi pada  penderita. &lt;i&gt;EEG&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;elektroensefalogram&lt;/i&gt;) merupakan pemeriksaan yang mengukur aktivitas listrik di dalam otak. &lt;br /&gt;Pemeriksaan ini tidak menimbulkan rasa sakit dan tidak memiliki resiko. &lt;i&gt;Elektroda&lt;/i&gt; ditempelkan pada kulit kepala untuk mengukur &lt;i&gt;impuls&lt;/i&gt;  listrik di dalam otak. Setelah terdiagnosis, biasanya dilakukan  pemeriksaan lainnya untuk menentukan penyebab yang biasa  diobati.Pemeriksaan darah rutin dilakukan untuk:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 30pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;; font-size: 7;"&gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;mengukur kadar gula, kalsium dan natrium dalam darah &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 30pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;; font-size: 7;"&gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;menilai fungsi hati dan ginjal&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 30pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;; font-size: 7;"&gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;menghitung jumlah sel darah putih (jumlah yang meningkat menunjukkan adanya infeksi).   &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;EKG&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;elektrokardiogram&lt;/i&gt;)  dilakukan untuk mengetahui adanya kelainan irama jantung sebagai akibat  dari tidak adekuatnya aliran darah ke otak, yang bisa menyebabkan  seseorang mengalami pingsan. &lt;st1:street st="on"&gt;&lt;st1:address st="on"&gt;Pemeriksaan &lt;i&gt;CT&lt;/i&gt;&lt;/st1:address&gt;&lt;/st1:street&gt;&lt;i&gt; scan&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;MRI&lt;/i&gt;  dilakukan untuk menilai adanya tumor atau kanker otak, stroke, jaringan  parut dan kerusakan karena cedera kepala. Kadang dilakukan &lt;i&gt;pungsi lumbal&lt;/i&gt; utnuk mengetahui apakah telah terjadi infeksi otak.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 3pt; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="subjudul"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="subjudul"&gt;&lt;b&gt;Pengobatan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Jika penyebabnya adalah tumor, infeksi atau kadar gula maupun  natrium yang abnormal, maka keadaan tersebut harus diobati terlebih  dahulu. Jika keadaan tersebut sudah teratasi, maka kejangnya sendiri  tidak memerlukan pengobatan. Jika penyebabnya tidak dapat disembuhkan  atau dikendalikan secara total, maka diperlukan obat anti-kejang untuk  mencegah terjadinya kejang lanjutan. Sekitar sepertiga penderita  mengalami kejang kambuhan, sisanya biasanya hanya mengalami 1 kali  serangan. Obat-obatan biasanya diberikan kepada penderita yang mengalami  kejang kambuhan. Status epileptikus merupakan keadaan darurat, karena  itu obat anti-kejang diberikan dalam dosis tinggi secara intravena. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Obat anti-kejang sangat efektif, tetapi juga bisa menimbulkan efek samping. &lt;br /&gt;Salah satu diantaranya adalah menimbulkan kantuk, sedangkan pada anak-anak menyebabkan &lt;i&gt;hiperaktivitas&lt;/i&gt;.  Dilakukan pemeriksaan darah secara rutin untuk memantau fungsi ginjal,  hati dan sel -sel darah. Obat anti-kejang diminum berdasarkan resep dari  dokter. Pemakaian obat lain bersamaan dengan obat anti-kejang harus  seizin dan sepengetahuan dokter, karena bisa merubah jumlah obat  anti-kejang di dalam darah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga penderita hendaknya dilatih untuk membantu penderita jika  terjadi serangan epilepsi. Langkah yang penting adalah menjaga agar  penderita tidak terjatuh, melonggarkan pakaiannya (terutama di daerah  leher) dan memasang bantal di bawah kepala penderita. Jika penderita  tidak sadarkan diri, sebaiknya posisinya dimiringkan agar lebih mudah  bernafas dan tidak boleh ditinggalkan sendirian sampai benar-benar sadar  dan bisa bergerak secara normal. Jika ditemukan kelainan otak yang  terbatas, biasanya dilakukan pembedahan untuk mengangkat serat-serat  saraf yang menghubungkan kedua sisi otak (&lt;i&gt;korpus kalosum&lt;/i&gt;). Pembedahan dilakukan jika obat tidak berhasil mengatasi epilepsi atau efek sampingnya tidak dapat ditoleransi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;b&gt;Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati kejang&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="border: 1pt outset rgb(0, 153, 102); width: 90%;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="-moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-size: auto auto; background-attachment: scroll; background-color: #99cccc; background-image: none; background-position: 0% 0%; background-repeat: repeat; border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;Obat&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="-moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-size: auto auto; background-attachment: scroll; background-color: #99cccc; background-image: none; background-position: 0% 0%; background-repeat: repeat; border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;Jenis epilepsi&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="-moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-size: auto auto; background-attachment: scroll; background-color: #99cccc; background-image: none; background-position: 0% 0%; background-repeat: repeat; border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;Efek samping yg mungkin terjadi&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.medicastore.com/med/caridatapilih.php?pilih=1&amp;amp;UID=20080516075805125.208.146.2&amp;amp;cari=Karbamazepin"&gt;Karbamazepin&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;Generalisata, parsial&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;Jumlah sel darah putih &amp;amp; sel darah merah berkurang&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;Etoksimid&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;Petit mal&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;Jumlah sel darah putih &amp;amp; sel darah merah berkurang&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.medicastore.com/med/caridatapilih.php?pilih=1&amp;amp;UID=20080516075805125.208.146.2&amp;amp;cari=Gabapentin"&gt;Gabapentin&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;Parsial&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;Tenang&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.medicastore.com/med/caridatapilih.php?pilih=1&amp;amp;UID=20080516075805125.208.146.2&amp;amp;cari=Lamotrigin"&gt;Lamotrigin&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;Generalisata, parsial&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;Ruam kulit&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.medicastore.com/med/caridatapilih.php?pilih=1&amp;amp;UID=20080516075805125.208.146.2&amp;amp;cari=phenobarbital"&gt;Fenobarbital&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;Generalisata, parsial&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;Tenang &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.medicastore.com/med/caridatapilih.php?pilih=1&amp;amp;UID=20080516075805125.208.146.2&amp;amp;cari=Fenitoin"&gt;Fenitoin&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;Generalisata, parsial&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;Pembengkakan gusi&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.medicastore.com/med/caridatapilih.php?pilih=1&amp;amp;UID=20080516075805125.208.146.2&amp;amp;cari=Primidon"&gt;Primidon&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;Generalisata, parsial&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;Tenang&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.medicastore.com/med/caridatapilih.php?pilih=1&amp;amp;UID=20080516075805125.208.146.2&amp;amp;cari=Valproat"&gt;Valproat&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;Kejang infantil, petit mal&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt inset rgb(0, 153, 102); padding: 3.75pt;"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;Penambahan berat badan, rambut rontok&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Prognosis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Prognosis  epilepsy bergantung pada beberapa hal, di antaranya jenis epilepsi  factor penyebab, saat pengobatan dimulai, dan ketaatan minum obat. Pada  umumnya prognosis epilepsy cukup menggembirakan. Pada 50-70% penderita  epilepsy serangan dapat dicegah dengan obat-obat, sedangkan sekitar 50 %  pada suatu waktu akan dapat berhenti minum obat. Serangan epilepsi  primer, baik yang bersifat kejang umum maupun serangan lena atau melamun  atau absence mempunyai prognosis terbaik. Sebaliknya epilepsi yang  serangan pertamanya mulai pada usia 3 tahun atau yang disertai kelainan  neurologik dan atau retardasi mental mempunyai prognosis relative jelek.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;Daftar Pustaka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Harsono.2007.&lt;i&gt;Epilepsi&lt;/i&gt;, Gadjah Mada University Press,&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Yogyakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sidharta, Priguna M.D.,Ph. D.1999. &lt;i&gt;Neurology klinis dasar&lt;/i&gt;, Dian Rakyat, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/div&gt;"Epilepsi"&lt;span class="NormalWebChar"&gt;&lt;span&gt;.(&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;http://medicastore.com, diakses tanggal 28 Januari 2009)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-7481477763367646639?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/7481477763367646639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/11/epilepsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/7481477763367646639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/7481477763367646639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/11/epilepsi.html' title='EPILEPSI'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_etMN1ZHAax4/SYzolaGZVBI/AAAAAAAAAZs/NSTMjMYD2KQ/s72-c/grand_mal_seizure.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-8920609765341011119</id><published>2010-11-18T04:49:00.000-08:00</published><updated>2010-11-18T04:49:20.389-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MASALAH SISTEM INDRA dan SYARAF'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SISTEM SARAF'/><title type='text'>VERTIGO</title><content type='html'>&lt;div style="color: black;"&gt;Pernah merasa bumi terasa berputar gitu? Ngliyeng mau jatuh? Hm.. &lt;em&gt;alhamdulillah&lt;/em&gt;,  aku belum pernah. Tapi sering denger teman-teman ada yang menceritakan  keluhannya. Mbak Nia temanku sedang menderita Vertigo, dan menginspirasi  tulisan pendek ini. Semoga cepet sembuh, Jeng….&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;Apakah&amp;nbsp;vertigo termasuk jenis sakit kepala seperti migrain? Ternyata  bukan. Vertigo adalah salah satu jenis penyakit yang ditandai dengan  gangguan ilusi gerakan. Jika yang terasa berputar adalah diri sendiri,  disebut &lt;strong&gt;vertigo subyektif.&lt;/strong&gt; Kalau yang berputar adalah lingkungan sekitarnya, disebut &lt;strong&gt;vertigo obyektif.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;strong&gt;Apa penyebab vertigo?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&amp;nbsp;Vertigo disebabkan karena &lt;strong&gt;gangguan keseimbangan di telinga bagian dalam&lt;/strong&gt; (alat keseimbangan, atau bagian vestibular) atau mungkin di otak. Bentuk paling sering dari vertigo adalah &amp;nbsp;&lt;a href="http://www.emedicinehealth.com/script/main/art.asp?articlekey=59396"&gt;Benign paroxysmal positional vertigo&lt;/a&gt; (&lt;strong&gt;BPPV),&lt;/strong&gt;  yaitu adanya ilusi gerakan yang disebabkan oleh gerakan kepala secara  mendadak atau gerakan kepala ke arah tertentu. Jenis seperti ini umumnya  tidak berat dan dapat diatasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;Penyebab lain dari vertigo adalah &lt;strong&gt;peradangan pada telinga bagian dalam&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(labirinitis),&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  yang ditandai dengan kejadian vertigo yang tiba-tiba dan kadang diikuti  dengan kehilangan pendengaran. Penyebab paling sering adalah infeksi  viral atau bakteri. Beberapa penyakit lain juga bisa menyebabkan  vertigo, seperti &lt;em&gt;Meniere disease&lt;/em&gt;, perdarahan di otak, &lt;em&gt;multiple sclerosis,&lt;/em&gt; cedera kepala, dan migrain.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;strong&gt;Apa gejalanya?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;Pada umumnya penderita akan merasakan sensasi gerakan seperti  berputar, baik dirinya sendiri atau lingkungan yang berputar. Selain  itu, kadang ada juga yang disertai gejala mual atau muntah, berkeringat,  dan gerakan mata yang abnormal. Gejala ini bisa terjadi dalam satuan  menit atau jam, dapat bersifat konstan atau episodik (kadang-kadang).  Ada pula yang merasakan telinga berdering, gangguan penglihatan, lemah,  sulit bicara, atau kesulitan berjalan.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;strong&gt;Kapan perlu mendapatkan penanganan medis dan apa obatnya?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;Semua gejala dan tanda vertigo perlu dievaluasi oleh dokter. Sebagian  besar penyebab vertigo tidak berbahaya, dan pada umumnya dapat diatasi  dengan pengobatan. Pilihan obatnya tergantung dari diagnosisnya (jenis  vetigo) dan penyebab vertigonya. Misalnya jika terjadi infeksi bakteri  pada telinga dalam, tentu butuh antibiotika. Obat-obat yang umum dipakai  untuk vertigo adalah: &lt;a href="http://www.emedicinehealth.com/script/main/art.asp?articlekey=102085"&gt;meclizine hydrochloride&lt;/a&gt; (Antivert), &lt;a href="http://www.emedicinehealth.com/script/main/art.asp?articlekey=101937"&gt;diphenhydramine&lt;/a&gt; (Benadryl), &lt;a href="http://www.emedicinehealth.com/script/main/art.asp?articlekey=103394"&gt;promethazine hydrochloride&lt;/a&gt; (Phenergan), dan &lt;a href="http://www.emedicinehealth.com/script/main/art.asp?articlekey=102697"&gt;diazepam&lt;/a&gt; (Valium)&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;strong&gt;Terapi alternatif?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;Berbagai terapi non-obat dapat dicoba untuk mengatasi vertigo, mulai  dari penggunaan obat herbal, akupuntur, meditasi, yoga, pengaturan diet,  tai chi, sampai terapi spiritual. Setiap orang bisa memilih mana yang  lebih cocok.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;Namun sekali lagi, lepas dari semua usaha secara medis maupun  nonmedis, jangan lupa memohon pada Pemberi Hidup dan Kesembuhan, karena  Dialah yang akan memberi kesembuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&amp;nbsp;Demikian semoga bermanfaat.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-8920609765341011119?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/8920609765341011119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/11/vertigo_18.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/8920609765341011119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/8920609765341011119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/11/vertigo_18.html' title='VERTIGO'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-7816435248781602839</id><published>2010-11-18T04:47:00.000-08:00</published><updated>2010-11-18T04:47:49.180-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MASALAH SISTEM INDRA dan SYARAF'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SISTEM SARAF'/><title type='text'>VERTIGO</title><content type='html'>&lt;div style="color: black; font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. Pengertian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan vertigo berasal &lt;span9478536&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" id="Y9478536S4" style="text-decoration: underline;"&gt;dari&lt;/a&gt;&lt;/span9478536&gt; bahasa Yunani vertere &lt;span9478536&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" id="Y9478536S2" style="text-decoration: underline;"&gt;yang&lt;/a&gt;&lt;/span9478536&gt;  artinya memutar. Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa  gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain,  terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh  Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja,  melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik  (nistagmus, unstable), otonomik (pucat, peluh dingin, mual, muntah) dan  pusing. Dari (http://www.kalbefarma.com).&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. Etiologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut (Burton, 1990 : 170) yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="color: black; font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lesi vestibular :&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Fisiologik&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Labirinitis&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menière&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Obat ; misalnya quinine, salisilat.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Otitis &lt;span9478536&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" id="Y9478536S0" style="text-decoration: underline;"&gt;media&lt;/a&gt;&lt;/span9478536&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; “Motion sickness”&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; “Benign post-traumatic positional vertigo”&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lesi saraf vestibularis&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Neuroma akustik&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Obat ; misalnya streptomycin&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Neuronitis &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;vestibular&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lesi batang otak, serebelum atau lobus temporal&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Infark atau perdarahan pons&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Insufisiensi vertebro-basilar&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Migraine arteri basilaris&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sklerosi diseminata&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tumor&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Siringobulbia&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Epilepsy lobus temporal&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="color: black; font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menurut (http://www.kalbefarma.com)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="color: black; font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Penyakit Sistem Vestibuler Perifer :&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Telinga bagian luar : serumen, benda asing.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Telinga  bagian tengah: retraksi membran timpani, otitis media purulenta akuta,  otitis media dengan efusi, labirintitis, kolesteatoma, rudapaksa dengan  perdarahan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika,  trauma, serangan vaskular, alergi, hidrops labirin (morbus Meniere ),  mabuk gerakan, vertigo postural.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Nervus VIII. : infeksi, trauma, tumor.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Inti Vestibularis: infeksi, trauma, perdarahan, trombosis arteria serebeli posterior inferior, tumor, sklerosis multipleks.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Penyakit SSP :&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Hipoksia  Iskemia otak. : Hipertensi kronis, arterios-klerosis, anemia,  hipertensi kardiovaskular, fibrilasi atrium paroksismal, stenosis dan  insufisiensi aorta, sindrom sinus karotis, sinkop, hipotensi ortostatik,  blok jantung.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Infeksi : meningitis, ensefalitis, abses, lues.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Trauma kepala/ labirin.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tumor.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Migren.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Epilepsi.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kelainan endokrin: hipotiroid, hipoglikemi, hipoparatiroid, tumor medula adrenal, keadaan menstruasi-hamil-menopause.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kelainan psikiatrik: depresi, neurosa cemas, sindrom hiperventilasi, fobia.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kelainan mata: kelainan proprioseptik.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Intoksikasi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="color: black; font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C. Patofisiologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vertigo  timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan  ke pusat kesadaran. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini  adalah susunan vestibuler atau keseimbangan, yang secara terus menerus  menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. Susunan lain yang berperan  ialah sistem optik dan pro-prioseptik, jaras-jaras yang menghubungkan  nuklei vestibularis dengan nuklei N. III, IV dan VI, susunan  vestibuloretikularis, dan vestibulospinalis.&lt;br /&gt;Informasi yang berguna  untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler,  visual, dan proprioseptik; reseptor vestibuler memberikan kontribusi  paling besar, yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan  yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik.&lt;br /&gt;Dalam kondisi  fisiologis/normal, informasi yang tiba di pusat integrasi alat  keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler, visual dan  proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan, jika semuanya dalam  keadaan sinkron dan wajar, akan diproses lebih lanjut. Respons yang  muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam  keadaan bergerak. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan  tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. Jika fungsi alat keseimbangan  tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak  fisiologis, atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan, maka  proses pengolahan informasi akan terganggu, akibatnya muncul gejala  vertigo dan gejala otonom; di samping itu, respons penyesuaian otot  menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa  nistagmus, unsteadiness, ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala  lainnya (http://www.kalbefarma.com).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D. Klasifikasi Vertigo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan gejala klinisnya, vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="color: black; font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Vertigo paroksismal&lt;br /&gt;Yaitu  vertigo yang serangannya datang mendadak, berlangsung beberapa menit  atau hari, kemudian menghilang sempurna; tetapi suatu ketika serangan  tersebut dapat muncul lagi. Di antara serangan, penderita sama sekali  bebas keluhan. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi :&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Yang disertai keluhan telinga :&lt;br /&gt;Termasuk  kelompok ini adalah : Morbus Meniere, Arakhnoiditis pontoserebelaris,  Sindrom Lermoyes, Sindrom Cogan, tumor fossa cranii posterior, kelainan  gigi/ odontogen.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Yang tanpa disertai keluhan telinga :&lt;br /&gt;Termasuk  di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris,  Epilepsi, Migren ekuivalen, Vertigo pada anak (Vertigo de L'enfance),  Labirin picu (trigger labyrinth).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi :&lt;br /&gt;Termasuk di sini adalah : Vertigo posisional paroksismal laten, Vertigo posisional paroksismal benigna.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Vertigo kronis&lt;br /&gt;Yaitu vertigo yang menetap, keluhannya konstan tanpa (Cermin &lt;span9478536&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" id="Y9478536S5" style="text-decoration: underline;"&gt;Dunia&lt;/a&gt;&lt;/span9478536&gt; Kedokteran No. 144, 2004: 47) serangan akut, dibedakan menjadi:&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Yang  disertai keluhan telinga : Otitis media kronika, meningitis Tb,  labirintitis kronis, Lues serebri, lesi labirin akibat bahan ototoksik,  tumor serebelopontin.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri,  ensefalitis pontis, sindrom pasca komosio, pelagra, siringobulbi,  hipoglikemi, sklerosis multipel, kelainan okuler, intoksikasi obat,  kelainan psikis, kelainan kardiovaskuler, kelainan endokrin.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Vertigo yang dipengaruhi posisi : Hipotensi ortostatik, Vertigo servikalis.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Vertigo yang serangannya mendadak/akut, kemudian berangsur-angsur mengurang, dibedakan menjadi :&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Disertai  keluhan telinga : Trauma labirin, herpes zoster otikus, labirintitis  akuta, perdarahan labirin, neuritis n.VIII, cedera pada auditiva  interna/arteria vestibulokoklearis.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tanpa keluhan telinga :  Neuronitis vestibularis, sindrom arteria vestibularis anterior,  ensefalitis vestibularis, vertigo epidemika, sklerosis multipleks,  hematobulbi, sumbatan arteria serebeli inferior posterior.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div face="arial" style="color: black; font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ada pula yang membagi vertigo menjadi :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="color: black; font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="color: black; font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D. Manifestasi klinik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan  berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan  lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah,  lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lemah, puyeng  (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata  merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;E. Pemerikasaan Penunjang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="color: black; font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pemeriksaan fisik :&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pemeriksaan mata&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pemeriksaan neurologik&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pemeriksaan otologik&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pemeriksaan fisik umum.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pemeriksaan khusus :&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;ENG&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Audiometri dan BAEP&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Psikiatrik&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pemeriksaan tambahan :&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Laboratorium&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Radiologik dan Imaging&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;EEG, EMG, dan EKG.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; font-weight: bold;"&gt;F. Penatalaksanaan Medis&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Terapi menurut (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 48) :&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Terdiri dari :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol style="color: black; font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Terapi kausal&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Terapi simtomatik&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Terapi rehabilitatif.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-7816435248781602839?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/7816435248781602839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/11/vertigo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/7816435248781602839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/7816435248781602839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/11/vertigo.html' title='VERTIGO'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-6167458469503286979</id><published>2010-09-27T04:32:00.000-07:00</published><updated>2010-09-27T04:32:10.617-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MEKANISME PEYAKIT dan DASAR DASAR TERAPI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KARDIOVASKULER'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CHEST COMPLAIN'/><title type='text'>ARTERI KORONER (CORONARY HEART DISEASE)</title><content type='html'>A. Definisi&lt;br /&gt;Penyakit arteri koroner (coronary heart disease) ditandai dengana adanya  endapan lemak yang berkumpul di dalam sel yang melapisi dinding suatu  arteri koroner dan menymbat aliran darah.&lt;br /&gt;Endapan lemak (ateroma atau plak) terbentuk secara bertahap dan tersebar  di percabangan besar dari kedua arteri koroner utama, yang mengelilingi  jantung dan menyediakan darah bagi jantung. Proses pembentukan ateroma  disebut ateroklerosis.&lt;br /&gt;Ateroma bisa menonjol ke dalam arteri danmneyebabkan arteri menjadi  sempit. Jika ateroma terus membesar, bagian dari ateroma bisa pecah dan  masuk ke dalam aliran darah atau bisa terbentuk bekuan darah di dalam  permukaan ateroma tersebut.&lt;br /&gt;Supaya bisa berkontraksi dan memompa secara normal, otot jantung  (miokardium) memerlukan pasokan darah yang kaya akan oksigen dari arteri  koroner. Jika penyumbatan arteri semakin memburuk, bisa terjadi iskemi  (berkurangnya pasokan darah) pada otot jantung, menyebabkan kerusakan  jantung.&lt;br /&gt;Penyebab utama dari iskemi miokardial ada;lah penyakit arteri koroner.  Komplikasi utama dari penyekit arteri koroner adalah angina dan serangan  jantung (infark miokardial).&lt;br /&gt;B. Epidemiologi&lt;br /&gt;Penyakit jantung koroner (PJK) telah menjadi penyebab utama kematian  dewasa ini. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 11 7 juta  orang meninggal akibat PJK di seluruh dunia pada tahun 2002. angka ini  diperkirakan meningkat 11 juta orang apda tahun 2020.&lt;br /&gt;Di Indonesia, kasus PJK semakin sering ditemukan karena pesatnya  perubahan gaya hidup. Meski belum ada data epidemiologis pasti, angka  kesakitan/kematiannya terlihat cenderungmeningkat. Hasil survey  kesehatan nasional tahun 2001 menunjukkan tiga dari 1.000 penduduk  Indonesia menderita PJK.&lt;br /&gt;Perbaikan kesehatan secara umum dan kemajuan teknologi kedokteran  menyebabkan umur harapan hidup meningkat, sehingga jumlah penduduk  lansia bertambah. Survey di tiga kecamatan di daerah Jakarta Selatan  pada tahun 2000 menunjukkan prevalensi lansia melewati angka 15% yang  sebelumnya diperkirakan hanya 7,5% bagi Negara berkembang. Usia lansia  yang didefinisikan sebagai umur 65 tahun ke atas (WHO) ditenggarai  meningkatkan berbagai penyakit degeneratif yang bersifat multiorgan.  Prevalensi PJK (Penyakit Jantung Koroner) diperkirakan mencapai 50% dan  angka kematian mencapai lebih dari 80% yang berarti setiap 2 (dua) orang  lansia satu mengidap PJK danjika terserang PJK maka kematian demikian  tinggi dan hanya 20% yang dapat diselamatkan.&lt;br /&gt;C. Etiologi&lt;br /&gt;Penyakit arteri koroner bisa menyerang semua ras, tetapi angka kejadian  paling tinggi ditemukan pada orang kulit putih. Tetapi ras sendiri  tampaknya bukan merupakan factor penting dalam gaya hidup seseorang.  Secara spesifik, factor-faktor yang meningkatkan resiko terjadinya  arteri koroner adalah :&lt;br /&gt;• Diet kaya lemak&lt;br /&gt;• Merokok&lt;br /&gt;• Malas berolah raga&lt;br /&gt;&lt;span id="more-13"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kolesterol dan penyakit arteri koroner&lt;br /&gt;Resiko terjadinya penyakit arteri koroner meningkat padapeningkatan  kadar kolesterol total dan kolesterol LDL (kolesterol jahat) dalam  darah. Jika terjadi peningkatan kadar kolesterol HDL (kolesterol baik),  maka resiko terjadinya penyakit arteri koroner akan menurun.&lt;br /&gt;Makanan mempengaruhi kadar kolesterol total dan karena itu makanan juga  mempengaruhi resiko terjadinya penyakit arteri koroner. Merubah pola  makan (dan bila perlu mengkonsumsi obat dari rokter) bisamenurunkan  kadar kolesterol total dankolesterol LDL bisa memperlambat atau mencegah  berkembangnya arteri koroner.&lt;br /&gt;Menurunkan kadar LDL sangat besar keuntungannya bagi seseorang yang memiliki factor resiko berikut :&lt;br /&gt;• merokok sigaret&lt;br /&gt;• tekanan darah tinggi&lt;br /&gt;• kegemukan&lt;br /&gt;• malas berolah raga&lt;br /&gt;• kadar trigliserida tinggi&lt;br /&gt;• keturunan&lt;br /&gt;• steroid pria (androgen).&lt;br /&gt;Factor resiko&lt;br /&gt;Kajian epidemiologis menunjukkan bahwa ada berbagai kondisi yang  mendahului atau menyertai awitanpenyakit jantung koroner. Kondisi  tersebut dinamakan factor resiko karena satu atau beberapa diantaranya,  dianggapmeningkatkan resiko seseorang untuk mengalami penyakit jantung  koroner.&lt;br /&gt;Factor resiko ada yang dapat dimodifikasi (modifiable) dan ada yang  tidak dapat dimodifikasi (nonmodifiable). Factor resiko modifiable dapat  dikontrol dengan mengubah gaya hidup atau kebiasaan pribadi; factor  resiko nonmodifiable merupakan konsekuensi genetic yang tidak dapat  dikontrol.&lt;br /&gt;Factor resiko dapat bekerja sendiri atau bekerja sama dengan factor  resiko yang lain. Semakin banyak factor resiko yang dimiliki seseorang,  semakin besar kemungkinan terjadinya penyakit arteri koroner. Orang yang  beresiko dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan medis berkala dan tidak  mungkin dengan kemauan sendiri berusaha mengurangi jumlah dan beratnya  resiko tadi&lt;br /&gt;D. Komplikasi&lt;br /&gt;• Tromboemboli&lt;br /&gt;• Angina pectoris&lt;br /&gt;• Gagal jantung kongestif&lt;br /&gt;• Infark miokardium&lt;br /&gt;E. Patofisiologi&lt;br /&gt;Aterosklerosis dimulai ketika kolesterol berlemak tertimbun di intima  arteri besar. Timbunan ini, dinamakan ateroma atau plak akan mengganggu  absorbsi nutrient oleh sel-sel endotel yang menyusun lapisan dinding  dalam pembuluh darah dan menyumbat aliran darah karena timbunan ini  menonjol ke lumen pembuluh darah. Endotel pembuluh darah yang terkena  akan mengalami nekrotik dan menjadi jaringan parut, selanjutnya lumen  menjadi semakin sempit dan aliran darah terhambat. Pada lumen yang  menyempit dan berdinding kasar, akan cenderung terjadi pembentukan  bekuan darah. Halini menjelaskan bagaimana terjadinya koagulasi  intravaskuler, diikuti oleh penyakit tromboemboli, yang merupakan  komplikasi tersering aterosklerosis.&lt;br /&gt;Berbagai teori mengenai bagaimana lesi aterosklerosis terjadi telah  diajukan,tetapi tidak satu pun yang terbukti secara meyakinkan.  Mekanisme yang mungkin, adalah pembentukan thrombus pada permukaan plak;  danpenimbunan lipid terus menerus. Bila fibrosa pembungkus plak pecah,  maka febris lipid akan terhanyut dalam aliran darah dan menyumbat arteri  dan kapiler di sebelah distal plak yang pecah.&lt;br /&gt;Struktur anatomi arteri koroner membuatnya rentan terhadap mekanisme  aterosklerosis. Arteri tersebut terpilin dan berkelok-kelok saat  memasuki jantung, menimbulkan kondisi yang rentan untuk terbentuknya  ateroma.&lt;br /&gt;F. Pemeriksaan Penunjang&lt;br /&gt;Tergantung kebutuhannya beragam jenis pemeriksaan dapat dilakukan untuk  menegakkan diagnosis PJK dan menentukan derajatnya. Dari yang sederhana  sampai yang invasive sifatnya.&lt;br /&gt;1. Elektrokardiogram (EKG)&lt;br /&gt;Pemeriksaan aktifitas listrik jantung atau gambaran elektrokardiogram  (EKG) adalah pemeriksaan penunjang untuk memberi petunjuk adanya PJK.  Dengan pemeriksaan ini kita dapat mengetahui apakah sudah ada  tanda-tandanya. Dapat berupa serangan jantung terdahulu, penyempitan  atau serangan jantung yang baru terjadi, yang masing-masing memberikan  gambaran yang berbeda.&lt;br /&gt;2. foto rontgen dada&lt;br /&gt;dari foto roentgen dada dokter dapat menilai ukuran jantung,  ada-tidaknya pembesaran. Di samping itu dapat juga dilihat gambaran  paru. Kelainan pada koroner tidak dapat dilihat dalam foto rontgen ini.  Dari ukuran jantung dapat dinilai apakah seorang penderita sudah berada  pada PJK lanjut. Mungkin saja PJK lama yang sudah berlanjut pada payah  jantung. Gambarannya biasanya jantung terlihat membesar.&lt;br /&gt;3. pemeriksaan laboratorium&lt;br /&gt;dilakukan untuk mengetahui kadar trigliserida sebagai factor resiko.  Dari pemeriksaan darah juga diketahui ada-tidaknya serangan jantung akut  dengan melihat kenaikan enzim jantung.&lt;br /&gt;4. Bila dari semua pemeriksaan diatas diagnosa PJK belum berhasil  ditegakkan, biasanya dokter jantung/ kardiologis akan merekomendasikan  untuk dilakukan treadmill.&lt;br /&gt;Dalam kamus kedokteran Indonesia disebut jentera, alat ini digunakan  untuk pemeriksaan diagnostic PJK. Berupa ban berjalan serupa dengan alat  olah raga umumnya, namun dihubungkan dengan monitor dan alat rekam EKG.  Prinsipnya adalah merekam aktifitas fisik jantung saat latihan. Dapat  terjadi berupa gambaran EKG saat aktifitas, yang memberi petunjuk adanya  PJK. Hal ini disebabkan karena jantung mempunyai tenaga serap, sehingga  pada keadaan sehingga pada keadaan tertentu dalam keadaan istirahat  gambaran EKG tampak normal.&lt;br /&gt;Dari hasil teradmil ini telah dapat diduga apakah seseorang menderita  PJK. Memang tidak 100% karena pemeriksaan dengan teradmil ini  sensitifitasnya hanya sekitar 84% pada pria sedangka untuk wanita hanya  72%. Berarti masih mungkin ramalan ini meleset sekitar 16%, artinya dari  100 orang pria penderita PJK yang terbukti benar hanya 84 orang.  Biasanya perlu pemeriksaan lanjut dengan melakukan kateterisasi jantung.&lt;br /&gt;Pemeriksaan ini sampai sekarang masih merupakan “Golden Standard” untuk  PJK. Karena dapat terlihat jelas tingkat penyempitan dari pembuluh  arterikoroner, apakah ringan,sedang atau berat bahkan total.&lt;br /&gt;5. kateterisasi jantung&lt;br /&gt;pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan kateter semacam selang  seukuran ujung lidi. Selang ini dimasukkan langsung ke pembuluh nadi  (arteri). Bisa melalui pangkal paha, lipatanlengan atau melalui pembuluh  darah di lengan bawah. Kateter didorong dengan tuntunan alar rontgen  langsung ke muara pembuluh koroner. Setelah tepat di lubangnya, kemudian  disuntikkan cairan kontras sehingga mengisi pembuluh koroner yang  dimaksud. Setelah itu dapat dilihat adanya penyempitan atau malahan  mungkin tidak ada penyumbatan. Penyempitan atau penyumbatan ini dapat  saja mengenai beberapa tempat pada satu pembuluh koroner. Bisa juga  sekaligus mengenai beberapa pembuluh koroner. Atas dasar hasil  kateterisasi jantung ini akan dapat ditentukan penanganan lebih lanjut.  Apakah apsien cukup hanya dengan obat saja, disamping mencegah atau  mengendalikan factor resiko. Atau mungkin memerlukan intervensi yang  dikenal dengan balon. Banyak juga yang menyebut dengan istilah ditiup  atau balonisasi. Saat ini disamping dibalon dapat pula dipasang stent,  semacam penyangga seperti cincin atau gorng-gorong yang berguna untuk  mencegah kembalinya penyempitan. Bila tidak mungkin dengan obat-obatan,  dibalon dengan atau tanpa stent, upaya lain adalah dengan melakukan  bedah pintas koroner.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-6167458469503286979?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/6167458469503286979/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/09/arteri-koroner-coronary-heart-disease.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/6167458469503286979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/6167458469503286979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/09/arteri-koroner-coronary-heart-disease.html' title='ARTERI KORONER (CORONARY HEART DISEASE)'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-2945818176438948487</id><published>2010-09-27T04:30:00.000-07:00</published><updated>2010-09-27T04:30:55.937-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MEKANISME PEYAKIT dan DASAR DASAR TERAPI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KARDIOVASKULER'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CHEST COMPLAIN'/><title type='text'>ANGINA PEKTORIS</title><content type='html'>PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angina pektoris adalah suatu sindrom klinis dimana pasien mendapat  serangan sakit dada yang khas, yaitu seperti ditekan atau terasa berat  di dada yang seringkali menjalar ke lengan kiri.&amp;nbsp; Sakit dada tersebut  biasanya timbul pada waktu pasien melakukan suatu aktivitas dan segera  hilang bila pasien menghentikan aktivitasnya.&lt;br /&gt;Penyakit Jantung Koroner (PJK) pada dekade 3 yang lalu, berdasarkan  hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) I Departemen Kesehatan tahun  1972 masih menduduki urutan ke 11 sebagai penyebab kematian di  Indonesia.&amp;nbsp; Posisi ini terus beranjak keurutan ke 3 pada SKRT II 1986.&amp;nbsp;  Seterusnya menjadi posisi ke 2 pada SKRT III Tahun 1992.&amp;nbsp; Setelah hampir  30 tahun PJK sudah bertengger pada posisi teratas sebagai penyebab  kematian, sama dengan negara industri maju seperti Amerika Serikat dan  negara – negara Eropa.&lt;br /&gt;PJK yang dikenal dengan simptom angina pektoris yaitu semacam rasa  tidak enak di dada atau struktur anatomis di sekitarnya yang disebabkan  karena iskemi miokard sebagai akibat aterosklerosis yaitu terbentuknya  bercak – bercak lemak yang tidak beraturan pada intima pembuluh darah  koroner.&lt;br /&gt;Aterosklerosis berbeda dengan arteriosklerosis dimana terjadi  kelainan pada jaringan arteri sehingga dinding arteri menjadi keras dan  kaku.&amp;nbsp; Sedangkan aterosklerosis adalah suatu penyakit dari lapisan otot  arteri yang berkembang perlahan – lahan, dimana lapisan dalam arteri  menjadi tebal dengan adanya penimbunan lemak dan jaringan fibrosa.&amp;nbsp;  Arteri yang paling sering terlibat adalah pembuluh koroner dan serebral  yang dapat mengakibatkan terjadinya infark miokard dan infark serebri  (stroke).&lt;br /&gt;Sebagai akibat dari infark miokard dan stroke serta komplikasi –  komplikasi lainnya, aterosklerosis merupakan penyebab kematian utama di  negara industri maju.&amp;nbsp; Di AS lebih dari separuh kematian pertahun  disebabkan oleh aterosklerosis.&amp;nbsp; Walaupun sudah lama diketahui, dan  tanda patologisnya sudah dikenal lebih seabad yang lalu namun  patogenesis sebagian besar belum terungkap secara jelas.&lt;br /&gt;Penyakit Jantung Koroner (PJK, &lt;em&gt;coroner heart disease, coronary artery disease&lt;/em&gt;) disebabkan oleh proses aterosklerosis dengan terbentuknya ateroma yang bermula dari pembentukan &lt;em&gt;fatty streaks&lt;/em&gt; (jejas lemak).&amp;nbsp; Jejas lemak berkembang menjadi &lt;em&gt;fibrous plaque&lt;/em&gt;  (plak fibrosa) yang kemudian menjadi plak terkomplikasi pada intima  pembuluh darah koroner.&amp;nbsp; Ateroma ini akan menyebabkan pembentukan &lt;em&gt;atherosclerotic plaque&lt;/em&gt;  (plak aterosklerosis) pada pembuluh darah koroner yang memberi makanan  pada otot jantung agar jantung dapat memompakan darah dengan segala  isinya ke seluruh organ dan jaringan tubuh.&lt;br /&gt;Selanjutnya, tergantung pada perkembangan dari plak aterosklerosis  tersebut akan terjadi berbagai keadaa klinis.&amp;nbsp; Bila plak aterosklerosis  dengan lapisan penutup yang terdiri dari jaringan fibrosa (&lt;em&gt;fibrous cap&lt;/em&gt;)  yang tebal dan stabil maka akan terjadi gangguan aliran darah pada  pembuluh darah koroner yang menuju otot jantung akibat penyempitan  (stenosis) yang terjadi.&amp;nbsp; kurangnya pasokan darah ke miokard akibat  stenosis dari arteri koroner tersebut berakibat miokard mengalami iskemi  (&lt;em&gt;myocardial ischaemia&lt;/em&gt;).&amp;nbsp; Penyakitnya disebut penyakit jantung iskemi (&lt;em&gt;ischemic heart disease&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;Tetapi, apabila plak aterosklerosis berkembang menjadi plak aterosklerosis yang terkomplikasi yang kemudian &lt;em&gt;‘fibrous cap’&lt;/em&gt;-nya  mengalami ruptur sehingga isi dari plak dengan segala bahan – bahan  yang terdapat didalamnya dapat membentuk trombus yang menutup lumen  pembuluh koroner yang telah menyempit.&amp;nbsp; Pasokan darah ke miokard yang  diperdarahi oleh pembuluh koroner yang mengalami oklusi tersebut akan  terhenti sehingga miokard akan mengalami nekrosis.&amp;nbsp; Keadaan ini disebut  sebagai Infark Miokard Akut (IMA, &lt;em&gt;acute myocardial infarction, AMI&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;Manifestasi klinis dari PJK bermacam – macam, mulai dari angina  pektoris, infark miokard akut, gagal jantung.&amp;nbsp; Di samping itu PJK dapat  juga tanpa gejala klinis sama sekali (&lt;em&gt;silent myocardical ischaemia/infarction&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;Penyakit jantung koroner tanpa gejal klinis dapat bermula dari  penyakit jantung iskemik.&amp;nbsp; Penderita ini dalam melaksanakan aktivitas  sehari – hari tidak ada keluhan nyeri dada.&amp;nbsp; Begitu pula pada  pemeriksaan fisik di klinik tidak ditemukan kelainan, rekaman listrik  jantung (EKG) biasanya normal, tidak ada tanda iskemi.&amp;nbsp; Penderita dengan  &lt;em&gt;‘silent ischemia’&lt;/em&gt; ini bagaikan menyimpan bom waktu.&amp;nbsp; Sewaktu –  waktu bila melakukan aktivitas fisik berlebihan dan atau mengalami  stres emosional dapat terjadi serangan jantung mendadak (&lt;em&gt;sudden cardiac death&lt;/em&gt;).&amp;nbsp; Pada masyarakat maju dengan fasilitas diagnostik lengkap, hal semacam ini dapat dihindari.&lt;br /&gt;Serangan jantung pun terkadang dapat terjadi tanpa dirasakan oleh  yang bersangkutan.&amp;nbsp; Atau dirasakan sebagai keluhan masuk angin biasa.&amp;nbsp;  Hal ini sering terjadi di negara berkembang karena masih kurangnya bahan  bacaan tentang penyakit jantung koroner.&amp;nbsp; Informasi tentang penyakit  jantung koroner belum disosialisasikan.&amp;nbsp; Usaha – usaha preventif /  promotif belum dilaksanakan dengan baik.&amp;nbsp; Pasien – pasien yang pernah  mengalami serangan jantung (infark miokard) biasanya datang ke klinik  karena adanya serangan jantung berulang atau setelah terjadi gagal  jantung (&lt;em&gt;heart failure&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;Penderita PJK biasanya datang ke klinik karena adanya keluhan nyeri dada akibat stenosis atau oklusi pembuluh darah koroner (&lt;em&gt;coronary artery&lt;/em&gt;).&amp;nbsp;  Nyeri dada ini dikenal sebagai nyeri angina (angina pektoris).&amp;nbsp; Angina  pektoris timbul pada aktivitas fisik dan atau stres emosional yang  berlebihan.&amp;nbsp; Hilang dengan istirahat atau dengan pemberian nitrat  sublingual.&amp;nbsp; Angina jenis ini disebut Angina Pektoris Stabil (APS).&amp;nbsp;  Bila keluhan angina bertambah berat, makin lama dan tidak hilang dengan  istirahat maupun dengan nitrat sublingual, keadaan ini disebut Angina  Pektoris Tidak Stabil (APTS).&amp;nbsp; APTS ini disebut juga &lt;em&gt;pre infarction angina pectoris, new onset angina, rest angina, post infarction angina.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Di samping angina pektoris atau infark miokard yang disebabkan proses  aterosklerosis (90 %) dikenal juga angina atau infark yang non  aterosklerosis sebesar 10 %, yaitu akibat spasme pembuluh koroner atau &lt;em&gt;coronary artery anomalies.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;h1&gt;EPIDEMIOLOGI&lt;/h1&gt;Data penelitian Framingham di Amerika Serikat yang didapat pada tahun  1950 dan 1960 menunjukkan bahwa dari empat pria dengan angina satu  orang akan mengalami infark miokard dalam waktu 5 tahun.&amp;nbsp; Sedangkan  untuk wanita resikonya hanya setengah dari itu.&lt;br /&gt;Penelitian menunjukkan pula bahwa penderita yang simtomatis  prognosisnya lebih buruk dari yang tanpa simtom.&amp;nbsp; Data saat ini  menunjukkan bahwa bila penderita asimtomatis atau dengan simtom ringan,  kematian tahunan pada penderita dengan lesi pada satu dan dua pembuluh  darah koroner adalah 1,5 % dan kira – kira 6 % untuk lesi pada tiga  pembuluh darah koroner.&amp;nbsp; Kalau pada golongan terakhir ini kemampuan  latihan (&lt;em&gt;exercise capacity&lt;/em&gt;) penderita baik, kematian tahunan  adalah 4 % dan bila tidak baik kematian tahunannya kira – kira 9 %,  karena itu penderita harus dipertimbangkan untuk revaskularisasi.&lt;br /&gt;Data dari &lt;em&gt;Coronary Artery Surgery Study &lt;/em&gt;(CASS) telah  menunjukkan hubungan antara jumlah pembuluh darah koroner yang terlibat,  banyak stenosis dipembuluh darah koroner bagian proksimal serta  kemunduran kemampuan fungsi ventrikel kiri sebagai tanda prognosis tidak  baik.&lt;br /&gt;Survei Kesehatan Rumah Tangga Nasional Departemen Kesehatan 1986  melaporkan angka kematian di daerah perkotaan dan pedesaan untuk  penyakit jantung koroner masing – masing 53.5 dan 24.6 per 100.000  penduduk.&amp;nbsp; Ini relatif masih rendah dibandingkan negara maju.&amp;nbsp; Sebagai  gambaran, negara tetangga kita Singapura mempunyai angka kematian untuk  penyakit jantung koroner sebanyak 215 per 100.000 penduduk pada tahun  1984.&lt;br /&gt;&lt;h1&gt;PATOFISIOLOGI&lt;/h1&gt;Angina pektoris adalah “jeritan” otot jantung yang merupakan sakit  dada kekurangan oksigen; suatu gejala klinik yang disebabkan oleh  iskemia miokard yang sementara.&amp;nbsp; Ini adalah akibat dari tidak adanya  keseimbangan antara kebutuhan oksigen miokard dan kemampuan pembuluh  darah koroner menyediakan oksigen secukupnya untuk kontraksi miokard.&lt;br /&gt;Telah diketahui bahwa sel endotel pembuluh darah mampu melepaskan &lt;em&gt;endothelial derived relaxing factor &lt;/em&gt;(FDRF) yang menyebabkan relaksasi pembuluh darah, dan &lt;em&gt;endothelial derived constricting factor &lt;/em&gt;(EDCF) yang menyebabkan kontraksi pembuluh darah.&lt;br /&gt;Pada keadaan normal, penglepasan EDRF terutama diatur oleh  asetilkolin melalui perangsangan reseptor muskarinik yang mungkin  terletak di sel endotel.&amp;nbsp; Berbagai substansi lain seperti trombin,  Adenosin Difosfat (ADP), adrenalin, serotonin, vasopresin, histamin dan  noradrenalin juga mampu merangsang penglepasan EDRF, selain memiliki  efek tersendiri terhadap pembuluh darah.&lt;br /&gt;Pada keadaan patologis seperti adanya lesi aterosklerosis, maka  serotonin, ADP dan asetilkolin justru merangsang penglepasan EDCF.&amp;nbsp;  Hipoksia akibat aterosklerosis pembuluh darah juga merangsang  penglepasan EDCF.&lt;br /&gt;Berhubung karena sebagian besar penderita AP juga menderita  aterosklerosis di pembuluh darah koroner, maka produksi EDRF menjadi  berkurang sebaliknya produksi EDFC bertambah sehingga terjadi  peningkatan tonus A. Koronaria.&lt;br /&gt;Walaupun demikian, jantung memiliki &lt;em&gt;coronary reserve&lt;/em&gt; yang  besar; maka pada keadaan biasa, penderita yang mengalami aterosklerosis  pembuluh darah koroner mungkin tidak ada gejala.&amp;nbsp; Namun apabila beban  jantung meningkat akibat aktivitas fisik, atau oleh suatu sebab terjadi  peningkatan aktivitas saraf simpatis, maka aliran darah koroner menjadi  tidak cukup lagi untuk mempertahankan suplai oksigen ke miokard sehingga  terjadi hipoksia miokard.&lt;br /&gt;Telah dibuktikan bahwa hipoksia merangsang penglepasan berbagai  substansi vasoaktif seperti katekolamin dari ujung – ujung saraf  simpatis jantung; ditambah dengan meningkatnya produksi EDFC, maka  terjadilah vasokontriksi A.&amp;nbsp; Koronia lebih lanjut dan jantung menjadi  lebih iskemik.&lt;br /&gt;Keadaan hipoksia dan iskemik ini akan merubah proses glikolisis dari  aerobik menjadi anaerobik, dengan demikian terjadi penurunan sintesis  ATP dan penimbunan asam laktat.&amp;nbsp; Selain itu, penurunan oksidasi  metabolik mengakibatkan terlepasnya banyak adenin nukleotida, sehingga  produk hasil degradasi adenin nukleotida yaitu adenosin juga meningkat.&lt;br /&gt;Adenosin sebenarnya memiliki efek kardioprotektif karena substansi  ini menghambat penglepasan enzim proteolitik, menghambat interaksi  endotel dan neutrofil, menghambat agregasi platelet dan menghambat  interaksi penglepasan tromboksan.&amp;nbsp; Akan tetapi, Crea, dkk (1990) telah  membuktikan nyeri dada angina adalah disebabkan karena adenosin.&lt;br /&gt;Nyeri dada AP terutama disalurkan melalui aferen saraf simpatis jantung.&amp;nbsp; Saraf ini bergabung dengan saraf somatik &lt;em&gt;cervico – thoracalis&lt;/em&gt; pada jalur &lt;em&gt;ascending &lt;/em&gt;di dalam &lt;em&gt;medulla spinalis&lt;/em&gt;,  sehingga keluhan angina pektoris yang khas adalah nyeri dada bagian  kiri atau substernal yang menjalar ke bahu kiri terus ke kelingking  tangan kiri.&lt;br /&gt;Pada tahun 1974, Stern dan Tzivoni pertama kali melaporkan tentang &lt;em&gt;silent mycordial ischemia&lt;/em&gt;,  karena dengan pemantauan Holter dapat terlihat adanya episode – episode  iskemia yang tanpa disertai keluhan.&amp;nbsp; Pada tahun 1986, Peter Cohn  memperkenalkan definisi &lt;em&gt;Total Ischemic Burden&lt;/em&gt;, yaitu jumlah (dan lamanya) episode iskemia yang dialami selama 24 jam, disertai atau tidak disertai gejala.&lt;br /&gt;Berhubung karena serangan – serangan iskemia pada waktu istirahat  ternyata terjadi pada denyut jantung yang lebih rendah dibanding pada  waktu uji latih beban (&lt;em&gt;exercise test&lt;/em&gt;) (Daafield 1984), maka  dapat disimpulkan bahwa patofisiologi angina pektoris melibatkan  mekanisme – mekanisme selain endotel yaitu : perubahan fungsi pembuluh  darah koroner, perubahan fungsi mikrosirkulasi, keadaan kolateral dan  pengaruh variasi sirkadian (Karim 1995).&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;GEJALA KLINIK&lt;/h2&gt;Gejalanya adalah sakit dada sentral atau restrosentral yang dapat  menyebar kesalah satu atau kedua tangan, leher atau punggung.&amp;nbsp; Sakit  sering timbul pada kegiatan fisik maupun emosi atau dapat timbul spontan  waktu istirahat.&lt;br /&gt;Penderita dengan angina pektoris dapat dibagi dalam beberapa subset klinik.&amp;nbsp; Penderita dengan &lt;strong&gt;angina pektoris stabil&lt;/strong&gt;,  pola sakit dadanya dapat dicetuskan kembali oleh kegiatan dan oleh  faktor – faktor pencetus tertentu, dalam 30 hari terakhir tidak ada  perubahan dalam hal frekwensi, lama dan faktor – faktor pencetusnya  (sakit dada tidak lebih lama dari 15 menit).&amp;nbsp; Pada &lt;strong&gt;angina pektoris tidak stabil&lt;/strong&gt;,  umumnya terjadi perubahan – perubahan pola : meningkatnya frekwensi,  parahnya dan atau lama sakitnya dan faktor pencetusnya.&amp;nbsp; Sering termasuk  di sini sakit waktu istirahat, pendeknya terjadi &lt;em&gt;crescendo&lt;/em&gt; ke arah perburukan gejala – gejalanya.&amp;nbsp; Subset ketiga adalah &lt;strong&gt;angina Prinzmetal&lt;/strong&gt; (variant) yang terjadi karena spasme arteri koronaria.&lt;br /&gt;Faktor pencetus yang paling banyak menyebabkan angina adalah kegiatan  fisik, emosi yang berlebihan dan kadang – kadang sesudah makan.&amp;nbsp; Semua  keadaan ini meningkatkan kebutuhan oksigen miokard dengan mengingkatkan  baik denyut nadi maupun tekanan darah sistemik.&amp;nbsp; Hasil perkalian kedua  parameter ini merupakan indeks dari kebutuhan oksigen miokard.&lt;br /&gt;Biasanya angina pektoris klasik tidak lebih lama dari beberapa menit  dan menghilang dengan istirahat.&amp;nbsp; Ini sering dikenal dengan &lt;em&gt;angina of effort&lt;/em&gt;.&amp;nbsp;  Akan tetapi pada keadaan dimana terjadi pengurangan aliran darah  koroner atau kekurangan pasok oksigen yang secara primer disebabkan  suatu proses penyumbatan, kadang – kadang sakit dadanya lebih lama pada  istirahat.&amp;nbsp; Pada keadaan demikian kemungkinan stenosis pembuluh darah  koroner yang lebih berat harus dipertimbangkan.&amp;nbsp; Hal ini dinamakan &lt;em&gt;angina at rest&lt;/em&gt; (angina istirahat) atau bahkan kadang – kadang infark miokard.&lt;br /&gt;Penyebab dari &lt;em&gt;angina of effort&lt;/em&gt; biasanya suatu penyempitan  arteria koronaria proksimal yang bermakna (&amp;gt;75 %).&amp;nbsp; Kalau penyempitan  lumen arteria koroner oleh plak aterosklerotik tidak berat, peningkatan  tahanan proksimal ini tentu dapat diatasi dengan dilatasi arteriol,  yaitu reduksi tahanan perifer di cabang – cabang intramiokardial dari  arteria koroner.&amp;nbsp; Dengan demikian aliran koroner dapat memenuhi  kebutuhan normal.&amp;nbsp; Ini tidak dimungkinkan lagi pada penyempitan yang  bermakna.&amp;nbsp; Dilatasi arteriol koroner dan aliran darah koroner melalui  pembuluh arteria koroner yang menyempit ini dengan cepat mencapai  maksimum (cadangan koroner = &lt;em&gt;coronary reserve&lt;/em&gt;).&amp;nbsp; Penyebab dari  angina istirahat sebetulnya banyak, dapat terjadi karena oklusi akut  pada suatu cabang utama koroner, apakah oleh spasme atau trombus, atau  yang lebih jarang peningkatan kebutuhan oksigen primer tanpa ada  hubungannya dengan stres&lt;br /&gt;&lt;h1&gt;PEMERIKSAAN PENUNJANG&lt;/h1&gt;&lt;h3&gt;Elektrokardiogram&lt;/h3&gt;Gambaran elektrokardiogram (EKG) yang dibuat pada waktu istirahat dan  bukan pada waktu serangan angina seringkali masih normal.&amp;nbsp; Gambaran EKG  kadang – kadang menunjukkan bahwa pasien pernah mendapat infark miokard  di masa lampau.&amp;nbsp; Kadang – kadang EKG menunjukkan pembesaran ventrikel  kiri pada pasien hipertensi dan angina.&amp;nbsp; Kadang – kadang EKG menunjukkan  perubahan segmen ST dan gelombang T yang tidak khas.&amp;nbsp; Pada waktu  serangan angina, EKG akan menunjukkan adanya depresi segmen ST dan  gelombang T dapat menjadi negatif.&lt;br /&gt;&lt;h4 style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Foto Rontgen Dada&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Foto rontgen dada seringkali menunjukkan bentuk jantung yang normal,  tetapi pada pasien hipertensi dapat terlihat jantung yang membesar dan  kadang – kadang tampak adanya klasifikasi arkus aorta.&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Pemeriksaan Laboratorium&lt;/h3&gt;Pemeriksaan laboratorium tidak begitu penting dalam diagnosis angina  pektoris.&amp;nbsp; Walaupun demikian untuk menyingkirkan diagnosis infark  jantung akut maka sering dilakukan pemeriksaan enzim CPK, SGO atau LDH.&amp;nbsp;  Enzim tersebut akan meninggi pada infark jantung akut sedangkan pada  angina kadarnya masih normal.&amp;nbsp; Pemeriksaan lipid darah seperti kadar  kolesterol, HDL, LDL dan trigliserida perlu dilakukan untuk menemukan  faktor resiko seperti hiperlipidemia dan pemeriksaan gula darah perlu  dilakukan untuk menemukan diabetes melitus yang juga merupakan faktor  resiko bagi pasien angina pektoris.&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Uji Latihan Jasmani&lt;/h3&gt;Karena pada angina pektoris gambaran EKG seringkali masih normal,  maka seringkali perlu dibuat suatu uji latihan jasmani.&amp;nbsp; Pada uji  tersebut dibuat EKG pada waktu istirahat lalu pasien disuruh melakukan  latihan dengan alat &lt;em&gt;treadmill&lt;/em&gt;, atau sepeda ergometer sampai  pasien mencapai kecepatan jantung maksimal atau submaksimal, dan selama  latihan EKG dimonitor demikian pula setelah selesai EKG terus  dimonitor.&amp;nbsp; Tes dianggap positif bila didapatkan depresi segmen ST  sebesar 1 mm atau lebih pada waktu latihan atau sesudahnya.&amp;nbsp; Lebih –  lebih bila di samping depresi segmen ST juga timbul rasa sakit dada  seperti pada waktu serangan, maka kemungkinan besar pasien memang  menderita angina pektoris.&lt;br /&gt;Di tempat yang tidak mempunyai &lt;em&gt;treadmill&lt;/em&gt;, test latihan  jasmani dapat dilakukan dengan cara Master, yaitu latihan dengan naik  turun tangga dan dilakukan pemeriksaan EKG sebelum dan sesudah melakukan  latihan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Thallium Exercise Myocardial Imaging&lt;/h3&gt;Pemeriksaan ini dilakukan bersama – sama uji latihan jasmani dan  dapat menambah sensitivitas dam spesifitas uji latihan.&amp;nbsp; Thallium 201  disuntikkan secara intravena pada puncak latihan, kemudian dilakukan  pemeriksaan scanning jantung segera setelah latihan dihentikan dan  diulang kembali setelah pasien istirahat dan kembali nomal.&amp;nbsp; Bila ada  iskemia maka akan tampak &lt;em&gt;cold spot&lt;/em&gt; pada daerah yang menderita  iskemia pada waktu latihan dan menjadi normal setelah pasien istirahat.&amp;nbsp;  Pemeriksaan ini juga menunjukkan bagian otot jantung yang menderita  iskemia.&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Penyadapan Jantung&lt;/h3&gt;Penyadapan jantung untuk membuat arteriografi koroner merupakan salah  satu pemeriksaan yang paling penting, baik untuk diagnosis penyakit  jantung koroner maupun untuk merencanakan penatalaksanaan selanjutnya.&amp;nbsp;  Pada pasien angina pektoris dapat dilakukan pemeriksaan arteriografi  koroner secara selektif, baik untuk tujuan diagnostik untuk konfirmasi  adanya penyempitan pembuluh koroner, maupun untuk merencanakan langkah  selanjutnya pada pasien angina, apakah perlu dilakukan tindakan  intervensi atau tindakan operasi &lt;em&gt;bypass&lt;/em&gt;.&amp;nbsp; Pada arteriografi  koroner akan tampak penyempitan pembuluh koroner, letaknya penyempitan,  beratnya penyempitan maupun banyaknya pembuluh darah yang menyempit.&lt;br /&gt;Indikasi arteriografi koroner ialah :&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Angina pektoris&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Infark jantung&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kemungkinan adanya penyempitan pembuluh darah utama kiri atau kemungkinan penyempitan 3 pembuluh darah (3 &lt;em&gt;vessel disease&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Uji &lt;em&gt;treadmill &lt;/em&gt;yang positif&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Untuk menegakkan diagnosis pada kasus yang sukar.&lt;br /&gt;&lt;h5&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;DIAGNOSA dan DD&lt;/span&gt;&lt;/h5&gt;Sakit di dada dapat berasal dari berbagai struktur, termasuk di sini  jantung, jaringan ikat sekelilingnya seperti perikardium, paru – paru  dan pleura.&amp;nbsp; Begitu pula kelainan pembuluh darah besar, mediatinum,  esophagus dan alat tubuh di bawah diafragma seperti perut dan kantung  empedu.&amp;nbsp; Kelainan meuromuskular dan muskuloskeletal di daerah tersebut  juga dapat memberikan keluhan yang sama.&amp;nbsp; Walaupun begitu riwayat sakit  dadanya merupakan informasi yang paling menentukan dalam evaluasi&amp;nbsp;  penyebab sakit dada tersebut.&amp;nbsp; Berdasarkan riwayat tersebut, kita akan  mengadakan pemeriksaan diagnostik khusus lainnya.&lt;br /&gt;Evaluasi sakit dada iskemia dimulai dengan lima pertanyaan berikut&amp;nbsp; :  di mana sakitnya ? (lokasi), seperti apa sakitnya ? (sifat), apa  penyebabnya ? (sebab / pencetus), kemana menjalarnya ? (radiasi), apa  yang mengurangi sakitnya ? apa yang anda lakukan bila sakitnya datang ?  (bebas sakit).&lt;br /&gt;Sakit yang khas adalah retrosternal dan radiasi dapat ke leher dengan  perasaan tercekik.&amp;nbsp; Sering menyebar ke bagian dalam tangan kiri di  bawah ketiak sedangkan sakit dari muskulosletal biasanya terasa di bahu  atau di bagian luar tangan.&lt;br /&gt;Sifat sakitnya seperti tertekan, perasaan kencang atau berat, seperti  diperas, rasa sesak atau pegal.&amp;nbsp; Perasaan seperti ditusuk pisau  biasanya bukan disebabkan iskemia miokard apalagi kalau bisa ditunjuk  dengan jarinya.&lt;br /&gt;Tabel VIII.2.1&amp;nbsp; Perbedaan Sifat Sakit Dada&lt;br /&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="276"&gt;&lt;strong&gt;Jantung&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="283"&gt;&lt;strong&gt;Non Jantung&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="276"&gt;Tegang tidak enak&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="283"&gt;Tajam&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="276"&gt;Tertekan&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="283"&gt;Seperti pisau&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="276"&gt;Berat&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="283"&gt;Ditusuk&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="276"&gt;Mengencangkan / di peras&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="283"&gt;Dijahit&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="276"&gt;Nyeri / pegal&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="283"&gt;Ditimbulkan tekanan / posis&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="276"&gt;Menekan / menghancurkan&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="283"&gt;Terus – menerus seharian&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt;Penyebab sakit dada berhubungan dengan pengisian arteria koronaria  sewaktu diastol.&amp;nbsp; Setiap keadaan yang akan meningkatkan denyut jantung  akan meningkatkan juga kebutuhan jantung yang tidak bisa dipenuhi oleh  pasok aliran darah koroner dan akan mengakibatkan sakit.&amp;nbsp; Sakit sering  terjadi sesudah suatu keadaan emosi, latihan fisik, makan banyak,  perubahan suhu, bersenggama dan lain – lain.&amp;nbsp; Sakit menghilang bila  kecepatan denyu jantung diperlambat, relaksasi, istirahat atau makan  obat glyceril trinitrat.&amp;nbsp; Sakit biasanya hilang dalam 5 menit.&lt;br /&gt;Di samping faktor riwayat penyakit, kelamin dan umur harus  diperhatikan juga bahwa prevalensi penyakit jantung koroner lebih tinggi  pada pria (di bawah 50 tahun) dan umur lanjut.&amp;nbsp; Dengan juga  memperhatikan ada tidaknya faktor – faktor resiko koroner seperti  merokok, hipertensi dan hiperkolesterolemia, dan lain – lain, ketepatan  diagnostik dapat ditingkatkan.&lt;br /&gt;&lt;h1&gt;KLASIFIKASI&lt;/h1&gt;Angina pektoris dapat dibagi menjadi : angina pektoris stabil, angina pektoris tak stabil dan variant angina (&lt;em&gt;Prinzmetal’s angina&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;Ada penderita dengan keluhan nyeri dada khas AP disertai gambaran EKG  abnormal, namun pada angiografi koroner ditemukan A. Koronaria normal.&amp;nbsp;  Angina pektoris jenis ini dinamakan “ Sindrom X ” yang biasanya  ditemukan pada wanita.&amp;nbsp; Sebaliknya ada penderita yang tidak punya  riwayat Ap, namun secara kebetulan pada uji latih jantung (&lt;em&gt;treadmill test&lt;/em&gt;)  ditemukan respon iskemik pada EKG dan hasil angiografi koroner  menunjukkan adanya penyakit A. Koronaria yang berat.&amp;nbsp; Penderita kelompok  ini dinamakan &lt;em&gt;silent myocardial ischaemia&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Angina Pektoris Yang Tidak Stabil (&lt;em&gt;Unstable Angina Pectoris&lt;/em&gt;)&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yang termasuk dalam golongan angina pektoris yang tidak stabil, ialah&amp;nbsp; :&lt;br /&gt;♠&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Angina dekubitus&lt;br /&gt;♠&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Angina kresendo&lt;br /&gt;♠&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Preinfarction angina&lt;br /&gt;♠&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Angina pektoris yang timbul untuk pertama kali&lt;br /&gt;♠&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Insufisiensi koroner akut&lt;br /&gt;Angina pektoris yang tidak stabil dapat disebabkan oleh ruptur plak  aterosklerosis, atau spasme, trombus atau trombosit yang beragresi.&lt;br /&gt;&lt;h1&gt;DIAGNOSIS&lt;/h1&gt;Pada Anamnesis akan diketemukan berbagai hal, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Faktor Presipitasi&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Faktor presipitasi tidak begitu jelas, karena serangan sakit dada  dapat timbul, baik pada waktu istirahat, waktu tidur, atau aktivitas  yang ringan dan dibutuhkan nitrogliresin yang lebih banyak untuk  menghilangkan angina ini.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Lama Sakit Dada&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Lamanya sakit dada jauh lebih lama daripada angina biasa, bahkan  dapat sampai beberapa jam.&amp;nbsp; Frekuensi angina jauh lebih sering  dibandingkan angina biasa.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Elektrokardiogram&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Pada pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) lebih sering ditemukan  adanya depresi segmen ST dibandingkan angina pektoris yang stabil.&amp;nbsp;  Tetapi kelainan EKG pada angina yang tidak stabil masih reversible.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Evaluasi&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengevaluasi pasien dengan angina  pektoris yang tidak stabil sama dengan angina pektoris yang stabil.&amp;nbsp;  Pemeriksaan uji latihan jasmani dianjurkan setelah keadaan klinis stabil  dan pasien sudah tidak menderita sakit dada paling sedikit 24 jam.&amp;nbsp;  Pemeriksaan EKG lebih sering menunjukkan adanya depresi segmen ST.&amp;nbsp; Uji  latihan jasmani tidak selalu perlu dilakukan bila kelainan EKG sudah  jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; &lt;span style="font-size: x-large;"&gt;PENGOBATAN&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mengatasi Nyeri Dada dan Iskemia&lt;br /&gt;Nitrat sublingual kemudian dilanjutkan dengan pemberian oral biasanya dapat mengatasi nyeri dada.&lt;br /&gt;Apabila tidak ada kontraindikasi dapat segera diberikan penyekat beta seperti metoprolol atau propranolol.&lt;br /&gt;Apabila angina masih tak stabil, dapat ditambahkan antagonis kalsium seperti diltiazem (&lt;em&gt;triple therapy&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;Nyeri dada yang hebat kadang – kadang membutuhkan nitrar (intravena).&amp;nbsp; Dosis dan cara pemberian telah diuraikan di atas.&lt;br /&gt;Apabila nitrat (intravena) masih belum berhasil menghilangkan nyeri  dada, dapat diberi morfin (2,5 – 5 mg) atau pethidin (12,5 – 25 mg)  secara intravena.&lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mencegah Perluasan atau Perkembangan Trombus Intrakoroner&lt;br /&gt;Telah dilaporkan bahwa pemberian aspirin atau heparin, atau kombinasi  keduanya efektif menurunkan kejadian serangan angina dan infark miokard  pada penderita AP tak stabil.&lt;br /&gt;Dosis aspirin menurut berbagai penelitian adalah 160 – 300 mg / hari  (dosis tunggal).&amp;nbsp; Dosis heparin adalah 5000 unit (intravena bolus)  kemudian dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan 1000 unit / jam dalam  infus (pertahankan APTT 1,5 – 2 kali dari nilai kontrol) selama 5 hari.&lt;br /&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Koreksi Gangguan Hemodinamik dan Kontrol Faktor Presipitasi&lt;br /&gt;Koreksi semua faktor penyebab disfungsi jantung ; aritmia dengan obat  anti aritmia, gagal jantung dengan kardiotonik atau diuretik, anemia  diberi transfusi darah dan seterusnya.&lt;br /&gt;d.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tindak Lanjut&lt;br /&gt;Berhubung karena angina tak stabil memiliki resiko tinggi terjadi  infark miokard akut (IMA), setelah angina terkontrol, semua penderita  dianjurkan untuk dilakukan angiografi koroner elektif.&lt;br /&gt;Mobilisasi bertahap diikuti uji latih beban untuk menentukan perlunya angiografi koroner merupakan pilihan lain.&lt;br /&gt;Bagi penderita yang keadaannya tidak dapat distabilkan dengan obat –  obat, dianjurkan intervensi yang lebih agresif seperti pemasangan &lt;em&gt;Intra – Aortic Ballon Counterpulsation&lt;/em&gt; (IABC) dan angiografi koroner, kemudian dilakukan PTCA atau cABG’s.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-2945818176438948487?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/2945818176438948487/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/09/angina-pektoris.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/2945818176438948487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/2945818176438948487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/09/angina-pektoris.html' title='ANGINA PEKTORIS'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-8766650054172226670</id><published>2010-08-08T04:59:00.000-07:00</published><updated>2010-08-08T04:59:22.489-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LOKOMOTOR'/><title type='text'>SINDROME KOMPARTEMEN</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;A.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Definisi&lt;/strong&gt; &lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Syndrome kompartemen merupakan suatu kondisi  dimana terjadi peningkatan tekanan interstitial dalam sebuah ruangan  terbatas yakni kompartemen osteofasial yang tertutup. Sehingga  mengakibatkan berkurangnya perfusi jaringan dan tekanan oksigen  jaringan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Kompartemen osteofasial merupakan ruangan yang  berisi otot, saraf dan pembuluh darah yang dibungkus oleh tulang dan  fascia serta otot-otot individual yang dibungkus oleh epimisium.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Secara anatomik, sebagian besar kompartemen  terletak di anggota gerak Berdasarkan letaknya komparteman terdiri dari  beberapa macam, antara lain:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Anggota gerak atas&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; a.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Lengan atas :&amp;nbsp;Terdapat kompartemen anterior dan posterior&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;span&gt;&lt;span&gt;b.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Lengan bawah :&amp;nbsp;Terdapat tiga kompartemen,yaitu: flexor superficial, fleksor profundus, dan ekstensor&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Anggota gerak bawah&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; a.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Tungkai atas:&amp;nbsp;Terdapat tiga kompartemen, yaitu: anterior, medial, dan posterior&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; b.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Tungkai bawah&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Terdapat empat kompartemen, yaitu: kompartemen anterior, lateral, posterior superfisial, posterior profundus&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Syndrome kompartemen yang paling sering terjadi  adalah pada daerah tungkai bawah (yaitu kompartemen anterior, lateral,  posterior superficial, dan posterior profundus) serta lengan atas  (kompartemen volar dan dorsal)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;B.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Etiologi&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Terdapat berbagai penyebab dapat meningkatkan  tekanan jaringan lokal yang kemudian memicu timbullny sindrom  kompartemen, yaitu antara lain:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Penurunan volume kompartemen&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kondisi ini disebabkan oleh:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; ·&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Penutupan defek fascia&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; ·&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; T&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;raksi internal berlebihan pada fraktur ekstremitas&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Peningkatan tekanan eksternal&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; ·&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Balutan yang terlalu ketat&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;·&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Berbaring di atas lengan&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;·&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Gips&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Peningkatan tekanan pada struktur komparteman&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Beberapa hal yang bisa menyebabkan kondisi ini antara lain:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;·&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pendarahan atau Trauma vaskuler&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;·&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Peningkatan permeabilitas kapiler&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; ·&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Penggunaan otot yang berlebihan&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; ·&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Luka bakar&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; ·&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Operasi&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;·&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Gigitan ular&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; ·&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Obstruksi vena&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Sejauh ini penyebab sindroma kompartemen yang  paling sering adalah cedera, dimana 45 % kasus terjadi akibat fraktur,  dan 80% darinya terjadi di anggota gerak bawah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;C.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Patofisiologi&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Patofisiologi sindrom kompartemen melibatkan  hemostasis jaringan lokal normal yang menyebabkan peningkatan tekanan  jaringan, penurunan aliran darah kapiler, dan nekrosis jaringan lokal  yang disebabkan hipoksia.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Tanpa memperhatikan penyebabnya, peningkatan  tekanan jaringan menyebabkan obstruksi vena dalam ruang yang tertutup.  Peningkatan tekanan secara terus menerus menyebabkan tekanan arteriolar  intramuskuler bawah meninggi. Pada titik ini, tidak ada lagi darah yang  akan masuk ke kapiler sehingga menyebabkan kebocoran ke dalam  kompartemen, yang diikuti oleh meningkatnya &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;tekanan dalam kompartemen.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Penekanan terhadap saraf perifer disekitarnya  akan menimbulkan nyeri hebat. Metsen mempelihatkan bahwa bila terjadi  peningkatan intrakompartemen, tekanan vena meningkat. Setelah itu,  aliran darah melalui kapiler akan berhenti. Dalam keadaan ini  penghantaran oksigen juga akan terhenti, Sehingga terjadi hipoksia  jaringan (pale). Jika hal ini terus berlanjut, maka terjadi iskemia otot  dan nervus, yang akan menyebabkan kerusakan ireversibel komponen  tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Terdapat tiga teori yang menyebabkan hipoksia pada kompartemen sindrom yaitu, antara lain:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;a.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Spasme arteri akibat peningkatan tekanan kompartemen&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;b.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;“Theori of critical closing pressure.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Hal ini disebabkam oleh diameter  pembuluh darah yang kecil dan tekanan mural arteriol yang tinggi.  Tekanan &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;trans mural secara signifikan berbeda ( tekanan  arteriol-tekanan jaringan), ini dibutuhkan untuk memelihara &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;  &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;patensi aliran darah. Bila tekanan tekanan jaringan meningkat  atau tekanan arteriol menurun maka tidak ada lagi &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; perbedaan  tekanan. Kondisi seperti ini dinamakan dengan tercapainya &lt;em&gt;critical closing pressure&lt;/em&gt;. Akibat &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;selanjutnya adalah arteriol akan menutup&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;c.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Tipisnya dinding vena&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Karena dinding vena itu tipis,  maka ketika tekanan jaringan melebihi tekanan vena maka ia akan kolaps.  Akan &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; tetapi bila kemudian darah mengalir secara  kontinyu dari kapiler maka, tekanan vena akan meningkat lagi &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;  &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;melebihi tekanan jaringan sehingga drainase vena terbentuk  kembali&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;McQueen dan Court-Brown berpendapat bahwa  perbedaan tekanan diastolik dan tekanan kompartemen yang kurang dari 30  mmHg mempunyai korelasi klinis dengan sindrom kompartemen.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Patogenesis dari sindroma kompartemen) kronik  telah digambarkan oleh Reneman. Otot dapat membesar sekitar 20% selama  latihan dan akan menambah peningkatan sementara dalam tekanan intra  kompartemen. Kontraksi otot berulang dapat meningkatkan tekanan  intamuskular pada batas dimana dapat terjadi iskemia berulang.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Sindroma kompartemen kronik  terjadi ketika tekanan antara kontraksi yang terus – menerus tetap  tinggi dan mengganggu aliran darah. Sebagaimana terjadinya kenaikan  tekanan, aliran arteri selama relaksasi otot semakin menurun, dan pasien  akan mengalami kram otot. Kompartemen anterior dan lateral dari tungkai  bagian bawah biasanya yang kena&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;D.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Manifestasi Klinis&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Gejala klinis yang terjadi pada syndrome kompartemen dikenal dengan 5 P yaitu:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;Pain&lt;/em&gt;  (nyeri) : nyeri yang hebat saat peregangan pasif pada otot-otot yang  terkena, ketika ada trauma langsung. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Nyeri merupakan  gejala dini yang paling penting. Terutama jika munculnya nyeri tidak  sebanding dengan &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; keadaan klinik (pada  anak-anak tampak semakin gelisah atau memerlukan analgesia lebih banyak  dari biasanya). &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Otot yang tegang pada kompartemen merupakan  gejala yang spesifik dan sering.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;Pallor &lt;/em&gt;(pucat), diakibatkan oleh menurunnya perfusi ke daereah tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;Pulselesness&lt;/em&gt; (berkurang atau hilangnya denyut nadi )&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;Parestesia&lt;/em&gt; (rasa kesemutan)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;5.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;Paralysis&lt;/em&gt;  : Merupakan tanda lambat akibat menurunnya sensasi saraf yang berlanjut  dengan hilangnya fungsi &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; bagian yang terkena  kompartemen sindrom.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&amp;nbsp;Sedangkan pada kompartemen syndrome akan timbul beberapa gejala khas, antara lain:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Nyeri  yang timbul saat aktivitas, terutama saat olehraga. Biasanya setelah  berlari atau beraktivitas selama 20 &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;menit.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Nyeri bersifat sementara dan akan sembuh setelah beristirahat 15-30 menit.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Terjadi kelemahan atau atrofi otot.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;E.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Penegakan Diagnosa&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Selain melalui gejala dan tanda yang  ditimbulkannya, penegakan diagnosa kompartemen syndrome dilakukan dengan  pengukuran tekanan kompartemen. Pengukuran intra kompartemen ini  diperlukan pada pasien-pasien yang tidak sadar, pasien yang tidak  kooperatif, seperti anak-anak, pasien yang sulit berkomunikasi dan  pasien-pasien dengan multiple trauma seperti trauma kepala, medulla  spinalis atau trauma saraf perifer.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Tekanan kompartemen normalnya adalah 0. Perfusi  yang tidak adekuat dan iskemia relative ketika tekanan meningkat antara  10-30 mmHg dari tekanan diastolic. Tidak ada perfusi yang efektif ketika  tekanannya sama dengan tekanan diastoli.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;F.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Penanganan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Tujuan dari penanganan sindrom kompartemen  adalah mengurangi defisit fungsi neurologis dengan lebih dulu  mengembalikan aliran darah lokal, melalui bedah dekompresi. Walaupun  fasciotomi disepakati sebagai terapi yang terbaik, namun beberapa hal,  seperti timing, masih diperdebatkan. Semua ahli bedah setuju bahwa  adanya disfungsi neuromuskular adalah indikasi mutlak untuk melakukan  fasciotomi&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Penanganan kompartemen secara umum meliputi:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Terapi Medikal/non bedah&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Pemilihan terapi ini adalah jika diagnosa kompartemen masih dalam bentuk dugaan sementara. Berbagai bentuk terapi ini meliputi:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;a.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Menempatkan  kaki setinggi jantung, untuk mempertahankan ketinggian kompartemen yang  minimal, elevasi &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;dihindari karena dapat menurunkan  aliran darah dan akan lebih memperberat iskemia&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;b.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pada kasus penurunan ukuran kompartemen, gips harus di buka dan pembalut kontriksi dilepas.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; c.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pada  kasus gigitan ular berbisa, pemberian anti racun dapat menghambat  perkembangan sindroma &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;  &amp;nbsp;kompartemen&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;d.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Mengoreksi hipoperfusi dengan cairan kristaloid dan produk darah&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; e.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pada  peningkatan isi kompartemen, diuretik dan pemakainan manitol dapat  mengurangi tekanan &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;  &amp;nbsp;kompartemen. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Manitol mereduksi edema seluler, dengan  memproduksi kembali energi seluler yang &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; normal dan  mereduksi sel &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; otot yang nekrosis melalui kemampuan dari  radikal bebas&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Terapi Bedah&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Fasciotomi&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;dilakukan jika tekanan intrakompartemen mencapai &amp;gt; 30 mmHg. Tujuan dilakukan tindakan ini adalah&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;menurunkan tekanan dengan memperbaiki perfusi otot.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Jika tekanannya &amp;lt; 30 mm Hg maka tungkai cukup  diobservasi dengan cermat dan diperiksa lagi pada jam-jam berikutnya.  Kalau keadaan tungkai membaik, evaluasi terus dilakukan hingga fase  berbahaya terlewati. Akan tetapi jika memburuk maka segera lakukan  fasciotomi. Keberhasilan dekompresi untuk perbaikan perfusi adalah 6  jam.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Terdapat dua teknik dalam fasciotomi yaitu  teknik insisi tunggal dan insisi ganda.Insisi ganda pada tungkai bawah  paling sering digunakan karena lebih aman dan lebih efektif, sedangkan  insisi tunggal membutuhkan diseksi yang lebih luas dan resiko kerusakan  arteri dan vena peroneal.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;G.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Komplikasi &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Sindrom kompartemen jika tidak mendapatkan penanganan dengan segera, akan menimbulkan berbagai komplikasi antara lain:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Nekrosis pada syaraf dan otot dalam kompartemen&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Kontraktur  volkman, merupakan kerusakan otot yang disebabkan oleh terlambatnya  penanganan sindrom &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;kompartemen sehingga timbul  deformitas pada tangan, jari, dan pergelangan tangan karena adanya  trauma pada &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; lengan bawa&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Trauma vascular&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Gagal ginjal akut&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;5.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Sepsis&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;6.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Acute respiratory distress syndrome (ARDS)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;H.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Diagnosa keperawatan &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Nyeri akut bd agen injuri fisik/kimiawi&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Ketidakepektifan perfusi jaringan perifer bd gangguan aliran darah arteri&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;strong&gt;Referensi&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Irga, 2008, Sindroma Kompartemen, dilihat 12 November 2008, &lt;a href="http://www.passangereng.blogspot.com/"&gt;http://www.passangereng.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;NANDA, Nursing Diagnoses: Definitions &amp;amp; Classification 2001-2002 , Philadelphia&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-8766650054172226670?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/8766650054172226670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/08/sindrome-kompartemen.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/8766650054172226670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/8766650054172226670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/08/sindrome-kompartemen.html' title='SINDROME KOMPARTEMEN'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-2619690343177690279</id><published>2010-07-05T07:49:00.000-07:00</published><updated>2010-07-05T07:49:28.722-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ABDOMINAL COMPLAINT'/><title type='text'>HEMOROID</title><content type='html'>A. Definisi&lt;br /&gt;Hemoroid adalah pelebaran  vena di dalam pleksus hemoroidalis yang tidak merupakan keadaan  patologik, hanya apabila hemoroid ini menyebabkan keluhan atau  peenyulit, maka diperlukan tindakan.4&lt;br /&gt;Hemoroid normalnya terdapat  pada individu sehat dan terdiri dari bantalan fibromuskular yang sangat  bervaskularisasi yang melapisi saluran anus. Hemoroid diklasifikasikan  menjadi dua yaitu hemoroid eksterna hemoroid interna.&lt;br /&gt;1. Hemoroid  eksterna merupakan pelebaraan dan penonjolan pleksus hemoroidalis  inferior, terdapat di sebelah distal garis mukokutan di dalam jaringan  di bawah epitel anus.&lt;br /&gt;2. Hemoroid interna adalah kondisi dimana  pleksus v. hemoroidalis superior di atas garis mukutan dan ditutupi oleh  mukosa. Hemoroid interna ini merupakan bantalan vaskuler di dalam  jaringan sub mukosa pada rektum sebelah bawah. Hemoroid interna terdapat  pada tiga posisi primer, yaitu kanan depan (jam 11), kanan belakang  (jam 7) dan lateral kiri (jam 3), yang oleh Miles disebut “Three Primary  Haemorrhoidal Areas”. Hemoroid yang lebih kecil tedapat di antara  ketiga letak primer tersebut dan kadang juga sirkuler. (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemoroid  interna dibagi menjadi 4 derajat yaitu :&lt;br /&gt;- Derajat I  : -  Terdapat  perdarahan merah segar pada rectum pasca defekasi&lt;br /&gt;- Tanpa disertai  rasa nyeri&lt;br /&gt;- Tidak terdapat prolaps&lt;br /&gt;- Pada pemeriksaan anoskopi  terlihat permulaan dari benjolan hemoroid yang menonjol ke dalam lumen&lt;br /&gt;-  Derajat II  : -  Terdapat perdarahan/tanpa perdarahan sesudah defekasi&lt;br /&gt;-  Terjadi prolaps hemoroid yang dapat masuk sendiri (reposisi spontan)&lt;br /&gt;-  Derajat III : -  Terdapat perdarahan/tanpa perdarahan  sesudah defekasi&lt;br /&gt;-  Terjadi prolaps hemoroid yang tidak dapat masuk sendiri jadi harus  didorong dengan jari (reposisi manual)&lt;br /&gt;- Derajat IV : -  Terdapat  perdarahan sesudah defekasi&lt;br /&gt;- Terjadi prolaps hemoroid yang tidak  dapat didorong masuk (meskipun sudah direposisi akan keluar lagi)  (1,2,4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1. Derajat Hemoroid interna 4&lt;br /&gt;Hemoroid Interna&lt;br /&gt;Derajat  Berdarah  Prolaps Reposisi&lt;br /&gt;I + - -&lt;br /&gt;II + + Spontan&lt;br /&gt;III + +  Manual&lt;br /&gt;IV + Tetap Irreponibel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Sjamsuhidajat, Wim de  Jong. Hemoroid, 2004 Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed.2, Jakarta,  Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal: 672 – 675&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:  Sjamsuhidajat, Wim de Jong. Hemoroid, 2004 Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah,  Ed.2, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal: 672 – 675&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.  Etiologi&lt;br /&gt;Penyebab hemoroid tidak diketahui, konstipasi kronis dan  mengejan saat defekasi mungkin penting. Mengejan menyebabkan pembesaran  dan prolapsus sekunder bantalan pembuluh darah hemoroidalis. Jika  mengejan terus menerus, pembuluh darah menjadi berdilatasi secara  progresif dan jaringan sub mukosa kehilangan perlekatan normalnya dengan  sfingter internal di bawahnya, yang menyebabkan prolapsus hemoroid yang  klasik dan berdarah. Selain itu faktor penyebab hemoroid yang lain  yaitu : kehamilan, obesitas, diet rendah serat dan aliran balik  venosa.(1,4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Faktor Risiko&lt;br /&gt;Faktor risiko hemoroid banyak  sekali, sehingga sukar bagi kita untuk menentukkan penyebab yang tepat  bagi tiap kasus. Faktor risiko hemoroid yaitu:&lt;br /&gt;1. Keturunan  :  Dinding pembuluh darah yang lemah dan tipis&lt;br /&gt;2. Anatomik  : Vena  daerah anorektal tidak mempunyai katup dan pleksus hemoroidalis kurang  mendapat sokongan otot dan vasa sekitarnya.&lt;br /&gt;3. Pekerjaan  : Orang  yang harus berdiri atau duduk lama, atau harus mengangkat barang berat,  mempunyai predisposisi untuk hemoroid.&lt;br /&gt;4. Umur  : Pada umur tua  timbul degenerasi dari seluruh jaringan tubuh, juga otot sfingter  menjadi tipis dan atonis.&lt;br /&gt;5. Endokrin  : Misalnya pada wanita hamil  ada dilatasi vena ekstremitas dan anus (sekresi hormon relaksin).&lt;br /&gt;6.  Mekanis  : Semua keadaan yang mengakibatkan timbulnya tekanan yang  meninggi dalam rongga perut, misalnya penderita hipertrofi prostat.&lt;br /&gt;7.  Fisiologis  : Bendungan pada peredaran darah portal, misalnya pada  penderita dekompensasio kordis atau sirosis hepatis. (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.  Gejala dan Tanda&lt;br /&gt;Pasien sering mengeluh menderita hemoroid atau  “wasir” tanpa ada hubungannya dengan gejala rektum atau anus yang  khusus. Nyeri yang hebat jarang sekali ada hubungannya dengan hemoroid  interna dan hanya timbul pada hemoroid eksterna yang mengalami  trombosis.&lt;br /&gt;Perdarahan umumnya merupakan tanda pertama dari hemoroid  interna akibat trauma oleh faeces yang keras. Darah yang keluar berwarna  merah segar dan tidak tercampur dengan faeces, dapat hanya berupa garis  pada faeces atau kertas pembersih sampai pada perdarahan yang terlihat  menetes atau mewarnai air toilet menjadi merah. Walaupun berasal dari  vena, darah yang keluar berwarna merah segar karena kaya akan zat asam.  Perdarahan luas dan intensif di fleksus hemoroidalis menyebabkan darah  di vena tetap merupakan “darah arteri”.&lt;br /&gt;Kadang perdarahan hemoroid  yang berulang dapat berakibat timbulnya anemia berat. Hemoroid yang  membesar secara perlahan-lahan akhirnya dapat menonjol keluar  menyebabkan prolaps. Pada tahap awal, penonjolan ini hanya terjadi pada  waktu defekasi dan disusul reduksi spontan setelah defekasi. Pada  stadium yang lebih lanjut, hemoroid interna ini perlu didorong kembali  setelah defekasi agar masuk kembali ke dalam anus. Pada akhirnya  hemoroid dapat berlanjut menjadi bentuk yang mengalami prolaps menetap  dan tidak bisa didorong masuk lagi. Keluarnya mukus dan terdapatnya  faeces pada pakaian dalam merupakan ciri hemoroid yang mengalami prolaps  menetap. Iritasi kulit perianal dapat menimbulkan rasa gatal yang  dikenal sebagai pruritus anus dan ini disebabkan oleh kelembaban yang  terus menerus dan rangsangan mukus. Nyeri hanya timbul apabila terdapat  trombosis yang luas dengan udem dan radang.( 4 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Pemeriksaan&lt;br /&gt;Anamnesis  harus dikaitkan dengan faktor obstipasi, defekasi yang keras, yamg  membutuhkan tekanan intra abdominal meninggi ( mengejan ), pasien sering  duduk berjam-jam di WC, dan dapat disertai rasa nyeri bila terjadi  peradangan. Pemeriksaan umum tidak boleh diabaikan karena keadaan ini  dapat disebabkan oleh penyakit lain seperti sindrom hipertensi portal.  Hemoroid eksterna dapat dilihat dengan inspeksi apalagi bila terjadi  trombosis. Apabila hemoroid interna mengalami prolaps, maka tonjolan  yang ditutupi epitel penghasil musin akan dapat dilihat apabila  penderita diminta mengejan. Pada pemeriksaan colok dubur hemoroid intern  tidak dapat diraba sebab tekanan vena didalamnya tidak cukup tinggi,  dan biasanya tidak nyeri. Colok dubur diperlukan untuk menyingkirkan  kemungkinan karsinoma rectum.( 4,5 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Inspeksi&lt;br /&gt;Pada  inspeksi, hemoroid eksterna mudah terlihat apalagi sudah mengandung  trombus. Hemoroid interna yang prolaps dapat terlihat sebagai benjolan  yang tertutup mukosa. Untuk membuat prolaps dapat dengan menyuruh pasien  untuk mengejan.(4)&lt;br /&gt;2. RT&lt;br /&gt;Pada colok dubur, hemoroid interna  biasanya tidak teraba dan juga tidak sakit. Dapat diraba bila sudah ada  trombus atau sudah ada fibrosis. Trombus dan fibrosis pada perabaan  padat dengan dasar yang lebar.(5)&lt;br /&gt;3. Anoskopi&lt;br /&gt;Dengan cara ini kita  dapat melihat hemoroid interna. Penderita dalam posisi litotomi.  Anaskopi dengan penyumbatnya dimasukkan dalam anus sedalam mungkin,  penyumbat diangkat dan penderita disuruh bernafas panjang. Benjolan  hemoroid akan menonjol pada ujung anaskop. Bila perlu penderita disuruh  mengejan supaya benjolan dapat kelihatan sebesar-besarnya.&lt;br /&gt;Pada  anoskopi dapat dilihat warna selaput lendir yang merah meradang atau  perdarahan, banyaknya benjolan, letaknya dan besarnya benjolan.(4,5)&lt;br /&gt;4.  Proktosigmoidoskopi&lt;br /&gt;Pemeriksaan ini perlu dilakukan untuk memastikan  bahwa keluhan bukan disebabkan oleh proses radang atau proses keganasan  di tingkat yang lebih tinggi (rektum/sigmoid), karena hemoroid  merupakan keadaan fisiologik saja atau tanda yang menyertai. (4,5)&lt;br /&gt;5.  Pemeriksaan Feces&lt;br /&gt;Diperlukan untuk mengetahui adanya darah samar  (occult bleeding).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Diagnosa Banding&lt;br /&gt;Perdarahan rektum  merupakan manifestasi utama hemoroid interna yang juga terjadi pada :&lt;br /&gt;1.  Karsinoma kolorektum&lt;br /&gt;2. Penyakit divertikel&lt;br /&gt;3. Polip&lt;br /&gt;4.  Kolitis ulserosa&lt;br /&gt;Pemeriksaan sigmoidoskopi harus dilakukan. Foto  barium kolon dan kolonoskopi perlu dipilih secara selektif, bergantung  pada keluhan dan gejala penderita. Prolaps rektum juga harus dibedakan  dari prolaps mukosa akibat hemoroid interna. ( 5 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G.  Komplikasi&lt;br /&gt;Perdarahan  akut pada umumnya jarang , hanya terjadi apabila yang pecah adalah  pembuluh darah besar. Hemoroid dapat membentuk pintasan portal sistemik  pada hipertensi portal, dan apabila hemoroid semacam ini mengalami  perdarahan maka darah dapat sangat banyak. Yang lebih sering terjadi  yaitu perdarahan kronis dan apabila berulang dapat menyebabkan anemia  karena jumlah eritrosit yang diproduksi tidak bisa mengimbangi jumlah  yang keluar. Anemia terjadi secara kronis, sehingga sering tidak  menimbulkan keluhan pada penderita walaupun Hb sangat rendah karena  adanya mekanisme adaptasi. Apabila hemoroid keluar, dan tidak dapat  masuk lagi (inkarserata/terjepit) akan mudah terjadi infeksi yang dapat  menyebabkan sepsis dan bisa mengakibatkan kematian.( 3 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H.  Penatalaksanaan&lt;br /&gt;H1. Terapi non bedah&lt;br /&gt;a. Terapi obat-obatan  (medikamentosa) / diet&lt;br /&gt;Kebanyakan penderita hemoroid derajat pertama  dan derajat kedua dapat ditolong dengan tindakan lokal sederhana  disertai nasehat tentang makan. Makanan sebaiknya terdiri atas makanan  berserat tinggi seperti sayur dan buah-buahan. Makanan ini membuat  gumpalan isi usus besar, namun lunak, sehingga mempermudah defekasi dan  mengurangi keharusan mengejan berlebihan. (5)&lt;br /&gt;Supositoria dan salep  anus diketahui tidak mempunyai efek yang bermakna kecuali efek anestetik  dan astringen. Hemoroid interna yang mengalami prolaps oleh karena udem  umumnya dapat dimasukkan kembali secara perlahan disusul dengan tirah  baring dan kompres lokal untuk mengurangi pembengkakan. Rendam duduk  dengan dengan cairan hangat juga dapat meringankan nyeri. (5)&lt;br /&gt;b.  Skleroterapi&lt;br /&gt;Skleroterapi adalah penyuntikan larutan kimia yang  merangsang, misalnya 5% fenol dalam minyak nabati. Penyuntikan diberikan  ke submukosa dalam jaringan areolar yang longgar di bawah hemoroid  interna dengan tujuan menimbulkan peradangan steril yang kemudian  menjadi fibrotik dan meninggalkan parut. Penyuntikan dilakukan di  sebelah atas dari garis mukokutan dengan jarum yang panjang melalui  anoskop. Apabila penyuntikan dilakukan pada tempat yang tepat maka tidak  ada nyeri. Penyulit penyuntikan termasuk infeksi, prostatitis akut jika  masuk dalam prostat, dan reaksi hipersensitivitas terhadap obat yang  disuntikan.Terapi suntikan bahan sklerotik bersama nasehat tentang  makanan merupakan terapi yang efektif untuk hemoroid interna derajat I  dan II, tidak tepat untuk hemoroid yang lebih parah atau prolaps.( 4,5 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:  Sjamsuhidajat, Wim de Jong. Hemoroid, 2004 Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah,  Ed.2, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal: 672 – 675&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.  Ligasi dengan gelang karet&lt;br /&gt;Hemoroid yang besar atau yang mengalami  prolaps dapat ditangani dengan ligasi gelang karet menurut Barron.  Dengan bantuan anoskop, mukosa di atas hemoroid yang menonjol dijepit  dan ditarik atau dihisap ke tabung ligator khusus. Gelang karet didorong  dari ligator dan ditempatkan secara rapat di sekeliling mukosa pleksus  hemoroidalis tersebut. Pada satu kali terapi hanya diikat satu kompleks  hemoroid, sedangkan ligasi berikutnya dilakukan dalam jarak waktu 2 – 4  minggu.&lt;br /&gt;Penyulit utama dari ligasi ini adalah timbulnya nyeri karena  terkenanya garis mukokutan. Untuk menghindari ini maka gelang tersebut  ditempatkan cukup jauh dari garis mukokutan. Nyeri yang hebat dapat pula  disebabkan infeksi. Perdarahan dapat terjadi waktu hemoroid mengalami  nekrosis, biasanya setelah 7 – 10 hari.( 3,5 )&lt;br /&gt;d. Krioterapi / bedah  beku&lt;br /&gt;Hemoroid dapat pula dibekukan dengan suhu yang rendah sekali.  Jika digunakan dengan cermat, dan hanya diberikan ke bagian atas  hemoroid pada sambungan anus rektum, maka krioterapi mencapai hasil yang  serupa dengan yang terlihat pada ligasi dengan gelang karet dan tidak  ada nyeri. Dingin diinduksi melalui sonde dari mesin kecil yang  dirancang bagi proses ini. Tindakan ini cepat dan mudah dilakukan dalam  tempat praktek atau klinik. Terapi ini tidak dipakai secara luas karena  mukosa yang nekrotik sukar ditentukan luasnya. Krioterapi ini lebih  cocok untuk terapi paliatif pada karsinoma rektum yang ireponibel.( 3 )&lt;br /&gt;e.  Hemorroidal Arteri Ligation ( HAL )&lt;br /&gt;Pada terapi ini, arteri  hemoroidalis diikat sehingga jaringan hemoroid tidak mendapat aliran  darah yang pada akhirnya mengakibatkan jaringan hemoroid mengempis dan  akhirnya nekrosis.( 3 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Infra Red Coagulation ( IRC ) /  Koagulasi Infra Merah&lt;br /&gt;Dengan sinar infra merah yang dihasilkan oleh  alat yang dinamakan photocuagulation, tonjolan hemoroid dikauter  sehingga terjadi nekrosis pada jaringan dan akhirnya fibrosis. Cara ini  baik digunakan pada hemoroid yang sedang mengalami perdarahan.(3)&lt;br /&gt;g.  Generator galvanis&lt;br /&gt;Jaringan hemoroid dirusak dengan arus listrik  searah yang berasal dari baterai kimia. Cara ini paling efektif  digunakan pada hemoroid interna.&lt;br /&gt;h. Bipolar Coagulation / Diatermi  bipolar&lt;br /&gt;Prinsipnya tetap sama dengan terapi hemoroid lain di atas  yaitu menimbulkan nekrosis jaringan dan akhirnya fibrosis. Namun yang  digunakan sebagai penghancur jaringan yaitu radiasi elektromagnetik  berfrekuensi tinggi. Pada terapi dengan diatermi bipolar, selaput mukosa  sekitar hemoroid dipanasi dengan radiasi elektromagnetik berfrekuensi  tinggi sampai akhirnya timbul kerusakan jaringan. Cara ini efektif untuk  hemoroid interna yang mengalami perdarahan.( 3 )&lt;br /&gt;H2. Terapi bedah&lt;br /&gt;Terapi  bedah dipilih untuk penderita yang mengalami keluhan menahun dan pada  penderita hemoroid derajat III dan IV. Terapi bedah juga dapat dilakukan  dengan perdarahan berulang dan anemia yang tidak dapat sembuh dengan  cara terapi lainnya yang lebih sederhana. Penderita hemoroid derajat IV  yang mengalami trombosis dan kesakitan hebat dapat ditolong segera  dengan hemoroidektomi.&lt;br /&gt;Prinsip yang harus diperhatikan dalam  hemoroidektomi adalah eksisi yang hanya dilakukan pada jaringan yang  benar-benar berlebihan. Eksisi sehemat mungkin dilakukan pada anoderm  dan kulit yang normal dengan tidak mengganggu sfingter anus. Eksisi  jaringan ini harus digabung dengan rekonstruksi tunika mukosa karena  telah terjadi deformitas kanalis analis akibat prolapsus mukosa.( 4,6 )&lt;br /&gt;Ada  tiga tindakan bedah yang tersedia saat ini yaitu bedah konvensional  (menggunakan pisau dan gunting), bedah laser ( sinar laser sebagai alat  pemotong) dan bedah stapler (menggunakan alat dengan prinsip kerja  stapler).&lt;br /&gt;a. Bedah Konvensional&lt;br /&gt;Saat ini ada 3 teknik operasi yang  biasa digunakan yaitu :&lt;br /&gt;1. Teknik Milligan – Morgan&lt;br /&gt;Teknik ini  digunakan untuk tonjolan hemoroid di 3 tempat utama. Teknik ini  dikembangkan di Inggris oleh Milligan dan Morgan pada tahun 1973. Basis  massa hemoroid tepat diatas linea mukokutan dicekap dengan hemostat dan  diretraksi dari rektum. Kemudian dipasang jahitan transfiksi catgut  proksimal terhadap pleksus hemoroidalis. Penting untuk mencegah  pemasangan jahitan melalui otot sfingter internus.&lt;br /&gt;Hemostat kedua  ditempatkan distal terhadap hemoroid eksterna. Suatu incisi elips dibuat  dengan skalpel melalui kulit dan tunika mukosa sekitar pleksus  hemoroidalis internus dan eksternus, yang dibebaskan dari jaringan yang  mendasarinya. Hemoroid dieksisi secara keseluruhan. Bila diseksi  mencapai jahitan transfiksi cat gut maka hemoroid ekstena dibawah kulit  dieksisi. Setelah mengamankan hemostasis, maka mukosa dan kulit anus  ditutup secara longitudinal dengan jahitan jelujur sederhana.&lt;br /&gt;Biasanya  tidak lebih dari tiga kelompok hemoroid yang dibuang pada satu waktu.  Striktura rektum dapat merupakan komplikasi dari eksisi tunika mukosa  rektum yang terlalu banyak. Sehingga lebih baik mengambil terlalu  sedikit daripada mengambil terlalu banyak jaringan.( 6 )&lt;br /&gt;2. Teknik  Whitehead&lt;br /&gt;Teknik operasi yang digunakan untuk hemoroid yang sirkuler  ini yaitu dengan mengupas seluruh hemoroid dengan membebaskan mukosa  dari submukosa dan mengadakan reseksi sirkuler terhadap mukosa daerah  itu. Lalu mengusahakan kontinuitas mukosa kembali.&lt;br /&gt;3. Teknik  Langenbeck&lt;br /&gt;Pada teknik Langenbeck, hemoroid internus dijepit radier  dengan klem. Lakukan jahitan jelujur di bawah klem dengan cat gut  chromic no 2/0. Kemudian eksisi jaringan diatas klem. Sesudah itu klem  dilepas dan jepitan jelujur di bawah klem diikat. Teknik ini lebih  sering digunakan karena caranya mudah dan tidak mengandung resiko  pembentukan jaringan parut sekunder yang biasa menimbulkan stenosis.( 5 )&lt;br /&gt;Dalam  melakukan operasi diperlukan narkose yang dalam karena sfingter ani  harus benar-benar lumpuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Bedah Laser&lt;br /&gt;Pada prinsipnya,  pembedahan ini sama dengan pembedahan konvensional, hanya alat  pemotongnya menggunakan laser. Saat laser memotong, pembuluh jaringan  terpatri sehingga tidak banyak mengeluarkan darah, tidak banyak luka dan  dengan nyeri yang minimal. Pada bedah dengan laser, nyeri berkurang  karena saraf rasa nyeri ikut terpatri. Di anus, terdapat banyak saraf.  Pada bedah konvensional, saat post operasi akan terasa nyeri sekali  karena pada saat memotong jaringan, serabut saraf terbuka akibat serabut  saraf tidak mengerut sedangkan selubungnya mengerut.&lt;br /&gt;Sedangkan pada  bedah laser, serabut saraf dan selubung saraf menempel jadi satu,  seperti terpatri sehingga serabut syaraf tidak terbuka. Untuk  hemoroidektomi, dibutuhkan daya laser 12 – 14 watt. Setelah jaringan  diangkat, luka bekas operasi direndam cairan antiseptik. Dalam waktu 4 –  6 minggu, luka akan mengering. Prosedur ini bisa dilakukan hanya dengan  rawat jalan ( 7 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Bedah Stapler&lt;br /&gt;Teknik ini juga dikenal  dengan nama Procedure for Prolapse Hemorrhoids (PPH) atau Hemoroid  Circular Stapler. Teknik ini mulai diperkenalkan pada tahun 1993 oleh  dokter berkebangsaan Italia yang bernama Longo sehingga teknik ini juga  sering disebut teknik Longo. Di Indonesia sendiri alat ini diperkenalkan  pada tahun 1999. Alat yang digunakan sesuai dengan prinsip kerja  stapler. Bentuk alat ini seperti senter, terdiri dari lingkaran di depan  dan pendorong di belakangnya.&lt;br /&gt;Pada dasarnya hemoroid merupakan  jaringan alami yang terdapat di saluran anus. Fungsinya adalah sebagai  bantalan saat buang air besar. Kerjasama jaringan hemoroid dan  m.sfingter ani untuk melebar dan mengerut menjamin kontrol keluarnya  cairan dan kotoran dari dubur. Teknik PPH ini mengurangi prolaps  jaringan hemoroid dengan mendorongnya ke atas garis mukokutan dan  mengembalikan jaringan hemoroid ini ke posisi anatominya semula karena  jaringan hemoroid ini masih diperlukan sebagai bantalan saat BAB,  sehingga tidak perlu dibuang semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internal/External  Hemorrhoids [1]  Dilator [2]  Purse String [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Closing PPH  [4]             Mucosa Pull [5]  Staples [6]&lt;br /&gt;Gambar diambil dari:  http://medlinux.blogspot.com/2009/02/hemoroid.html&lt;br /&gt;Gambar 3. Bedah  stapler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula jaringan hemoroid yang prolaps didorong ke atas  dengan alat yang dinamakan dilator, kemudian dijahitkan ke tunika  mukosa dinding anus. Kemudian alat stapler dimasukkan ke dalam dilator.  Dari stapler dikeluarkan sebuah gelang dari titanium diselipkan dalam  jahitan dan ditanamkan di bagian atas saluran anus untuk mengokohkan  posisi jaringan hemoroid tersebut. Bagian jaringan hemoroid yang  berlebih masuk ke dalam stapler. Dengan memutar sekrup yang terdapat  pada ujung alat, maka alat akan memotong jaringan yang berlebih secara  otomatis. Dengan terpotongnya jaringan hemoroid maka suplai darah ke  jaringan tersebut terhenti sehingga jaringan hemoroid mengempis dengan  sendirinya.&lt;br /&gt;Keuntungan teknik ini yaitu mengembalikan ke posisi  anatomis, tidak mengganggu fungsi anus, tidak ada anal discharge, nyeri  minimal karena tindakan dilakukan di luar bagian sensitif, tindakan  berlangsung cepat sekitar 20 – 45 menit, pasien pulih lebih cepat  sehingga rawat inap di rumah sakit semakin singkat.( 3,7,8 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun  jarang, tindakan PPH memiliki resiko yaitu :&lt;br /&gt;1. Jika terlalu banyak  jaringan otot yang ikut terbuang, akan mengakibatkan kerusakan dinding  rektum.&lt;br /&gt;2. Jika m. sfinter ani internus tertarik, dapat menyebabkan  disfungsi baik dalam jangka waktu pendek maupun jangka panjang.&lt;br /&gt;3.  Seperti pada operasi dengan teknik lain, infeksi pada pelvis juga pernah  dilaporkan.&lt;br /&gt;4. PPH bisa saja gagal pada hemoroid yang terlalu besar  karena sulit untuk memperoleh jalan masuk ke saluran anus dan kalaupun  bisa masuk, jaringan mungkin terlalu tebal untuk masuk ke dalam stapler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H3.  Tindakan pada hemoroid eksterna yang mengalami trombosis&lt;br /&gt;Keadaan ini  bukan hemoroid dalam arti yang sebenarnya tetapi merupakan trombosis  vena oroid eksterna ang terletak subkutan di daerah kanalis analis.  Trombosis dapat terjadi karena tekanan tinggi di vena tersebut misalnya  ketika mengangkat barang berat, batuk, bersin, mengejan, atau partus.  Vena lebar yang menonjol itu dapat terjepit sehingga kemudian terjadi  trombosis. Kelainan yang nyeri sekali ini dapat terjadi pada semua usia  dan tidak ada hubungan dengan ada/tidaknya hemoroid interna Kadang  terdapat lebih dari satu trombus.4&lt;br /&gt;Keadaan ini ditandai dengan adanya  benjolan di bawah kulit kanalis analis yang nyeri sekali, tegang dan  berwarna kebiru-biruan, berukuran dari beberapa milimeter sampai satu  atau dua sentimeter garis tengahnya. Benjolan itu dapat unilobular, dan  dapat pula multilokuler atau beberapa benjolan. Ruptur dapat terjadi  pada dinding vena, meskipun biasanya tidak lengkap, sehingga masih  terdapat lapisan tipis adventitiia menutupi darah yang membeku.4&lt;br /&gt;Pada  awal timbulnya trombosis, erasa sangat nyeri, kemudian nyeri berkurang  dalam waktu dua sampai tiga hari bersamaan dengan berkurangnya udem  akut. Ruptur spontan dapat terjadi diikuti dengan perdarahan. Resolusi  spontan dapat pula terjadi tanpa terapi setelah dua sampai empat hari(  4,8,9 )&lt;br /&gt;Terapi.&lt;br /&gt;Keluhan dapat dikurangi dengan rendam duduk  menggunakan larutan hangat, salep yang mengandung analgesik untuk  mengurangi nyeri atau gesekan pada waktu berjalan, dan sedasi. Istirahat  di tempat tidur dapat membantu mempercepat berkurangnya pembengkakan.  Pasien yang datang sebelum 48 jam dapat ditolong dan berhasil baik  dengan cara segera mengeluarkan trombus atau melakukan eksisi lengkap  secara hemoroidektomi dengan anestesi lokal. Bila trombus sudah  dikeluarkan, kulit dieksisi berbentuk elips untuk mencegah bertautnya  tepi kulit dan pembentukan kembali trombus dibawahnya. Nyeri segera  hilang pada saat tindakan dan luka akan sembuh dalam waktu singkat sebab  luka berada di daerah yang kaya akan darah.(4)&lt;br /&gt;Trombus yang sudah  terorganisasi tidak dapat dikeluarkan, dalam hal ini terapi konservatif  merupakan pilihan. Usaha untuk melakukan reposisi hemoroid ekstern yang  mengalami trombus tidak boleh dilakukan karena kelainan ini terjadi pada  struktur luar anus yang tidak dapat direposisi( 4 )&lt;br /&gt;Dilatasi anus  merupakan salah satu pengobatan pada hemoroid interna yang besar,  prolaps, berwarna biru dan sering berdarah atau yang biasa disebut  hemoroid strangulasi. Pada pasien hemoroid hampir selalu terjadi karena  kenaikan tonus sfingter dan cincin otot sehingga menutup di belakang  massa hemoroid menyebabkan strangulasi. Dilatasi dapat mengatasi  sebagian besar pasien hemoroid strangulasi, akan terjadi regresi  sehingga setidak-tidaknya akan terjadi penyembuhan sementara. Dilatasi  tidak boleh dilakukan jika sfingter relaksasi ( jarang pada  strangulasi), karena bisa menyebabkan inkontinensia flatus atau tinja  atau kedua-duanya yang mungkin menetap.&lt;br /&gt;Anestesi umum dilakukan dan  pasien diletakkan pada posisi lateral kiri atau posisi litotomi. Dengan  hati-hati anus diregangkan cukup luas sehingga dapat dilalui 6–8 jari.  Sangat penting sekali bahwa untuk prosedur ini diperlukan waktu yang  cukup agar tidak merobekkan jaringan. Satu menit untuk sebesar satu jari  sudah cukup ( berarti dibutuhkan waktu 6-8 menit), terutama jika  kanalis agak kaku. Selama prosedur tersebut, sfingter anus dapat terasa  memberikan jalan. Namun karena metode dilatasi menurut Lord ini kadang  disertai penyulit inkontinensia sehingga tidak dianjurkan.(4,9,10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR  PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Silvia A.P, Lorraine M.W, Hemoroid, 2005. Dalam:  Konsep – konsep Klinis Proses Penyakit, Edisi VI, Patofisiologi Vol.1.  Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal: 467&lt;br /&gt;2. Susan Galandiuk,  MD, Louisville, KY, A Systematic Review of Stapled Hemorrhoidectomy –  Invited Critique, Jama and Archives, Vol. 137 No. 12, December, 2002,  http://archsurg.ama.org/egi/content/extract. last update Desember 2009&lt;br /&gt;3.  Anonim, 2004, Hemorhoid, http://www.hemorjoid.net/hemoroid galery.html.  Last update Desember 2009.&lt;br /&gt;4. Sjamsuhidajat, Wim de Jong. Hemoroid,  2004 Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed.2, Jakarta, Penerbit Buku  Kedokteran EGC. Hal: 672 – 675&lt;br /&gt;5. Werner Kahle ( Helmut  Leonhardt,werner platzer ), dr Marjadi Hardjasudarma ( alih bahasa ),  1998, Berwarna dan teks anatomi Manusia Alat – Alat Dalam,Hal: 232&lt;br /&gt;6.  Mansjur A dkk ( editor ), 1999, Kapita selecta Kedokteran, Jilid II,  Edisi III, FK UI, Jakarta,pemeriksaan penunjang: 321 – 324.&lt;br /&gt;7.  Linchan W.M,1994,Sabiston Buku Ajar Bedah Jilid II,EGC, Jakarta,hal 56 –  59.&lt;br /&gt;8. Brown, John Stuart, Buku Ajar dan Atlas Bedah Minor, alih  Bahasa, Devi H, Ronardy, Melfiawati, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran  EGC, 2001.&lt;br /&gt;9. Dudley, Hug A.F, Hamilton Bailey, Ilmu Bedah Gawat  Darurat, Ed. 11, alih Bahasa, Samik Wahab, Soedjono Aswin, Yogyakarta,  Gajah Mada University press, 2001&lt;br /&gt;10. Schwartz, Seymour I, Principles  of Surgery, 2 vol, Ed. 6, New York, Mc Graw-Hill Publishing Company,  2004.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-2619690343177690279?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/2619690343177690279/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/07/hemoroid.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/2619690343177690279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/2619690343177690279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/07/hemoroid.html' title='HEMOROID'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-7845392302661864107</id><published>2010-06-15T02:15:00.000-07:00</published><updated>2010-06-15T02:15:43.649-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PATOFISIOLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PATOLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ABDOMINAL COMPLAINT'/><title type='text'>SIROSIS HATI</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Hati (liver) merupakan organ terbesar  dalam tubuh manusia. Didalam hati terjadi proses-proses penting bagi  kehidupan kita, yaitu proses penyimpanan energi, pembentukan protein dan  asam empedu, pengaturan metabolisme kolesterol, dan penetralan racun  atau obat yang masuk dalan tubuh kita. Sehingga dapat kita bayangkan  akibat yang akan timbul apabila terjadi kerusakan pada hati. Beberapa  penyakit hati antara lain : penyakit hati karena infeksi, penyakit hati  karena racun, genetik atau keturunan, gangguan imun, dan kanker. Oleh  karena itu perlu perhatian pada hati untuk menghindari hal-hal yang  dapat menimbulkan penyakit hati tersebut, dan bila telah terjadi  penyakit hati tersebut, harus dapat dideteksi dengan segera. &lt;sup&gt;(1)&lt;span id="more-430"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;DEFINISI&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sirosis hati adalah penyakit hati  menahun yang difus ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat  disertai nodul. Pembentukan jaringan ikat saja seperti pada payah  jantung, obstruksi saluran empedu juga pembentukan nodul saja seperti  sindroma Felty dan transformasi nodular parsial bukanlah suatu sirosis  hati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Biasanya dimulai dengan adanya proses  peradangan, nekrosis sel hati yang luas, pembentukan jaringan ikat dan  usaha regenerasi nodul. Distorsi arsitektur hati akan menimbulkan  perubahan sirkulasi mikro dan makro menjadi tidak teratur akibat  perubahan jaringan ikat dan nodul tersebut. &lt;sup&gt;(2)&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;EPIDEMIOLOG1&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Angka kejadian sirosis hati dari hasil  autopsy sekitar 2,4 % di Barat. Angka kejadian di Indonesia menunjukkan  pria lebih banyak menderita sirosis dari wanita (2 – 4: 1), terbanyak  didapat pada dekade kelima.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;ETIOLOGI&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sirosis pascanekrosis adalah suatu  istilah morfologik yang mengacu kepada stadium tertentu cedera hati  kronik tahap lanjut oleh sebab spesifik dan kriptogenik. Bukti  epidemiologi dan serologi mengisyaratkan bahwa hepatitis virus (hep. B  dan C) mungkin merupakan faktor pendahulu. Penyebab sirosis hati lainnya  antara lain : alkohol, infeksi Bruselosis, skistomiasis,  toksoplasmosis, defisiensi α 1 antitripsin, sindroma fanconi,  galaktosemia, penyakit Gaucher, hemokromatosis, penyakit Wilson,  obat-obatan dan toksin : arsenikal, isoniazid, metotreksat, metildopa,  kontrasepsi oral, juga penyebab lain berupa penyakit usus inflamasi  kronik, fibrosis kistik, sarkoidosis. &lt;sup&gt;(3,4)&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;PATOGENESIS&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Infeksi hepatitis viral tipe B/C  menimbulkan peradangan sel hati. Peradangan ini menyebabkan nekrosis  meliputi daerah yang luas, terjadi kolaps lobulus hati dan ini memacu  timbulnya jarigan parut disertai terbentuknya septa fibrosa difus dan  nodul sel hati. Walaupun etiologinya berbeda, gambaran histologis  sirosis hati sama atau hampir sama. Septa bisa dibentuk dari sel  retikulum penyangga yang kolaps dan berubah jadi parut. Jaringan parut  ini dapat menghubungkan daerah porta yang satu dengan yang lainnya atau  porta dengan sentral (bridging necrosis).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Beberapa sel tumbuh kembali dan  membentuk nodul dengan berbagai ukuran dan ini menyebabkan distorsi  percabangan pembuluh hepatik dan gangguan aliran darah porta, dan  menimbulkan hipertensi portal. Hal demikian dapat pula terjadi pada  sirosis alkoholik tapi prosesnya lebih lama. Tahap berikutnya terjadi  peradangan dari sirosis pada sel duktules, sinusoid retikuloendotel,  terjadi Abrogenesis dan septa aktif Jaringan kolagen berubah dari  reversibel menjadi ireversibel bila telah tertbentuk septa permanen yang  aselular pada daerah porta dan parenkim hati. Gambaran septa ini  bergantung etiologi sirosis. Pada sirosis dengan etiologi  hemokromatosis, besi mengakibatkan fibrosis daerah portal, pada sirosis  alkoholik timbul fibrosis daerah sentral. Sel limfosit T dan makrofag  menghasilkan limfokin dan monokin, mungkin sebagai mediator timbulnya  fibrinogen. Mediator ini tidak memerlukan peradangan dan nekrosis aktif.  Septa aktif ini berasal dari daerah porta menyebar ke parenkim hati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kolagen ada 4 tipe dengan lokasi sebagai  berikut :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tipe I&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : lokasi daerah  sentral.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tipe II &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :  sinusoid.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tipe III&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : jaringan  retikulin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tipe IV &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : membran basal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pada sirosis terdapat peningkatan  pertumbuhan semua jenis kolagen tersebut. Pada sirosis, pembentukan  jaringan kolagen dirangsang oleh nekrosis hepatoselular, juga asidosis  laktat merupakan faktor perangsang. &lt;sup&gt;(2)&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;KLASIFIKASI &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Terdiri dari:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Klasifikasi etiologi&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Etiologi yang diketahui  penyebabnya :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Hepatitis virus tipe B dan C&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Alkohol Metabolik : hemokromatosis  idiopatik, penyakit Wilson, defisiensi a 1 antitripsin, DM.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Kolestasis kronik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Obstruksi aliran vena hepatlk.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Gangguan imunologis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Toksik dan obat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Operasi pintas usus halus pada  obesitas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Malnutrisi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Etiologi tanpa diketahui  penyebabnya (kriptogenik).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Klasifikasi morfologi.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sirosis mikronodular :  ditandai terbentuknya septa tebal teratur, didalam septa parenkim hati  mengandung nodul halus dan kecil merata diseluruh nodul.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sirosis makronodular :  ditandai dengan terbentuknya septa dengan ketebalan bervariasi  mengandung nodul yang besarnya juga bervariasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sirosis campuran : umunmya  sirosis hati adalah jenis campuran ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Klasifikasi fungsional&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Secara fungsi sirosis hati dibagi atas&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kompensasi baik (laten,  sirosis dini).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dekompensasi (laten, sirosis  dini).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; I.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kegagalan hati.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dapat timbul keluhan subjektif berupa  lemah, berat badan menurun, gembung, mual, spider naevi, eritema  palmaris, asites, pertumbuhan rambut berkurang, atropi testis dan  ginekomastia pada pria. Juga dapat timbul ikterus, ensefalopati hepatik,  hipoalbuminemia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; II.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hipertensi portal.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bisa terjadi pertama akibat meningkatnya  retensi portal dan splanknik karena mengurangnya sirkulasi akibat  fibrosis, dan kedua akibat meningkatnya aliran portal karena transmisi  dari tekanan arteri hepatik ke sistem portal akibat distorsi arsitektur  hati. Lokasi peningkatan retensi bisa:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Prehepatik, biasa kongenital, trombosis vena portal waktu lahir,  fistula arterivenosa atau mikrofibrosis limfa.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Intrahepatik, presinusoidal, sinusoidal, post sinusoidal. Biasa  terjadi obstruksi campuran.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Posthepatik karena perikarditis konstriktiva, insufisiensi  trikuspidal.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;MANIFESTASI KLINIS&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Keluhan pasien sirosis hati tergantung  pada fase penyakitnya. Gejala kegagalan hati ditimbulkan oleh keaktifan  proses hepatitis kronik yang masih berjalan bersamaan dengan sirosis  hati yang telah terjadi dalam proses penyakit hati yang berlanjut sulit  dibedakan hepatitis kronik aktif yang berat dengan permulaan sirosis  yang terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Fase kompensasi sempurna.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pada fase ini pasien tidak mengeluh sama  sekali atau bisa juga keluhan samar-samar tidak khas seperti pasien  merasa tidak fit, merasa kurang kemampuan kerja, selera makan berkurang,  perasaan perut kembung, mual, kadang mencret atau konstipasi, berat  badan menurun, kelemahan otot dan perasaan cepat lelah akibat deplesi  protein. Keluhan dan gejala tersebut tidak banyak bedanya dengan pasien  hepatitis kronik aktif tanpa sirosis hati dan tergantung pada luasnya  kerusakan parenkim hati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Fase dekompensasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pasien sirosis hati dalam fase ini sudah  dapat ditegakkan diagnosisnya dengan bantuan pemeriksaan klinis,  laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya. Terutama bila timbul  komplikasi kegagalan hati dan hipertensi portal dengan manifestasi  seperti eritema palmaris, spider naevi, vena kolateral pada dinding  perut, ikterus, edema pretibial dan asites. Ikterus dengan air kemih  berrwarna teh pekat mungkin disebabkan proses penyakit yang berlanjut  atau transformasi kearah keganasan hati, dimana tumor akan menekan  saluran empedu atau terbentuknya thrombus saluran empedu intrahepatik.  Bisa juga pasien datang dengan gangguan pembekuan darah seperti  epistaksis, perdarahan gusi, gangguan siklus haid, atau siklus haid  berhenti. Sebagian pasien datang dengan gejala hematemesis dan melena,  atau melena saja akibat perdarahan varises esofagus. Perdarahan bisa  masif dan menyebabkan pasien jatuh kedalam renjatan. Pada kasus lain  sirosis datang dengan gangguan kesadaran berupa ensefalopati hepatik  sampai koma hepatik. Ensefalopati bisa akibat kegagalan hati pada  sirosis hati fase lanjut atau akibat perdarahan varises esofagus. &lt;sup&gt;(2,  3, 4)&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;PEMERIKSAAN PENUNJANG &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Pemeriksaan Laboratorium&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Darah&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bisa dijumpai Hb rendah, anemia  normokrom normositer, hipokrom mikrositer atau makrositer. Anemia bisa,  akibat hipersplenisme dengan leukopenia dan trombositopenia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kenaikan enzim transaminase / SGOT, SGPT tidak merupakan petunjuk  tentang berat dan luasnya kerusakan parenkhim hati. Kenaikan kadarnya  didalam serum timbul akibat kebocoran dari sel yang mengalami kerusakan.  Peninggian kadar gama GT sama dengan transaminase, ini lebih sensitif  tetapi kurang spesifik. Pemeriksaan bilirubin, transaminase dan gama GT  tidak meningkat pada sirosis inaktif.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Albumin. Penurunan kadar albumin dan peningkatan kadar globulin  merupakan tanda kurangnya daya hati dalam menghadapi stress.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pemeriksaan CHE. Bila terjadi kerusakan sel hati, kadar CHE akan  turun.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pemeriksaan kadar elektrolit penting dalam penggunaan diuretik dan  pembatasan garam dalam diet.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pemanjangan masa protombin merupakan petunjuk adanya penurunan  fungsi hati. Pemberian vit. K parenteral dapat memperbaiki masa  protrombin.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Peninggian kadar gula darah pada sirosis hati fase lanjut disebabkan  kurangnya kemampuan sel hati membentuk glikogen.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pemeriksaan marker serologi pertanda virus seperti HBS Ag/ HBS Ab,  HbeAg/ HbeAb, HBV DNA, HCV RNA.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pemeriksaan AFP penting dalam menentukan  apakah telah terjadi transformasi kearah keganasan. Nilai AFP &amp;gt; 500 –  1000 mempunyai nilai diagnostik suatu kanker hati primer.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Pemeriksaan jasmani.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Terdapat pembesaran hati pada awal  sirosis, pembesaran limfe, pada perut terdapat vena kolateral dan  asites, spider naevi/ kaput medusa, eritema palmaris.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Pemeriksaan penunjang lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Esofagoskopi, USG, CT-Scan, ERCP,  Angiografl. &lt;sup&gt;(2)&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;DIAGNOSIS&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pada saat ini penegakan diagnosis  sirosis hati terdiri atas pemeriksaan fisik, laboratorium, USG. Pada  kasus tertentu diperlukan pemeriksaan biopsi hati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pada stadium dekompensasi kadang tidak  sulit menegakkan diagnosa sirosis hati diantaranya :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Splenomegali&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Asites&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Edema pretibial&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Laboratorium khususnya albumin&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tanda kegagalan berupa eritema      palmaris, spider naevi, vena  kolateral.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Suharyono Soebandiri memformulasikan  bahwa 5 dari 7 tanda dibawah ini sudah dapat menegakkan diagnosa  sirosis hati dekompensasi :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Asites&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Splenomegali&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Perdarahan varises&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Albumin yang merendah&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Spider naevi&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Eritema palmaris&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Vena kolateral. &lt;sup&gt;(2, 3, 5)&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;KOMPLIKASI&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;v&amp;nbsp; Kegagalan hati&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;v&amp;nbsp; Hipertensi portal&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;v&amp;nbsp; Asites&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;v&amp;nbsp; Ensefalopati&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;v&amp;nbsp; Peritonitis bacterial spontan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;v&amp;nbsp; Sindrom hepatorenal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;v&amp;nbsp; Transforrnasi kearah kanker hati  primer. &lt;sup&gt;(2,6)&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;PENGOBATAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Terapi dan prognosis sirosis hati  tergaantug pada derajat komplikasi kegagalan hati dan hipertensi portal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;v&amp;nbsp; Pasien dalam keadaan kompensasi hati  yang cukup baik, dilakukan kontrol yang teratur, istirahat yang cukup,  susunan diet tinggi kalori dan protein, lemak secukupnya (DH III-IV).  Bila timbul ensefalopati protein dikurangi (DH I).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;v&amp;nbsp; Pasien sirosis hati dengan penyebab  diketahui, seperti alkohol, hemokromatosis, penyakit Wilson, diobati  penyebabnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;v&amp;nbsp; Pada keadaan lain dilakukan terapi  terhadap komplikasi yang timbul.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Untuk asites, diberi rendah garam 0,5 gr/hari dan total cairan 1,5  l/hr. spironolakton dimulai dengan dosis awal 4 x 25 mg/hr dinaikkan  sampai total dosis 800 mg sehari. Idealnya penurunan berat badan 1  kg/hr. Bila perlu dikombinasikan dengan furosemid.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Perdarahan varises esofagus. Pasien dirawat dirumah sakit sebagai  kasus perdarahan saluran cerna atas.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Untuk ensefalopati dilakukan koreksi faktor pencetus seperti  pemberian KCL pada hipokalemia, mengurangi pemasukan protein makanan  dengan memberi diet DH I, aspirasi cairan lambung bagi pasien yang  mengalami perdarahan pada varises, dilakukan klisma untuk mengurangi  absorpsi bahan nitrogen dan pemberian duphalac 2 x C II.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Peritonitis bacterial spontan diberi antibiotik pilihan, seperti  cefotaxim 2 gr/8 jam iv.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sindroma hepatorenal, imbangan air dan garam diatur dengan ketat,  atasi infeksi dengan pemberian antibiotik. &lt;sup&gt;(2)&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;PROGNOSIS&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Prognosis tidak baik bila&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ikterus yang menetap atau bilirubin      darah &amp;gt; 1,5 mg%&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Asites refrakter atau memerlukan      diuretik dosis besar&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kadar albumin rendah (&amp;lt; 2,5 gr%)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kesadaran menurun tanpa faktor pencetus&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Hati mengecil&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Perdarahan akibat varises esofagus&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Komplikasi neurologis&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kadar protrombin rendah&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kadar natriumn darah rendah (&amp;lt; 120 meq/i),      tekanan systole  &amp;lt; 100 mmHg&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;CHE rendah. &lt;sup&gt;(2)&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.prodia.co.id/infoterkini/isihati.html"&gt;http://www.prodia.co.id/infoterkini/isihati.html&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Noer Sjaifoelah, “Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam”, Balai Penerbit  FK-UI, Jilid 1, Edisi ketiga, Jakarta, 1996, Hal 271-279.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Isselboucher, Kurt, Braunwald, Eugene, “Prinsip-prinsip Ilmu  Penyakit Dalam”, Edisi 13, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Hal. 1668.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sherlock, Sheila, “Disease of the liver and biliary system”, fifth  edition, Blackwell Scientific Publications, Hal 425-439.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.otsuka.co.id/aminoleban/sirosishati.htm-37k-"&gt;http://www.otsuka.co.id/aminoleban/sirosishati.htm-37k-&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.iptek.net.id/eng/horizon-idx.php?=sirosis-hati.htm"&gt;http://www.iptek.net.id/eng/horizon-idx.php?=sirosis-hati.htm&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-7845392302661864107?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/7845392302661864107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/06/sirosis-hati_15.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/7845392302661864107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/7845392302661864107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/06/sirosis-hati_15.html' title='SIROSIS HATI'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-1892883073786798450</id><published>2010-05-25T02:04:00.000-07:00</published><updated>2010-05-25T02:04:28.515-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MEKANISME PEYAKIT dan DASAR DASAR TERAPI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PATOFISIOLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PATOLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IMUNOLOGI'/><title type='text'>REAKSI HIPERSENSITIVITAS</title><content type='html'>&lt;h2 style="text-align: center;"&gt;Reaksi Hipersensitivitas&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img alt="" height="294" src="http://1.bp.blogspot.com/_u337ThvlyDw/SNwJpBC6_XI/AAAAAAAABGk/pu387pDiFoE/s400/Acute+Hypersensitivity+Reactions.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pada keadaan normal, mekanisme pertahanan tubuh baik humoral maupun  selular tergantung pada aktivasi sel B dan sel T. Aktivasi berlebihan  oleh antigen atau gangguan mekanisme ini, akan menimbulkan suatu keadaan  imunopatologik yang disebut reaksi hipersensitivitas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menurut Gell dan Coombs, reaksi hipersensitivitas dapat dibagi  menjadi 4 tipe, yaitu tipe I hipersensitif anafilaktik, tipe II  hipersensitif sitotoksik yang bergantung antibodi, tipe III  hipersensitif yang diperani kompleks imun, dan tipe IV hipersensitif &lt;em&gt;cell-mediated&lt;/em&gt;  (hipersensitif tipe lambat). Selain itu masih ada satu tipe lagi yang  disebut sentivitas tipe V atau &lt;em&gt;stimulatory hipersensitivity&lt;/em&gt;.&lt;em&gt;  &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pembagian reaksi hipersensitivitas oleh Gell dan Coombs adalah usaha  untuk mempermudah evaluasi imunopatologi suatu penyakit. Dalam keadaan  sebenarnya seringkali keempat mekanisme ini saling mempengaruhi.  Aktivasi suatu mekanisme akan mengaktifkan mekanisme yang lainnya.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;img alt="" height="387" src="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/bookshelf/picrender.fcgi?book=imm&amp;amp;part=A1719&amp;amp;blobname=CH12F2.jpg" width="506" /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;img alt="" height="329" src="http://chem4513.pbworks.com/f/1228145972/hypersensitivity.jpg" width="523" /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;REAKSI HIPERSENTIVITAS TIPE I&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sel mast dan basofil pertama kali dikemukakan oleh Paul Ehrlich  lebih dari 100 tahun yang lalu. Sel ini mempunyai gambaran granula  sitoplasma yang mencolok. Pada saat itu sel mast dan basofil belum  diketahui fungsinya. Beberapa waktu kemudian baru diketahui bahwa  sel-sel ini mempunyai peran penting pada reaksi hipersensitivitas tipe  cepat (reaksi tipe I) melalui mediator yang dikandungnya, yaitu histamin  dan zat peradangan lainnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Reaksi hipersensitivitas tipe I, atau tipe cepat ini ada yang  membagi menjadi reaksi anafilaktik (tipe Ia) dan reaksi anafilaktoid  (tipe Ib). Untuk terjadinya suatu reaksi selular yang berangkai pada  reaksi tipe Ia diperlukan interaksi antara IgE spesifik yang berikatan  dengan reseptor IgE pada sel mast atau basofil dengan alergen yang  bersangkutan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Proses aktivasi sel mast terjadi bila IgE atau reseptor spesifik  yang lain pada permukaan sel mengikat anafilatoksin, antigen lengkap  atau kompleks kovalen hapten-protein. Proses aktivasi ini akan  membebaskan berbagai mediator peradangan yang menimbulkan gejala alergi  pada penderita, misalnya reaksi anafilaktik terhadap penisilin atau  gejala rinitis alergik akibat reaksi serbuk bunga.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Reaksi anafilaktoid terjadi melalui degranulasi sel mast atau  basofil tanpa peran IgE. Sebagai contoh misalnya reaksi anafilaktoid  akibat pemberian zat kontras atau akibat anafilatoksin yang dihasilkan  pada proses aktivasi komplemen (lihat bab mengenai komplemen).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Eosinofil berperan secara tidak langsung pada reaksi  hipersensitivitas tipe I melalui faktor kemotaktik eosinofil-anafilaksis  (ECF-A =&lt;em&gt; eosinophil chemotactic factor of anaphylaxis&lt;/em&gt;).&lt;em&gt; &lt;/em&gt;Zat  ini merupakan salah satu dari &lt;em&gt;preformed mediators &lt;/em&gt;yaitu  mediator yang sudah ada dalam granula sel mast selain histamin dan  faktor kemotaktik neutrofil (NCF = &lt;em&gt;neutrophil chemotactic factor&lt;/em&gt;).&lt;em&gt;  &lt;/em&gt;Mediator yang terbentuk kemudian merupakan metabolit asam  arakidonat akibat degranulasi sel mast yang berperan pada reaksi tipe I.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menurut jarak waktu timbulnya, reaksi tipe I dibagi menjadi 2, yaitu  fase cepat dan fase lambat.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;strong&gt;Reaksi hipersensitivitas tipe I fase cepat &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;Reaksi  hipersensitivitas tipe I fase cepat biasanya terjadi beberapa menit  setelah pajanan antigen yang sesuai. Reaksi ini dapat bertahan dalam  beberapa jam walaupun tanpa kontak dengan alergen lagi. Setelah masa  refrakter sel mast dan basofil yang berlangsung selama beberapa jam,  dapat terjadi resintesis mediator farmakologik reaksi hipersensitivitas,  yang kemudian dapat responsif lagi terhadap alergen.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Reaksi hipersensitivitas tipe I fase lambat &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;Mekanisme  terjadinya reaksi hipersensitivitas tipe I fase lambat ini belum jelas  benar diketahui. Ternyata sel mast masih merupakan sel yang menentukan  terjadinya reaksi ini seperti terbukti bahwa reaksi alergi tipe lambat  jarang terjadi tanpa didahului reaksi alergi fase cepat. Sel mast dapat  membebaskan mediator kemotaktik dan sitokin yang menarik sel radang ke  tempat terjadinya reaksi alergi. Mediator fase aktif dari sel mast  tersebut akan meningkatkan permeabilitas kapiler yang meningkatkan sel  radang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Limfosit mungkin memegang peranan dalam timbulnya reaksi alergi fase  lambat dibandingkan dengan sel mast. Limfosit dapat melepaskan &lt;em&gt;histamin  releasing factor &lt;/em&gt;dan sitokin lainnya yang akan meningkatkan  pelepasan mediator-mediator dari sel mast dan sel lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Eosinofil dapat memproduksi protein sitotoksik seperti &lt;em&gt;major  basic protein &lt;/em&gt;(MBP) afau &lt;em&gt;eosinophil cationic protein&lt;/em&gt;  (ECP). Makrofag dan neutrofil melepas faktor kemotaktik, sitokin,  oksigen radikal bebas, serta enzim yang berperan di dalam peradangan.  Neutrofil adalah sel yang pertama berada pada infiltrat peradangan  setelah reaksi alergi fase cepat dalam keadaan teraktivasi yang  selanjutnya akan menyebabkan kerusakan jaringan dan menarik sel lain,  terutama eosinofil.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Mediator penyakit alergi (hipersensitivitas tipe I) &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;Seperti  telah diuraikan di atas bahwa mediator dibebaskan bila terjadi  interaksi antara antigen dengan IgE spesifik yang terikat pada membran  sel mast. Mediator ini dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu mediator  yang sudah ada dalam granula sel mast (&lt;em&gt;preformed mediator&lt;/em&gt;)&lt;em&gt; &lt;/em&gt;dan  mediator yang terbentuk kemudian (&lt;em&gt;newly formed mediator&lt;/em&gt;).&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;Menurut  asalnya mediator ini juga dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu  mediator dari sel mast atau basofil (mediator primer), dan mediator dari  sel lain akibat stimulasi oleh mediator primer (mediator sekunder). &lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Mediator yang sudah ada dalam granula sel mast &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Terdapat 3 jenis mediator yang penting yaitu histamin, &lt;em&gt;eosinophil  chemotactic factor of anaphylactic &lt;/em&gt;(ECF-A), dan &lt;em&gt;neutrophil  chemoctatic factor &lt;/em&gt;(&lt;em&gt;NCF&lt;/em&gt;).&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Histamin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Histamin dibentuk dari asam amino histidin dengan perantaraan enzim  histidin dekarboksilase. Setelah dibebaskan, histamin dengan cepat  dipecah secara enzimatik serta berada dalam jumlah kecil dalam cairan  jaringan dan plasma. Kadar normal dalam plasma adalah kurang dari 1  ng/μL akan tetapi dapat meningkat sampai 1-2 ng/μL setelah uji provokasi  dengan alergen. Gejala yang timbul akibat histamin dapat terjadi dalam  beberapa menit berupa rangsangan terhadap reseptor saraf iritan,  kontraksi otot polos, serta peningkatan permeabilitas vaskular.&lt;br /&gt;Manifestasi klinis pada berbagai organ tubuh bervariasi. Pada hidung  timbul rasa gatal, hipersekresi dan tersumbat. Histamin yang diberikan  secara inhalasi dapat menimbulkan kontraksi otot polos bronkus yang  menyebabkan bronkokonstriksi. Gejala kulit adalah reaksi gatal berupa &lt;em&gt;wheal  and flare&lt;/em&gt;,&lt;em&gt; &lt;/em&gt;dan pada saluran cerna adalah hipersekresi  asam lambung, kejang usus, dan diare. Histamin mempunyai peran kecil  pada asma, karena itu antihistamin hanya dapat mencegah sebagian gejala  alergi pada mata, hidung dan kulit, tetapi tidak pada bronkus.&lt;br /&gt;Kadar histamin yang meninggi dalam plasma dapat menimbulkan gejala  sistemik berat (anafilaksis). Histamin mempunyai peranan penting pada  reaksi fase awal setelah kontak dengan alergen (terutama pada mata,  hidung dan kulit). Pada reaksi fase lambat, histamin membantu timbulnya  reaksi inflamasi dengan cara memudahkan migrasi imunoglobulin dan sel  peradangan ke jaringan. Fungsi ini mungkin bermanfaat pada keadaan  infeksi. Fungsi histamin dalam keadaan normal saat ini belum banyak  diketahui kecuali fungsi pada sekresi lambung. Diduga histamin mempunyai  peran dalam regulasi tonus mikrovaskular. Melalui reseptor H2  diperkirakan histamin juga mempunyai efek modulasi respons beberapa sel  termasuk limfosit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Faktor kemotaktik eosinofil-anafilaksis (ECF-A) &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mediator ini mempunyai efek mengumpulkan dan menahan eosinofil di  tempat reaksi radang yang diperan oleh IgE (alergi). ECF-A merupakan  tetrapeptida yang sudah terbentuk dan tersedia dalam granulasi sel mast  dan akan segera dibebaskan pada waktu degranulasi (pada basofil segera  dibentuk setelah kontak dengan alergen).&lt;br /&gt;Mediator lain yang juga bersifat kemotaktik untuk eosinofil ialah  leukotrien LTB4 yang terdapat dalam beberapa hari. Walaupun eosinofilia  merupakan hal yang khas pada penyakit alergi, tetapi tidak selalu  patognomonik untuk keterlibatan sel mast atau basofil karena ECF-A dapat  juga dibebaskan dari sel yang tidak mengikat IgE.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Faktor kemotaktik neutrofil (NCF) &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;NCF (&lt;em&gt;neutrophyl chemotactic factor&lt;/em&gt;)&lt;em&gt; &lt;/em&gt;dapat ditemukan  pada supernatan fragmen paru manusia setelah provokasi dengan alergen  tertentu. Keadaan ini terjadi dalam beberapa menit dalam sirkulasi  penderita asma setelah provokasi inhalasi dengan alergen atau setelah  timbulnya urtikaria fisik (dingin, panas atau sinar matahari). Oleh  karena mediator ini terbentuk dengan cepat maka diduga ia merupakan  mediator primer. Mediator tersebut mungkin pula berperan pada reaksi  hipersensitivitas tipe I fase lambat yang akan menyebabkan banyaknya  neutrofil di tempat reaksi. Leukotrien LTB4 juga bersifat kemotaktik  terhadap neutrofil.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Mediator yang terbentuk kemudian &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mediator yang terbentuk kemudian terdiri dari hasil metabolisme asam  arakidonat, faktor aktivasi trombosit, serotonin, dan lain-lain.  Metabolisme asam arakidonat terdiri dari jalur siklooksigenase dan jalur  lipoksigenase yang masing-masing akan mengeluarkan produk yang berperan  sebagai mediator bagi berbagai proses inflamasi (lihat Gambar 12-3).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Produk siklooksigenase&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertubasi membran sel pada hampir semua sel berinti akan menginduksi  pembentukan satu atau lebih produk siklooksigenase yaitu prostaglandin  (PGD2, PGE2, PGF2) serta tromboksan A2 (TxA2).&lt;br /&gt;Tiap sel mempunyai produk spesifik yang berbeda. Sel mast manusia  misalnya membentuk PGD2 dan TxA2 yang menyebabkan kontraksi otot polos,  dan TxA2 juga dapat mengaktivasi trombosit. Prostaglandin juga dibentuk  oleh sel yang berkumpul di mukosa bronkus selama reaksi alergi fase  lambat (neutrofil, makrofag, dan limfosit).&lt;br /&gt;Prostaglandin E mempunyai efek dilatasi bronkus, tetapi tidak dipakai  sebagai obat bronkodilator karena mempunyai efek iritasi lokal.  Prostaglandin F (PGF2) dapat menimbulkan kontraksi otot polos bronkus  dan usus serta meningkatkan permeabilitas vaskular. Kecuali PGD2,  prostaglandin serta TxA2 berperan terutama sebagai mediator sekunder  yang mungkin menunjang terjadinya reaksi peradangan, akan tetapi peranan  yang pasti dalam reaksi peradangan pada alergi belum diketahui.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Produk lipoksigenase&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Leukotrien merupakan produk jalur lipoksigenase. Leukotrien LTE4  adalah zat yang membentuk &lt;em&gt;slow reacting substance of anaphylaxis &lt;/em&gt;(SRS-A).&lt;em&gt;  &lt;/em&gt;Leukotrien LTB4 merupakan kemotaktik untuk eosinofil dan  neutrofil, sedangkan LTC4, LTD4 dan LTE4 adalah zat yang dinamakan  SRS-A. Sel mast manusia banyak menghasilkan produk lipoksigenase serta  merupakan sumber hampir semua SRS-A yang dibebaskan dari jaringan paru  yang tersensitisasi.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;‘Slow reacting substance of anaphylaxis’&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;  &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Secara in vitro mediator ini mempunyai onset lebih lambat dengan masa  kerja lebih lama dibandingkan dengan histamin, dan tampaknya hanya  didapatkan sedikit perbedaan antara kedua jenis mediator tersebut.  Mediator SRS-A dianggap mempunyai peran yang lebih penting dari histamin  dalam terjadinya asma. Mediator ini mempunyai efek bronkokonstriksi  1000 kali dari histamin. Selain itu SRS-A juga meningkatkan  permeabilitas kapiler serta merangsang sekresi mukus. Secara kimiawi,  SRS-A ini terdiri dari 3 leukotrien hasil metabolisme asam arakidonat,  yaitu LTC4, LTD4, serta LTE4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Faktor aktivasi trombosit (PAF = ‘Platelet activating  factor’) &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mediator ini pertama kali ditemukan pada kelinci dan selanjutnya pada  manusia. PAF dapat menggumpalkan trombosit serta mengaktivasi pelepasan  serotonin dari trombosit. Selain itu PAF juga menimbulkan kontraksi  otot polos bronkus serta peningkatan permeabilitas vaskular. Aktivasi  trombosit pada manusia terjadi pada reaksi yang diperan oleh IgE.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Serotonin&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 90% serotonin tubuh (5-hidroksi triptamin) terdapat di mukosa  saluran cerna. Serotonin ditemukan pada sel mast binatang tetapi tidak  pada sel mast manusia. Dalam reaksi alergi pada manusia, serotonin  merupakan mediator sekunder yang dilepaskan oleh trombosit melalui  aktivasi produk sel mast yaitu PAF dan TxA2. Serotonin dapat  meningkatkan permeabilitas pembuluh darah.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;SITOKIN DALAM REGULASI REAKSI  ALERGI&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Selain mediator yang telah disebutkan tadi, sel mast juga merupakan  sumber beberapa sitokin yang mempengaruhi sel yang berperan pada reaksi  alergi.&lt;br /&gt;Pada individu yang cenderung untuk alergi, paparan terhadap beberapa  antigen menyebabkan aktivasi sel Th2 dan produksi IgE (lihat Gambar  12-4). Individu normal tidak mempunyai respons Th2 yang kuat terhadap  sebagian besar antigen asing. Ketika beberapa individu terpapar antigen  seperti protein pada serbuk sari (&lt;em&gt;pollen&lt;/em&gt;), makanan tertentu,  racun pada serangga, kutu binatang, atau obat tertentu misalnya  penisilin, respons sel T yang dominan adalah pembentukan sel Th2.  Individu yang atopik dapat alergi terhadap satu atau lebih antigen di  atas. Hipersensitivitas tipe cepat terjadi sebagai akibat dari aktivasi  sel Th2 yang berespons terhadap antigen protein atau zat kimia yang  terikat pada protein. Antigen yang menimbulkan reaksi hipersensitivitas  tipe cepat (reaksi alergik) sering disebut sebagai alergen.&lt;br /&gt;Interleukin (IL)-4 dan IL-13, yaitu sebagian dari sitokin yang  disekresi oleh sel Th2, akan menstimulasi limfosit B yang spesifik  terhadap antigen asing untuk berdiferensiasi menjadi sel plasma yang  kemudian memproduksi IgE. Oleh sebab itu, individu yang atopik akan  memproduksi IgE dalam jumlah besar sebagai respons terhadap antigen yang  tidak akan menimbulkan respons IgE pada sebagian besar orang.  Kecenderungan ini mempunyai dasar genetika yang kuat dengan banyak gen  yang berperan.&lt;br /&gt;Reaksi peradangan alergi telah diketahui dikoordinasi oleh subset  limfosit T4 yaitu Th2. Limfosit ini memproduksi IL-3, IL-4, IL-5, IL-6,  TNFα, serta GM-CSF tetapi tidak memproduksi IL-2 atau INF (diproduksi  oleh sel Th1). Alergen diproses oleh makrofag (APC) yang mensintesis  IL-1. Zat ini merangsang dan mengaktivasi sel limfosit T yang kemudian  memproduksi IL-2 yang merangsang sel T4 untuk memproduksi interleukin  lainnya. Ternyata sitokin yang sama juga diproduksi oleh sel mast  sehingga dapat diduga bahwa sel mast juga mempunyai peran sentral yang  sama dalam reaksi alergi. Produksi interleukin diperkirakan&amp;nbsp; dapat&amp;nbsp;  langsung&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; sel&amp;nbsp; mast&amp;nbsp; atau&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; sel&amp;nbsp; lain akibat stimulasi oleh  mediator sel mast. Interleukin-4 tampaknya merupakan stimulus utama  dalam aktivasi sintesis IgE oleh sel limfosit B. Pada saat yang sama  IL-4 meningkatkan ekspresi reseptor Fcε (FcRII) pada sel limfosit B.  Interleukin-4 ini pertama kali disebut faktor stimulasi sel B (BSF = &lt;em&gt;B&lt;/em&gt;  &lt;em&gt;cell stimulating factor&lt;/em&gt;).&lt;em&gt; &lt;/em&gt;Aktivasi oleh IL4 ini  diperkuat oleh IL-5, IL-6, dan TNFα, tetapi dihambat oleh IFNα, IFNγ,  TGFβ, PGE2, dan IL-I0 &lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam reaksi alergi fase cepat, IL-3, IL-5, GM-CSF, TNF dan INF  terbukti dapat menginduksi atau meningkatkan pelepasan histamin melalui  interaksi IgE- alergen pada sel basofil manusia (lihat Gambar 12-6).&amp;nbsp;  Sitokin&amp;nbsp; lain&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; mempunyai aktivitas sama pada sel mast ialah MCAF (&lt;em&gt;monocyte  chemotactic and activating factor&lt;/em&gt;)&lt;em&gt; &lt;/em&gt;dan RANTES (&lt;em&gt;regulated  upon activation normal T expressed and presumably secreted&lt;/em&gt;).&lt;em&gt; &lt;/em&gt;Demikian  juga SCF (&lt;em&gt;stem cell factor&lt;/em&gt;) yaitu suatu sitokin yang melekat  pada reseptor di sel mast yang disebut C-kit, dapat menginduksi  pembebebasan histamin dari sel mast baik dengan atau tanpa melalui  stimulasi antigen (lihat Gambar 12-7).&lt;br /&gt;Pada reaksi alergi fase lambat, IL-3 dan GM-CSF tidak hanya menarik  dan mengaktivasi eosinofil tetapi juga basofil dan efek kemotaktik  sitokin ini lebih nyata dibandingkan dengan komplemen C5a, LTB4 dan PAF.&lt;br /&gt;Mekanisme lain sitokin berperan pula dalam menunjang terjadinya  reaksi peradangan pada alergi. GM-CSF, IL-l, IL-2, IL-3, IL-4, IL-5,  IFN, TNF, NGF (&lt;em&gt;nerve growth factor&lt;/em&gt;)&lt;em&gt; &lt;/em&gt;serta SCF berperan  dalam pertumbuhan, proliferasi, pertahanan hidup dan diferensiasi  limfosit, eosinofil, basofil, sel mast, makrofag atau monosit. Pada saat  aktivasi, sel-sel ini ditarik ke arah jaringan yang mengalami  peradangan dalam reaksi antigen-antibodi yang ditingkatkan oleh IL-2,  IL-5, GM-CSF, dan EAF (&lt;em&gt;eosinophil activating factor&lt;/em&gt;).&lt;em&gt; &lt;/em&gt;Keadaan  ini lebih terlihat pada biakan eosinofil manusia dengan GM-CSF bersama  fibroblast. Pada percobaan ini eosinofil menjadi hipodens dan dapat  membebaskan lebih banyak LTC4 bila diaktivasi oleh stimulus seperti fMLP  (formil metionil leukosil fenilalanin).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENYAKIT OLEH ANTIBODI DAN KOMPLEKS ANTIGEN-ANTIBODI &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE II DAN III)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Antibodi, selain IgE, mungkin menyebabkan penyakit dengan berikatan  pada target antigennya yang ada pada permukaan sel atau jaringan (reaksi  hipersensitivitas tipe II) atau dengan membentuk kompleks imun yang  mengendap di pembuluh darah (reaksi hipersensitivitas tipe III)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penyakit hipersensitivitas yang diperantarai oleh antibodi &lt;em&gt;(antibody-mediated)&lt;/em&gt;  merupakan bentuk yang umum dari penyakit imun yang kronis pada manusia.  Antibodi terhadap sel atau permukaan luar sel dapat mengendap pada  berbagai jaringan yang sesuai dengan target antigen. Penyakit yang  disebabkan reaksi antibodi ini biasanya spesifik untuk jaringan  tertentu. Kompleks imun biasanya mengendap di pembuluh darah pada tempat  turbulansi&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;(cabang dari pembuluh darah) atau tekanan  tinggi (glomerulus ginjal dan sinovium). Oleh karena itu, penyakit  kompleks imun cenderung merupakan suatu penyakit sistemis yang  bermanifestasi sebagai vaskulitis, artritis dan nefritis.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;strong&gt;Sindrom klinik dan pengobatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kelainan hipersensivitas kronik pada manusia disebabkan atau  berhubungan dengan autoantibodi terhadap antigen jaringan kompleks  imun. Tatalaksana dan pengobatan ditujukan terutama untuk mengurangi  atau menghambat proses inflamasi dan kerusakan jaringan yang  diakibatkannya dengan menggunakan kortikosteroid. Pada kasus yang berat,  digunakan plasmapheresis untuk mengurangi&amp;nbsp; kadar autoantibodi atau  kompleks imun yang beredar dalam darah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penyakit oleh autoantibodi terhadap antigen jaringan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" style="width: 606px;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="127"&gt;&lt;strong&gt;Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="184"&gt;&lt;strong&gt;Antigen target&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;strong&gt;Mekanisme&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="127"&gt;&lt;strong&gt;Manifestasi klinopatologi&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="127"&gt;Anemia hemolitik autoimun&amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="184"&gt;Protein membran eritrosit (antigen golongan  darah Rh)&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="168"&gt;Opsonisasi dan fagositosis eritrosit&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="127"&gt;Hemolisis, anemia&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="127"&gt;Purpura trombositopenia autoimun  (idiopatik)&amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="184"&gt;Protein membran platelet (gpIIb:integrin  IIIa)&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="168"&gt;Opsonisasi dan fagositosis platelet&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="127"&gt;Perdarahan&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="127"&gt;Pemfigus vulgaris&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="184"&gt;Protein pada hubungan interseluler pada sel  epidermal &lt;em&gt;(epidemal cadherin)&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="168"&gt;Aktivasi protease diperantarai antibodi,  gangguan adhesi interseluler&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="127"&gt;Vesikel kulit (bula)&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="127"&gt;Sindrom Goodpasture&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="184"&gt;Protein non-kolagen pada membran dasar  glomerulus ginjal dan alveolus paru&amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="168"&gt;Inflamasi yang diperantarai komplemen dan  reseptor Fc&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="127"&gt;Nefritis, perdarahan paru&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="127"&gt;Demam reumatik akut&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="184"&gt;Antigen dinding sel streptokokus, antibodi  bereaksi silang dengan antigen miokardium&amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="168"&gt;Inflamasi, aktivasi makrofag&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="127"&gt;Artritis, miokarditis&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="127"&gt;Miastenia gravis&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="184"&gt;Reseptor asetilkolin&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="168"&gt;Antibodi menghambat ikatan asetilkolin,  modulasi reseptor&amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="127"&gt;Kelemahan otot, paralisis&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="127"&gt;Penyakit Graves&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="184"&gt;Reseptor hormon TSH&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="168"&gt;Stimulasi reseptor TSH diperantarai  antibodi&amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="127"&gt;Hipertiroidisme&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="127"&gt;Anemia pernisiosa&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="184"&gt;Faktor intrinsik dari sel parietal gaster&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="168"&gt;Netralisasi faktor intrinsik, penurunan  absorpsi vitamin B12&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="127"&gt;Eritropoesis abnormal, anemia&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt;&lt;em&gt;(Dikutip dengan modifikasi dari dari Abbas AK, Lichtman AH, 2004)  &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penyakit oleh kompleks imun&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" style="width: 622px;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="139"&gt;&lt;strong&gt;Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="160"&gt;&lt;strong&gt;Spesifitas antibodi&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="184"&gt;&lt;strong&gt;Mekanisme&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="139"&gt;&lt;strong&gt;Manifestasi klinopatologi&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="139"&gt;Lupus eritematosus sistemik&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="160"&gt;DNA, nukleoprotein&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="184"&gt;Inflamasi diperantarai komplemen dan  reseptor Fc&amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="139"&gt;Nefritis, vaskulitis, artritis&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="139"&gt;Poliarteritis nodosa&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="160"&gt;Antigen permukaan virus hepatitis B&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="184"&gt;Inflamasi diperantarai komplemen dan  reseptor Fc&amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="139"&gt;Vaskulitis&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="139"&gt;Glomreulonefirtis post-streptokokus&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="160"&gt;Antigen dinding sel streptokokus&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="184"&gt;Inflamasi diperantarai komplemen dan  reseptor Fc&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="139"&gt;Nefritis&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt;&lt;em&gt;(Dikutip dengan modifikasi dari dari Abbas AK, Lichtman AH, 2004)  &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Point of interest&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Antibodi terhadap antigen sel dan jaringan dapat menyebabkan  kerusakan jaringan dan penyakit (reaksi hipersensitivitas tipe II). &lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Antibodi IgG dan IgM yang berikatan pada antigen sel atau jarinagn  menstimulasi fagositosis sel-sel tersebut, menyebabkan reaksi  inflamasi,&amp;nbsp; aktivasi komplemen menyebabkan sel lisis dan fragmen  komplemen dapat menarik sel inflamasi ke tempat terjadinya reaksi, juga  dapat mempengaruhi fungsi organ dengan berikatan pada reseptor sel organ  tersebut.&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Antibodi dapat berikatan dengan antigen yang bersirkulasi dan  membentuk kompleks&amp;nbsp; imun, yang kemudian mengendap pada pembuluh darah  dan menyebabkan kerusakan jaringan (reaksi hipersensitivitas tipe III).  Kerusakan jaringan terutama disebabkan oleh pengumpulan lekosit dan  reaksi inflamasi.&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENYAKIT OLEH LIMFOSIT T (REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE IV)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Peranan dari limfosit T pada penyakit imunologis pada manusia telah  semakin dikenal dan diketahui. Patogenesis dan tatalaksana penyakit  autoimun pada manusia pada saat ini lebih ditujukan pada kerusakan  jaringan yang disebabkan terutama oleh sel limfosit T.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Hampir semua penyakit yang diperantarai T cell disebabkan oleh  mekanisme autoimun. Reaksi autoimun biasanya ditujukan langsung terhadap  antigen pada sel yang distribusinya terbatas pada jaringan organ  tertentu. Oleh karena itu penyakit &lt;em&gt;T cell mediated&lt;/em&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;cenderung  terbatas mengenai organ-organ tertentu dan biasanya tidak bersifat&amp;nbsp;  sistemis. Kerusakan organ juga dapat terjadi menyertai reaksi sel T  terhadap reaksi mikroba, misalnya pada tuberculosis, terdapat reaksi &lt;em&gt;T  cell-mediated&lt;/em&gt; terhadap &lt;em&gt;M. tuberculosis&lt;/em&gt;, dan reaksi  tersebut menjadi kronik oleh karena infeksinya sulit dieradikasi.  Inflamasi granulomatous yang terjadi mengakibatkan kerusakan jaringan  pada tempat infeksi. Pada infeksi virus hepatitis, virusnya sendiri  tidak terlalu merusak jaringan, tetapi sel limfosit T sitolitik (CTL)  yang bereaksi terhadap hepatosit yang terinfeksi menyebabkan kerusakan  jaringan hepar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pada penyakit yang diperantarai oleh sel T &lt;em&gt;(T cell-mediated)&lt;/em&gt;,  kerusakan jaringan dapat disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe  lambat yang diperantarai oleh sel T CD4+ atau sel lisis oleh CD8+ CTLs&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mekanisme dari kerusakan jaringan sama dengan mekanisme yang  digunakan oleh sel T untuk mengeliminasi sel yang berkaitan dengan  mikroba. Sel T CD4+ bereaksi terhadap antigen pada sel atau jaringan,  terjadi sekresi sitokin yang menginduksi inflamasi dan mengaktivasi  makrofag. Kerusakan jaringan disebabkan oleh sekresi sitokin dari  makrofag dan sel-sel inflamasi yang lain. Sel T CD8+&amp;nbsp; dapat  menghancurkan sel yang berikatan dengan antigen asing. Pada banyak  penyakit autoimun yang diperantarai oleh sel T,&amp;nbsp; terdapat sel T CD4+ dan  sel T CD8+ yang spesifik untuk antigen diri, dan keduanya berperan pada  kerusakan jaringan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sindrom klinik dan pengobatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Banyak penyakit autoimun yang organ spesifik pada manusia didasari  oleh reaksi yang diperantarai oleh sel T .&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penyakit yang diperantarai sel T&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" style="height: 318px; width: 499px;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="139"&gt;&lt;strong&gt;Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="160"&gt;&lt;strong&gt;Spesifitas sel T patogenik&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="184"&gt;&lt;strong&gt;Penyakit pada manusia&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="139"&gt;&lt;strong&gt;Contoh pada hewan&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="139"&gt;Diabetes melitus tergantung insulin (tipe  I)&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="160"&gt;Antigen sel islet (insulin, dekarboksilase  asam glutamat)&amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="184"&gt;Spesifisitas sel T belum ditegakkan&amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="139"&gt;Tikus NOD, tikus BB, tikus transgenik&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="139"&gt;Artritis reumatoid&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="160"&gt;Antigen yang tidak diketahui di sinovium  sendi&amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="184"&gt;Spesifisitas sel T dan peran antibodi belum  ditegakkan&amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="139"&gt;Artritis diinduksi kolagen&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="139"&gt;Ensefalomielitis alergi eksperimental&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="160"&gt;Protein mielin dasar, protein proteolipid&amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="184"&gt;Postulat : sklerosis multipel&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="139"&gt;Induksi oleh imunisasi dengan antigen  mielin SSP; tikus transgenik&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td valign="top" width="139"&gt;Penyakit inflamasi usus&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="160"&gt;Tidak diketahui, peran mikroba intestinal&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="184"&gt;Spesifisitas sel T belum ditegakkan&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="139"&gt;Induksi oleh rusaknya gen IL-2 atau IL-10  atau kurangnya regulator sel T&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt;&lt;em&gt;(Dikutip dengan modifikasi dari dari Abbas AK, Lichtman AH, 2004)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Stiehm ER.&lt;/strong&gt; Immunologic disorders in infants and  children. Edisi ke-3. Philadelphia: WB Saunders, 1989.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Abbas AK, Lichtman AH,&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Pober&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;JS.&lt;/strong&gt;  Disease caused by humoral and cell-mediated immune reactions. Dalam:  Cellular and molecular immunology. Philadelphia: WB Saunders, 1991;  353-76.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Bellanti JA.&lt;/strong&gt; Mechanism of tissue injury produced by  immunologic reactions. Dalam: Bellanti JA, penyunting. Immunology III.  Philadelphia: WB Saunders, 1985; 218-60.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Roitt IM. &lt;/strong&gt;Essential immunology; edisi ke-6. Oxford&lt;strong&gt;:  &lt;/strong&gt;Blackwell Scioentific, 1988; 233-67.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Abbas AK, Lichtman AH.&lt;/strong&gt; Basic immunology. Edisi  ke-2. Philadelphia: Saunders, 2004.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;i style="color: blue;"&gt;http://childrenallergyclinic.wordpress.com &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-1892883073786798450?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/1892883073786798450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/05/reaksi-hipersensitivitas.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/1892883073786798450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/1892883073786798450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/05/reaksi-hipersensitivitas.html' title='REAKSI HIPERSENSITIVITAS'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_u337ThvlyDw/SNwJpBC6_XI/AAAAAAAABGk/pu387pDiFoE/s72-c/Acute+Hypersensitivity+Reactions.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-692841431210179233</id><published>2010-05-24T04:52:00.000-07:00</published><updated>2010-05-24T04:52:59.966-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MEKANISME PEYAKIT dan DASAR DASAR TERAPI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PATOFISIOLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PATOLOGI'/><title type='text'>INFLAMASI / RADANG</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Definisi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Inflamasi  merupakan respons protektif setempat yang ditimbulkan oleh cedera atau  kerusakan jaringan, yang berfungsi menghancurkan, mengurangi, atau  mengurung (sekuestrasi) baik agen pencedera maupun jaringan yang cedera  itu (Dorland, 2002).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Apabila  jaringan cedera misalnya karena terbakar, teriris atau karena infeksi  kuman, maka pada jaringan ini akan terjadi rangkaian reaksi yang  memusnahkan agen yang membahayakan jaringan atau yang mencegah agen  menyebar lebih luas. Reaksi-reaksi ini kemudian juga menyebabkan  jaringan yang cedera diperbaiki atau diganti dengan jaringan baru.  Rangkaian reaksi ini disebut radang (Rukmono, 1973).&lt;span id="more-193"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Agen  yang dapat menyebabkan cedera pada jaringan, yang kemudian diikuti oleh  radang adalah kuman (mikroorganisme), benda (pisau, peluru, dsb.), suhu  (panas atau dingin), berbagai jenis sinar (sinar X atau sinar  ultraviolet), listrik, zat-zat kimia, dan lain-lain. Cedera radang yang  ditimbulkan oleh berbagai agen&lt;span&gt; &lt;/span&gt;ini menunjukkan proses yang  mempunyai pokok-pokok yang sama, yaitu terjadi cedera jaringan berupa  degenerasi (kemunduran) atau nekrosis (kematian) jaringan, pelebaran  kapiler yang disertai oleh cedera dinding kapiler, terkumpulnya cairan  dan sel (cairan plasma, sel darah, dan sel jaringan) pada tempat radang  yang disertai oleh proliferasi sel jaringan makrofag dan fibroblas,  terjadinya proses fagositosis, dan terjadinya perubahan-perubahan  imunologik (Rukmono, 1973).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Secara  garis besar, peradangan ditandai dengan vasodilatasi pembuluh darah  lokal yang mengakibatkan terjadinya aliran darah setempat yang  berlebihan, kenaikan permeabilitas kapiler disertai dengan kebocoran  cairan dalam jumlah besar ke dalam ruang interstisial, pembekuan cairan  dalam ruang interstisial yang disebabkan oleh fibrinogen dan protein  lainnya yang bocor dari kapiler dalam jumlah berlebihan, migrasi  sejumlah besar granulosit dan monosit ke dalam jaringan, dan  pembengkakan sel jaringan. Beberapa produk jaringan yang menimbulkan  reaksi ini adalah histamin, bradikinin, serotonin, prostaglandin,  beberapa macam produk reaksi sistem komplemen, produk reaksi sistem  pembekuan darah, dan berbagai substansi hormonal yang disebut limfokin  yang dilepaskan oleh sel T yang tersensitisasi (Guyton &amp;amp; Hall,  1997).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Tanda-tanda  radang (makroskopis)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Gambaran  makroskopik peradangan sudah diuraikan 2000 tahun yang lampau.  Tanda-tanda radang ini oleh Celsus, seorang sarjana Roma yang hidup pada  abad pertama sesudah Masehi, sudah dikenal dan disebut tanda-tanda  radang utama. Tanda-tanda radang ini masih digunakan hingga saat ini.  Tanda-tanda radang mencakup &lt;em&gt;rubor&lt;/em&gt; (kemerahan), &lt;em&gt;kalor&lt;/em&gt;  (panas), &lt;em&gt;dolor&lt;/em&gt; (rasa sakit), dan &lt;em&gt;tumor&lt;/em&gt; (pembengkakan).  Tanda pokok yang kelima ditambahkan pada abad terakhir yaitu &lt;em&gt;functio  laesa&lt;/em&gt; (perubahan fungsi) (Abrams, 1995; Rukmono, 1973; Mitchell  &amp;amp; Cotran, 2003).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Umumnya,  rubor atau kemerahan merupakan hal pertama yang terlihat di daerah yang  mengalami peradangan. Saat reaksi peradangan timbul, terjadi pelebaran  arteriola yang mensuplai darah ke daerah peradangan. Sehingga lebih  banyak darah mengalir ke mikrosirkulasi lokal dan kapiler meregang  dengan cepat terisi penuh dengan darah. Keadaan ini disebut hiperemia  atau kongesti, menyebabkan warna merah lokal karena peradangan akut  (Abrams, 1995; Rukmono, 1973).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Kalor  terjadi bersamaan dengan kemerahan dari reaksi peradangan akut. Kalor  disebabkan pula oleh sirkulasi darah yang meningkat. Sebab darah yang  memiliki suhu 37&lt;sup&gt;o&lt;/sup&gt;C disalurkan ke permukaan tubuh yang  mengalami radang lebih banyak daripada ke daerah normal (Abrams, 1995;  Rukmono, 1973).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Perubahan  pH lokal atau konsentrasi lokal ion-ion tertentu dapat merangsang  ujung-ujung saraf. Pengeluaran zat seperti histamin atau zat bioaktif  lainnya dapat merangsang saraf. Rasa sakit disebabkan pula oleh tekanan  yang meninggi akibat pembengkakan jaringan yang meradang (Abrams, 1995;  Rukmono, 1973).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Pembengkakan  sebagian disebabkan hiperemi dan sebagian besar ditimbulkan oleh  pengiriman cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan  interstitial. Campuran dari cairan dan sel yang tertimbun di daerah  peradangan disebut eksudat meradang (Abrams, 1995; Rukmono, 1973).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Berdasarkan  asal katanya, functio laesa adalah fungsi yang hilang (Dorland, 2002).  Functio laesa merupakan reaksi peradangan yang telah dikenal. Akan  tetapi belum diketahui secara mendalam mekanisme terganggunya fungsi  jaringan yang meradang (Abrams, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Mekanisme radang&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Radang akut&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36.15pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Radang akut  adalah respon yang cepat dan segera terhadap cedera yang didesain untuk  mengirimkan leukosit ke daerah cedera. Leukosit membersihkan berbagai  mikroba yang menginvasi dan memulai proses pembongkaran jaringan  nekrotik. Terdapat 2 komponen utama dalam proses radang akut, yaitu  perubahan penampang dan struktural dari pembuluh darah serta emigrasi  dari leukosit. Perubahan penampang pembuluh darah akan mengakibatkan  meningkatnya aliran darah dan terjadinya perubahan struktural pada  pembuluh darah mikro akan memungkinkan protein plasma dan leukosit  meninggalkan sirkulasi darah. Leukosit yang berasal dari mikrosirkulasi  akan melakukan emigrasi dan selanjutnya berakumulasi di lokasi cedera  (Mitchell &amp;amp; Cotran, 2003).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36.15pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Segera setelah  jejas, terjadi dilatasi arteriol lokal yang mungkin didahului oleh  vasokonstriksi singkat. Sfingter prakapiler membuka dengan akibat aliran  darah dalam kapiler yang telah berfungsi meningkat dan juga dibukanya  anyaman kapiler yang sebelumnya inaktif. Akibatnya anyaman venular pasca  kapiler melebar dan diisi darah yang mengalir deras. Dengan demikian,  mikrovaskular pada lokasi jejas melebar dan berisi darah terbendung.  Kecuali pada jejas yang sangat ringan, bertambahnya aliran darah  (hiperemia) pada tahap awal akan disusul oleh perlambatan aliran darah,  perubahan tekanan intravaskular dan perubahan pada orientasi unsur-unsur  berbentuk darah terhadap dinding pembuluhnya. Perubahan pembuluh darah  dilihat dari segi waktu, sedikit banyak tergantung dari parahnya jejas.  Dilatasi arteriol timbul dalam beberapa menit setelah jejas. Perlambatan  dan bendungan tampak setelah 10-30 menit (Robbins &amp;amp; Kumar, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36.15pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Peningkatan  permeabilitas vaskuler disertai keluarnya protein plasma dan sel-sel  darah putih ke dalam jaringan disebut eksudasi dan merupakan gambaran  utama reaksi radang akut. Vaskulatur-mikro pada dasarnya terdiri dari  saluran-saluran yang berkesinambungan berlapis endotel yang  bercabang-cabang dan mengadakan anastomosis. Sel endotel dilapisi oleh  selaput basalis yang berkesinambungan (Robbins &amp;amp; Kumar, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36.15pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Pada ujung  arteriol kapiler, tekanan hidrostatik yang tinggi mendesak cairan keluar  ke dalam ruang jaringan interstisial dengan cara ultrafiltrasi. Hal ini  berakibat meningkatnya konsentrasi protein plasma dan menyebabkan  tekanan osmotik koloid bertambah besar, dengan menarik kembali cairan  pada pangkal kapiler venula. Pertukaran normal tersebut akan menyisakan  sedikit cairan dalam jaringan interstisial yang mengalir dari ruang  jaringan melalui saluran limfatik. Umumnya, dinding kapiler dapat  dilalui air, garam, dan larutan sampai berat jenis 10.000 dalton  (Robbins &amp;amp; Kumar, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36.15pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Eksudat adalah  cairan radang ekstravaskuler dengan berat jenis tinggi (di atas 1.020)  dan seringkali mengandung protein 2-4 mg% serta sel-sel darah putih yang  melakukan emigrasi. Cairan ini tertimbun sebagai akibat peningkatan  permeabilitas vaskuler (yang memungkinkan protein plasma dengan molekul  besar dapat terlepas), bertambahnya tekanan hidrostatik intravaskular  sebagai akibat aliran darah lokal yang meningkat pula dan serentetan  peristiwa rumit leukosit yang menyebabkan emigrasinya (Robbins &amp;amp;  Kumar, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36.15pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Penimbunan  sel-sel darah putih, terutama neutrofil dan monosit pada lokasi jejas,  merupakan aspek terpenting reaksi radang. Sel-sel darah putih mampu  memfagosit bahan yang bersifat asing, termasuk bakteri dan debris  sel-sel nekrosis, dan enzim lisosom yang terdapat di dalamnya membantu  pertahanan tubuh dengan beberapa cara. Beberapa produk sel darah putih  merupakan penggerak reaksi radang, dan pada hal-hal tertentu menimbulkan  kerusakan jaringan yang berarti (Robbins &amp;amp; Kumar, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36.15pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam fokus  radang, awal bendungan sirkulasi mikro akan menyebabkan sel-sel darah  merah menggumpal dan membentuk agregat-agregat yang lebih besar daripada  leukosit sendiri. Menurut hukum fisika aliran, massa sel darah merah  akan terdapat di bagian tengah dalam aliran aksial, dan sel-sel darah  putih pindah ke bagian tepi (marginasi). Mula-mula sel darah putih  bergerak dan menggulung pelan-pelan sepanjang permukaan endotel pada  aliran yang tersendat tetapi kemudian sel-sel tersebut akan melekat dan  melapisi permukaan endotel (Robbins &amp;amp; Kumar, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36.15pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Emigrasi adalah  proses perpindahan sel darah putih yang bergerak keluar dari pembuluh  darah. Tempat utama emigrasi leukosit adalah pertemuan antar-sel  endotel. Walaupun pelebaran pertemuan antar-sel memudahkan emigrasi  leukosit, tetapi leukosit mampu menyusup sendiri melalui pertemuan  antar-sel endotel yang tampak tertutup tanpa perubahan nyata (Robbins  &amp;amp; Kumar, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36.15pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Setelah  meninggalkan pembuluh darah, leukosit bergerak menuju ke arah utama  lokasi jejas. Migrasi sel darah putih yang terarah ini disebabkan oleh  pengaruh-pengaruh kimia yang dapat berdifusi disebut kemotaksis. Hampir  semua jenis sel darah putih dipengaruhi oleh faktor-faktor kemotaksis  dalam derajat yang berbeda-beda. Neutrofil dan monosit paling reaktif  terhadap rangsang kemotaksis. Sebaliknya limfosit bereaksi lemah.  Beberapa faktor kemotaksis dapat mempengaruhi neutrofil maupun monosit,  yang lainnya bekerja secara selektif terhadap beberapa jenis sel darah  putih. Faktor-faktor kemotaksis dapat endogen berasal dari protein  plasma atau eksogen, misalnya produk bakteri (Robbins &amp;amp; Kumar,  1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36.15pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Setelah leukosit  sampai di lokasi radang, terjadilah proses fagositosis. Meskipun sel-sel  fagosit dapat melekat pada partikel dan bakteri tanpa didahului oleh  suatu proses pengenalan yang khas, tetapi fagositosis akan sangat  ditunjang apabila mikroorganisme diliputi oleh opsonin, yang&lt;span&gt; &lt;/span&gt;terdapat  dalam serum (misalnya IgG, C3). Setelah bakteri yang mengalami  opsonisasi melekat pada permukaan, selanjutnya sel fagosit sebagian  besar akan meliputi partikel, berdampak pada pembentukan kantung yang  dalam. Partikel ini terletak pada vesikel sitoplasma yang masih terikat  pada selaput sel, disebut fagosom. Meskipun pada waktu pembentukan  fagosom, sebelum menutup lengkap, granula-granula sitoplasma neutrofil  menyatu dengan fagosom dan melepaskan isinya ke dalamnya, suatu proses  yang disebut degranulasi. Sebagian besar mikroorganisme yang telah  mengalami pelahapan mudah dihancurkan oleh fagosit yang berakibat pada  kematian mikroorganisme. Walaupun beberapa organisme yang virulen dapat  menghancurkan leukosit (Robbins &amp;amp; Kumar, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Radang kronis&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Radang kronis  dapat diartikan sebagai inflamasi yang berdurasi panjang  (berminggu-minggu hingga bertahun-tahun) dan terjadi proses secara  simultan dari inflamasi aktif, cedera jaringan, dan penyembuhan.  Perbedaannya dengan radang akut, radang akut ditandai dengan perubahan  vaskuler, edema, dan infiltrasi neutrofil dalam jumlah besar. Sedangkan  radang kronik ditandai oleh infiltrasi sel mononuklir (seperti makrofag,  limfosit, dan sel plasma), destruksi jaringan, dan perbaikan (meliputi  proliferasi pembuluh darah baru/angiogenesis dan fibrosis) (Mitchell  &amp;amp; Cotran, 2003).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Radang kronik  dapat timbul melalui satu atau dua jalan. Dapat timbul menyusul radang  akut, atau responnya sejak awal bersifat kronik. Perubahan radang akut  menjadi radang kronik berlangsung bila respon radang akut tidak dapat  reda, disebabkan agen penyebab jejas yang menetap atau terdapat gangguan  pada proses penyembuhan normal. Ada kalanya radang kronik sejak awal  merupakan proses primer. Sering penyebab jejas memiliki toksisitas  rendah dibandingkan dengan penyebab yang menimbulkan radang akut.  Terdapat 3 kelompok besar yang menjadi penyebabnya, yaitu infeksi  persisten oleh mikroorganisme intrasel tertentu (seperti basil tuberkel,  &lt;em&gt;Treponema palidum&lt;/em&gt;, dan jamur-jamur tertentu), kontak lama  dengan bahan yang tidak dapat hancur (misalnya silika), penyakit  autoimun. Bila suatu radang berlangsung lebih lama dari 4 atau 6 minggu  disebut kronik. Tetapi karena banyak kebergantungan respon efektif tuan  rumah dan sifat alami jejas, maka batasan waktu tidak banyak artinya.  Pembedaan antara radang akut dan kronik sebaiknya berdasarkan pola  morfologi reaksi (Robbins &amp;amp; Kumar, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Mediator kimia  peradangan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Bahan kimia yang berasal dari plasma maupun jaringan merupakan  rantai penting antara terjadinya jejas dengan fenomena radang. Meskipun  beberapa cedera langsung merusak endotelium pembuluh darah yang  menimbulkan kebocoran protein dan cairan di daerah cedera, pada banyak  kasus cedera mencetuskan pembentukan dan/atau pengeluaran zat-zat kimia  di dalam tubuh. Banyak jenis cedera yang dapat mengaktifkan mediator  endogen yang sama, yang dapat menerangkan sifat stereotip dari respon  peradangan terhadap berbagai macam rangsang. Karena pola dasar radang  akut stereotip, tidak tergantung jenis jaringan maupun agen penyebab  pada hakekatnya menyertai mediator-mediator kimia yang sama yang  tersebar luas dalam tubuh. Beberapa mediator dapat bekerja bersama,  sehingga memberi mekanisme biologi yang memperkuat kerja mediator.  Radang juga memiliki mekanisme kontrol yaitu inaktivasi mediator kimia  lokal yang cepat oleh sistem enzim atau antagonis (Abrams, 1995; Robbins  &amp;amp; Kumar, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Cukup  banyak substansi yang dikeluarkan secara endogen telah dikenal sebagai  mediator dari respon peradangan. Identifikasinya saat ini sulit  dilakukan. Walaupun daftar mediator yang diusulkan panjang dan kompleks,  tetapi mediator yang lebih dikenal dapat digolongkan menjadi golongan  amina vasoaktif (histamin dan serotonin), protease plasma (sistem kinin,  komplemen, dan koagulasi fibrinolitik), metabolit asam arakidonat  (leukotrien dan prostaglandin), produk leukosit (enzim lisosom dan  limfokin), dan berbagai macam mediator lainnya (misal, radikal bebas  yang berasal dari oksigen dan faktor yang mengaktifkan trombosit)  (Abrams, 1995; Robbins &amp;amp; Kumar, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Amina vasoaktif&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Amina vasoaktif  yang paling penting adalah histamin. Sejumlah besar histamin disimpan  dalam granula sel jaringan penyambung yang disebut sel mast. Histamin  tersebar luas dalam tubuh. Histamin juga terdapat dalam sel basofil dan  trombosit. Histamin yang tersimpan merupakan histamin yang tidak aktif  dan baru menampilkan efek vaskularnya bila dilepaskan. Stimulus yang  dapat menyebabkan dilepaskannya histamin adalah jejas fisik (misal  trauma atau panas), reaksi imunologi (meliputi pengikatan antibodi IgE  terhadap reseptor Fc pada sel mast), fragment komplemen C3a dan C5a  (disebut anafilaktosin), protein derivat leukosit yang melepaskan  histamin, neuropeptida (misal, substansi P), dan sitokin tertentu  (misal, IL-1 dan IL-8) (Mitchell &amp;amp; Cotran, 2003; Robbins &amp;amp;  Kumar, 1995; Abrams, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Pada manusia,  histamin menyebabkan dilatasi arteriola, meningkatkan permeabilitas  venula, dan pelebaran pertemuan antar-sel endotel. Histamin bekerja  dengan mengikatkan diri pada reseptor-reseptor histamin jenis H-1 yang  ada pada endotel pembuluh darah. Pada perannya dalam fenomena vaskular,  histamin juga dilaporkan merupakan bahan kemotaksis khas untuk  eosinofil. Segera setelah dilepaskan oleh sel mast, histamin dibuat  menjadi inaktif oleh histaminase. Antihistamin merupakan obat yang  dibuat untuk menghambat efek mediator dari histamin. Perlu diketahui  bahwa obat antihistamin hanya dapat menghambat tahap dini peningkatan  permeabilitas vaskular dan histamin tidak berperan pada tahap tertunda  yang dipertahankan pada peningkatan permeabilitas (Mitchell &amp;amp;  Cotran, 2003; Robbins &amp;amp; Kumar, 1995; Abrams, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Serotonin  (5-hidroksitriptamin) juga merupakan suatu bentuk mediator vaasoaktif.  Serotonin ditemukan terutama di dalam trombosit yang padat granula  (bersama dengan histamin, adenosin difosfat, dan kalsium). Serotonin  dilepaskan selama agregasi trombosit. Serotonin pada binatang pengerat  memiliki efek yang sama seperti halnya histamin, tetapi perannya sebagai  mediator pada manusia tidak terbukti (Mitchell &amp;amp; Cotran, 2003;  Robbins &amp;amp; Kumar, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Protease plasma&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Berbagai macam  fenomena dalam respon radang diperantarai oleh tiga faktor plasma yang  saling berkaitan yaitu sistem kinin, pembekuan, dan komplemen. Seluruh  proses dihubungkan oleh aktivasi awal oleh faktor Hageman (disebut juga  faktor XII dalam sistem koagulasi intrinsik). Faktor XII adalah suatu  protein yang disintesis oleh hati yang bersirkulasi dalam bentuk inaktif  hingga bertemu kolagen, membrana basalis, atau trombosit teraktivasi di  lokasi jejas endotelium. Dengan bantuan kofaktor &lt;em&gt;high-molecular-weight  kininogen&lt;/em&gt; (HMWK)/kininogen berat molekul tinggi, faktor XII  kemudian mengalami perubahan bentuk menjadi faktor XIIa. Faktor XIIa  dapat membongkar pusat serin aktif yang dapat memecah sejumlah substrat  protein (Mitchell &amp;amp; Cotran, 2003).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Aktivasi sistem  kinin pada akhirnya menyebabkan pembentukan bradikinin. Bradikinin  merupakan polipeptida yang berasal dari plasma sebagai prekursor yang  disebut HMWK. Prekursor glikoprotein ini diuraikan oleh enzim  proteolitik kalikrein. Kalikrein sendiri berasal dari prekursornya yaitu  prekalikrein yang diaktifkan oleh faktor XIIa. Seperti halnya histamin,  bradikinin menyebabkan dilatasi arteriola, meningkatkan permeabilitas  venula dan kontraksi otot polos bronkial. Bradikinin tidak menyebabkan  kemotaksis untuk leukosit, tetapi menyebabkan rasa nyeri bila  disuntikkan ke dalam kulit. Bradikinin dapat bertindak dalam sel-sel  endotel dengan meningkatkan celah antar sel. Kinin akan dibuat inaktif  secara cepat oleh kininase yang terdapat dalam plasma dan jaringan, dan  perannya dibatasi pada tahap dini peningkatan permeabilitas pembuluh  darah (Mitchell &amp;amp; Cotran, 2003; Robbins &amp;amp; Kumar, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Pada sistem  pembekuan, rangsangan sistem proteolitik mengakibatkan aktivasi trombin  yang kemudian memecah fibrinogen yang dapat larut dalam sirkulasi  menjadi gumpalan fibrin. Faktor Xa menyebabkan peningkatan permeabilitas  vaskular dan emigrasi leukosit. Trombin memperkuat perlekatan leukosit  pada endotel dan dengan cara menghasilkan fibrinopeptida (selama  pembelahan fibrinogen) dapat meningkatkan permeabilitas vaskular dan  sebagai kemotaksis leukosit (Mitchell &amp;amp; Cotran, 2003).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Ketika faktor  XIIa menginduksi pembekuan, di sisi lain terjadi aktivasi sistem  fibrinolitik. Mekanisme ini terjadi sebagai umpan balik pembekuan dengan  cara memecah fibrin kemudian melarutkan gumpalan fibrin. Tanpa adanya  fibrinolisis ini, akan terus menerus terjadi sistem pembekuan dan  mengakibatkan penggumpalan pada keseluruhan vaskular. &lt;em&gt;Plasminogen  activator&lt;/em&gt; (dilepaskan oleh endotel, leukosit, dan jaringan lain)  dan &lt;em&gt;kalikrein&lt;/em&gt; adalah protein plasma yang terikat dalam  perkembangan gumpalan fibrin. Produk hasil dari keduanya yaitu plasmin,  merupakan protease multifungsi yang memecah fibrin (Mitchell &amp;amp;  Cotran, 2003).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Sistem komplemen  terdiri dari satu seri protein plasma yang berperan penting dalam  imunitas maupun radang. Tahap penting pembentukan fungsi biologi  komplemen ialah aktivasi komponen ketiga (C3). Pembelahan C3 dapat  terjadi oleh apa yang disebut ”jalur klasik” yang tercetus oleh  pengikatan C1 pada kompleks antigen-antibodi (IgG atau IgM) atau melalui  jalur alternatif yang dicetuskan oleh polisakarida bakteri (misal,  endotoksin), polisakarida kompleks, atau IgA teragregasi, dan melibatkan  serangkaian komponen serum (termasuk properdin dan faktor B dan D).  Jalur manapun yang terlibat, pada akhirnya sistem komplemen akan memakai  urutan efektor akhir bersama yang menyangkut C5 sampai C9 yang  mengakibatkan pembentukan beberapa faktor yang secara biologi aktif  serta lisis sel-sel yang dilapisi antibodi (Mitchell &amp;amp; Cotran, 2003;  Robbins &amp;amp; Kumar, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Faktor yang  berasal dari komplemen, mempengaruhi berbagai fenomena radang akut,  yaitu pada fenomena vaskular, kemotaksis, dan fagositosis. C3a dan C5a  (disebut juga anafilaktosin) meningkatkan permeabilitas vaskular dan  menyebabkan vasodilatasi dengan cara menginduksi sel mast untuk  mengeluarkan histamin. C5a mengaktifkan jalur lipoksigenase dari  metabolisme asam arakidonat dalam netrofil dan monosit. C5a juga  menyebabkan adhesi neutrofil pada endotel dan kemotaksis untuk monosit,  eosinofil, basofil dan neutrofil. Komplemen yang lainnya, C3b, apabila  melekat pada dinding sel bakteri akan bekerja sebagai opsonin dan  memudahkan fagositosis neutrofil dan makrofag yang mengandung reseptor  C3b pada permukaannya (Mitchell &amp;amp; Cotran, 2003).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Metabolit asam  arakidonat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Asam arakidonat  merupakan asam lemak tidak jenuh (20-carbon polyunsaturated fatty acid)  yang utamanya berasal dari asupan asam linoleat dan berada dalam tubuh  dalam bentuk esterifikasi sebagai komponen fosfolipid membran sel. Asam  arakidonat dilepaskan dari fosfolipid melalui fosfolipase seluler yang  diaktifkan oleh stimulasi mekanik, kimia, atau fisik, atau oleh mediator  inflamasi lainnya seperti C5a. Metabolisme asam arakidonat berlangsung  melalui salah satu dari dua jalur utama, sesuai dengan enzim yang  mencetuskan, yaitu jalur siklooksigenase dan lipoksigenase. Metabolit  asam arakidonat (disebut juga eikosanoid) dapat memperantarai setiap  langkah inflamasi. (Mitchell &amp;amp; Cotran, 2003).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Jalur  siklooksigenase menghasilkan prostaglandin (PG) E&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; (PGE&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;),  PGD&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;, PGF&lt;sub&gt;2?&lt;/sub&gt;, PGI&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; (prostasiklin), dan  tromboksan A&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; (TXA&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;). Setiap produk tersebut  berasal dari PGH&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; oleh pengaruh kerja enzim yang spesifik.  PGH&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; sangat tidak stabil, merupakan prekursor hasil akhir  biologi aktif jalur siklooksigenase. Beberapa enzim mempunyai distribusi  jaringan tertentu. Misalnya, trombosit mengandung enzim tromboksan  sintetase sehingga produk utamanya adalah TXA&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;. TXA&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;  merupakan agen agregasi trombosit yang kuat dan vasokonstriktor. Di  sisi lain, endotelium kekurangan dalam hal tromboksan sintetase, tetapi  banyak memiliki prostasiklin sintetase yang membentuk PGI&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;.  PGI&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; merupakan vasodilator dan penghambat kuat agregasi  trombosit. PGD&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; merupakan metabolit utama dari jalur  siklooksigenase pada sel mast. Bersama dengan PGE&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; dan PGF&lt;sub&gt;2?&lt;/sub&gt;,  PGD&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; menyebabkan vasodilatasi dan pembentukan edema.  Prostaglandin terlibat dalam patogenesis nyeri dan demam pada inflamasi  (Mitchell &amp;amp; Cotran, 2003).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Jalur  lipoksigenase merupakan jalur yang penting untuk membentuk bahan-bahan  proinflamasi yang kuat. 5-lipoksigenase merupakan enzim metabolit asam  arakidonat utama pada neutrofil. Produk dari aksinya memiliki  karakteristik yang terbaik. 5-HPETE (asam 5-hidroperoksieikosatetranoik)  merupakan derivat 5-hidroperoksi asam arakidonat yang tidak stabil dan  direduksi menjadi 5-HETE (asam 5-hidroksieikosatetraenoik) (sebagai  kemotaksis untuk neutrofil) atau diubah menjadi golongan senyawa yang  disebut leukotrien. Produk dari 5-HPETE adalah leukotrien (LT) A&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt;  (LTA&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt;), LTB&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt;, LTC&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt;, LTD&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt;,  dan LTE&lt;sub&gt;5&lt;/sub&gt;. LTB&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt; merupakan agen kemotaksis kuat dan  menyebabkan agregasi dari neutrofil. LTC&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt;, LTD&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt;,  dan LTE&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt; menyebabkan vasokonstriksi, bronkospasme, dan  meningkatkan permeabilitas vaskular (Mitchell &amp;amp; Cotran, 2003).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Lipoksin juga  termasuk hasil dari jalur lipoksigenase yang disintesis menggunakan  jalur transeluler. Trombosit sendiri tidak dapat membentuk lipoksin A&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt;  dan B&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt; (LXA&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt; dan LXB&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt;), tetapi dapat  membentuk metabolit dari intermediat LTA&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt; yang berasal dari  neutrofil. Lipoksin mempunyai aksi baik pro- dan anti- inflamasi. Misal,  LXA&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt; menyebabkan vasodilatasi dan antagonis vasokonstriksi  yang distimulasi LTC&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt;. Aktivitas lainnya menghambat  kemotaksis neutrofil dan perlekatan ketika menstimulasi perlekatan  monosit (Mitchell &amp;amp; Cotran, 2003).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Produk leukosit&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Granula lisosom  yang terdapat dalam neutrofil dan monosit mengandung molekul mediator  inflamasi. Mediator ini dilepaskan setelah kematian sel oleh karena  peluruhan selama pembentukan vakuola fagosit atau oleh fagositosis yang  terhalang karena ukurannya besar dan permukaan yang tidak dapat dicerna.  Kalikrein yang dilepaskan dari lisosom menyebabkan pembentukan  bradikinin. Neutrofil juga merupakan sumber fosfolipase yang diperlukan  untuk sintesis asam arakidonat (Robbins &amp;amp; Kumar, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Di dalam lisosom  monosit dan makrofag juga banyak mengandung bahan yang aktif untuk  proses radang. Pelepasannya penting pada radang akut dan radang kronik.  Limfosit yang telah peka terhadap antigen melepaskan limfokin. Limfokin  merupakan faktor yang menyebabkan penimbunan dan pengaktifan makrofag  pada lokasi radang. Limfokin penting pada radang kronik (Robbins &amp;amp;  Kumar).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;c.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Mediator lainnya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Metabolit oksigen  reaktif yang dibentuk dalam sel fagosit saat fagositosis dapat luruh  memasuki lingkungan ekstrasel. Diduga bahwa radikal-radikal bebas yang  sangat toksik meningkatkan permeabilitas vaskular dengan cara merusak  endotel kapiler. Selain itu, ion-ion superoksida dan hidroksil juga  dapat menyebabkan peroksidase asam arakidonat tanpa enzim. Akibatnya,  akan dapat terbentuk lipid-lipid kemotaksis (Robbins &amp;amp; Kumar, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Aseter-PAF  merupakan mediator lipid yang menggiatkan trombosit. Hal ini karena  menyebabkan agregasi trombosit ketika dilepaskan oleh sel mast. Selain  sel mast, neutrofil dan makrofag juga dapat mensintesis aseter-PAF.  Aseter-PAF meningkatkan permeabilitas vaskular, adhesi leukosit dan  merangsang neutrofil dan makrofag (Robbins &amp;amp; Kumar, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dorland, W.A.N.  (2002). &lt;em&gt;Kamus Kedokteran Dorland&lt;/em&gt; (Setiawan, A., Banni, A.P.,  Widjaja, A.C., Adji, A.S., Soegiarto, B., Kurniawan, D., dkk ,  penerjemah). Jakarta: EGC. (Buku asli diterbitkan 2000).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Rukmono (1973). &lt;em&gt;Kumpulan  kuliah patologi&lt;/em&gt;. Jakarta: Bagian patologi anatomik FK UI.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Guyton, A.C.  &amp;amp; Hall, J.E. (1997). &lt;em&gt;Buku ajar fisiologi kedokteran&lt;/em&gt; (9&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt;  ed.) (Setiawan, I., Tengadi, K.A., Santoso, A., penerjemah). Jakarta:  EGC (Buku asli diterbitkan 1996).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Abrams, G.D.  (1995). Respon tubuh terhadap cedera. Dalam S. A. Price &amp;amp; L. M.  Wilson, &lt;em&gt;Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit&lt;/em&gt; (4&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt;  ed.)(pp.35-61)(Anugerah, P., penerjemah). Jakarta: EGC (Buku asli  diterbitkan 1992).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;5.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Mitchell, R.N.  &amp;amp; Cotran, R.S. (2003). Acute and chronic inflammation. Dalam S. L.  Robbins &amp;amp; V. Kumar, &lt;em&gt;Robbins Basic Pathology&lt;/em&gt; (7&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt;  ed.)(pp33-59). Philadelphia: Elsevier Saunders.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;6.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Robbins, S.L.  &amp;amp; Kumar, V. (1995). &lt;em&gt;Buku ajar patologi I&lt;/em&gt; (4th ed.)(Staf  pengajar laboratorium patologi anatomik FK UI, penerjemah). Jakarta: EGC  (Buku asli diterbitkan 1987).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;7. http://doctorology.net &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-692841431210179233?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/692841431210179233/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/05/inflamasi-radang.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/692841431210179233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/692841431210179233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/05/inflamasi-radang.html' title='INFLAMASI / RADANG'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-6087198480274339743</id><published>2010-05-23T06:16:00.001-07:00</published><updated>2010-05-23T06:16:56.566-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MEKANISME PEYAKIT dan DASAR DASAR TERAPI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FARMAKOLOGI'/><title type='text'>PENGOBATAN KANKER PAYUDARA</title><content type='html'>&lt;div class="p-con"&gt; &lt;div class="snap_preview"&gt;Pengobatan kanker payudara tergantung dari :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Ukuran dan letak tumor&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah kanker sudah menyebar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Dalam banyak kasus, dokter akan bekerjasama dengan pasien untuk  menentukan rencana pengobatan Meskipun pengobatan tiap pasien akan di  sesuaikan oleh dokter. &lt;span id="more-29"&gt;&lt;/span&gt;Tapi berikut adalah  langkah-langkah umum yang dilakukan dalam pengobatan kanker payudara :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Tujuan utama&lt;/strong&gt; pengobatan kanker stadium awal adalah  mengangkat tumor dan membersihkan jaringan disekitar tumor. Jadi dokter  akan merekomendasikan operasi untuk mengangkat tumor. Umumnya kemudian  akan dilakukan terapi radiasi pada jaringan payudara yang masih ada.  Untuk keadaan tertentu ( misalnya, pasien dengan problem medis yang  serius ) radiasi bisa jadi ditunda.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Tahapan berikut &lt;/strong&gt;dalam menangani kanker stadium awal  adalah mengurangi resiko kanker akan kambuh dan membuang sel kanker  yang masih ada. Bila tumornya lebar atau saluran kelenjar getah bening  telah terserang kanker juga, dokter akan merekomendasikan terapi  tambahan, antara lain : Terapi Radiasi, Chemotherapy, dan / atau hormone  terapi. Sedang untuk kanker yang kambuh lagi, diperlakukan dengan  bermacam-macam cara. Ketika merencanakan pengobatan, dokter akan  mempertimbangkan beberapa factor :&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Stadium dan grade kanker&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Satus tumor hormone receptor (ER, PR) dan status HER2/neu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Umur pasien dan kesehatannya secara umum&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pasien sudah menopause atau belum&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adanya mutasi dari gen kanker payudara Kondisi biologi kanker  payudara memberi efek pada tingkah laku kankernya dan pengobatannya.  Beberapa tumor ukurannya kecil tapi tumbuhnya cepat atau ukurannya besar  tapi tumbuhnya lambat.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;strong&gt;OPERASI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, semakin kecil tumor, dianjurkan untuk operasi.Berikut  adalah type-type operasi :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Lumpectomy ( Partial mastectomy / Segmental mastectomy ), mengangkat  tumor dan membersihkan jaringan sekitar tumor. Untuk DCIS dan Kanker  yang invasive, biasanya terapi radiasi pada area yang terkena tumor  diberikan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;a href="http://kankerpayudara.files.wordpress.com/2007/12/lumpectomy.jpg" title="lumpectomy.jpg"&gt;&lt;img alt="lumpectomy.jpg" src="http://kankerpayudara.files.wordpress.com/2007/12/lumpectomy.thumbnail.jpg?w=480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;A.Dark pink indicates tumor&lt;br /&gt;B.Light pink highlited area indicates tissue ( jaringan ) removed at  lumpectomy&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Total mastectomy, mengangkat seluruh payudara, tetapi tidak termasuk  kelenjar getah bening dibawah ketiak&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;a href="http://kankerpayudara.files.wordpress.com/2008/01/radical-mastectomy.jpg" title="radical-mastectomy.jpg"&gt;&lt;img alt="radical-mastectomy.jpg" src="http://kankerpayudara.files.wordpress.com/2008/01/radical-mastectomy.thumbnail.jpg?w=480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;A. Pink highlighted area indicates tissue removed at mastectomy&lt;br /&gt;B. Axillary limph nodes : level I&lt;br /&gt;C. Axillary limph nodes : level II&lt;br /&gt;D. Axillary limph nodes : level III&lt;br /&gt;E. Supraclavicular lymp nodes&lt;br /&gt;F. Internal mammary lymp nodes Total ( simple )&lt;br /&gt;Gambar untuk tindakan Simple mastectomy :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kankerpayudara.files.wordpress.com/2008/01/radicalmastectomy.jpg" title="radicalmastectomy.jpg"&gt;&lt;img alt="radicalmastectomy.jpg" src="http://kankerpayudara.files.wordpress.com/2008/01/radicalmastectomy.thumbnail.jpg?w=480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;A. Pink highlighted area indicates tissue removed at mastectomy&lt;br /&gt;B. Axillary limph nodes : level I&lt;br /&gt;C. Axillary limph nodes : level II&lt;br /&gt;D. Axillary limph nodes : level III&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Modified radical mastectomy, mengangkat payudara dan kelenjar getah  bening dibawah ketiak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Axillary limph node, mengangkat titik-titik kelenjar getah bening  ketiak, kemudian sel kankernya diteliti oleh ahli patology.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sentinel lymp node biopsy, prosedur dimana ahli bedah akan mencari  dan kemudian mengangkat kelenjar getah bening utama pad ketiak (  sentinel lymph node ) yang langsung berhubungan dengan payudara. Ahli  patology kemudian akan meneliti sel-sel kankernya. Untuk  mengidentifikasi sentinel lymp node ahli bedah akan menyuntikkan suatu  cairan dan / atau radioactive tracer kedalam area sekitar puting  payudara. Cairan atau tracer tadi akan mengalir ketitik-titik kelenjar  getah bening, yang pertama akan sampai ke sentinel lymp node. Ahli bedah  akan menemukan titik-titik pada KGB ( kelenjar Getah Bening ) yang  warnanya berbeda ( apabila digunakan cairan ) atau pancaran radiasi (  bila menggunakan tracer ). Cara ini biasanya mempunyai resiko rendah  akan terjadinya lymphedema ( pembengkakan pada lengan ) daripada  axillary lymp node dissection. Bila ternyata hasilnya sentinel node  bebas dari penyebaran kanker, maka tidak ada operasi lanjutan untuk KGB.  Apabila sebaliknya, maka dilanjutkan operasi pengangkatan KGB.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Wanita yang sudah dilakukan mastectomy kemudian bisa mempertimbangkan  untuk melakukan breast reconstruction yaitu ahli bedah akan membuatkan  payudara baru. Rekonstruksi bisa dilakukan dengan mengambil jaringan  dari bagian tubuh lain. Atau dengan implant sintetis. Hal ini bisa  dilakukan langsung pada saat mastectomy bisa juga sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ADJUVANT THERAPY.&lt;/strong&gt; Adalah pengobatan yang diberikan  sebagai tambahan pengobatan setelah operasi. Tujuannya untuk mengurangi  resiko kanker untuk kambuh. Tapi setiap pengobatan kanker tidak ada yang  pasti akan melenyapkan kanker ( hanya Tuhan yang tahu, manusia  berikhtiar saja ). Adjuvant theraphy antara lain : Terapi Radiasi,  Chemotherapy, Hormon terapi dan Targeted Therapy. Dibawah ini adalah  garis besar adjuvant therapy :&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. TERAPI RADIASI. &lt;/strong&gt;Terapi ini menggunakan X-ray  berenergy tinggi atau partikel lain untuk membunuh sel kanker. Terapi  ini diberikan secara regular perminggu. Biasanya 5 hari selama seminggu.  ( Senin – Jum’at ) selama 6-7 minggu. Tujuannya adalah : mematikan sel  kanker yang mungkin masih ada / teetinggal disekitar area tumor yang  sudah dioperasi, mengecilkan ukuran tumor sebelum kemudian dioperasi,  agar memudahkan pada saat pengangkatan. Pengalaman saya, ketika  metastasis kanker ketulang belakang, di radiasi sebanyak 10x untuk  menghilangkan rasa sakit. Danuntuk mengecilkan tumor sebelum operasi di  radiasi lagi sebanyak 38 kali. Proses radiasi tidak menyakitkan untuk  prosesnya tidak lama. Tidak sampai 4 menit, tidak ada efek apapun. Hanya  area yang di radiasi tidak boleh terkena air karena bisa melepuh.  Ketika saya radiasi di ketiak, memang agak lecet. Karena biasanya ketiak  berkeringat. Bisa diobati dengan perban luka, setelah agak kering  lukanya bisa diolesi krem / salep untuk lecet karena radiasi.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. CHEMOTHERAPY.&lt;/strong&gt; Chemotherapy adalah menggunakan suatu  obat yang fungsinya adalah untuk membunuh sel kanker. Systemic  chemotherapy, obat chemo tersebut dialirkan lewat pembuluh darah,  targetnya adalah seluruh sel kanker yang ada di tubuh. Efek samping obat  chemotherapy sangat individual, tergantung dari masing-masing pasien  juga dosisi yang diberikan biasanya dokter akan menghitung luas tubuh  melalui berat badan pasien. Pada saat saya melakukan chemotherapy tahun  lalu dan sekarang efek samping bisa dikatakan tidak ada / bisa  diabaikan. Yang saya rasakan adalah rambut rontok, kalau leukosit mulai  turun merasa sangat lelah. Lainnya tidak ada. ( untuk meminimalkan efek  samping akan dibahas tersendiri ). Efek samping yang umumnya dirasakan  pasien adalah :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Rambut rontok&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kemungkinan resiko infeksi ( basanya sariawan pada mulut,  tenggorokan susah menelan karena infeksi jamur )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kuku dan kulit menghitam, kadang kulit kering&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mual &amp;amp; muntah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ngilu tulang-tulang&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hilang nafsu makan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Diare atau malahan susah buang air besar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Asam lambung naik&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Gejala-gejala itu biasanya akan menghilang ketika pengobatan selesai.  Chemotherapy bisa diberikan secara oral ( diminum ) dan intravenous (  diinfuskan ). Diberikan secara beseri ( untuk oral biasanya diminum  selama 2 minggu, istirahat 1 minggu. Kalau diinfuskan 6 kali chemo,  jaraknya 3 minggu untuk yang full dose ). Biasanya tidak perlu menginap  di Rumah Sakit, apabila satu jam setelah chemo tidak mengalami efek  apapun. Kalau agak mual-mual sedikit tidak apa-apa sampai dirumah  biasanya akan hilang asal langsung istirahat / tidur.&lt;br /&gt;Chemotherapy, bisa diberikan sebagai neoadjuvant therapy ( diberikan  sebelum diadakan operasi, tujuannya adalah untuk mengecilkan tumor yang  besar, mengeringkan luka kanker akibat kanker yang sudah pecah ), atau  adjuvant therapy ( diberikan setelah operasi, untuk mengurangi  kekambuhan ).&lt;br /&gt;Dalam hal mana apabila kanker kambuh lagi ( cancer reccurence ).  Pasien biasanya ditawari untuk menggunakan obat baru atau kombinasi dari  obat yang sudah ada. Obat yang berbeda, berguna untuk kanker yang  berbeda pula. Dan penelitian menunjukkan bahwa kombinasi dari obat-obat  tertentu akan lebih efektif daripada obat individual. Obat – obat  chemotherapy yang biasanya digunakan untuk kanker payudara adalah :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Cyclophosphamide ( cytoxan, Neosar )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Methotrexate ( banyak merk )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fluorouracil ( 5-Fu, Adrucil )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Doxorubicin ( Adriamycin, Rubex )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Paclitaxel ( Taxol )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Docetaxel ( Taxotere )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Vinorelbine ( Navelbine )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Capecitabine ( Xeloda )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Protein bound paclitaxel ( Abraxane )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gemcitabine ( Gemzar )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ada juga obat yang baru di buat oleh Brysto Myers and Squib yaitu  Ixempra ( tapi belum beredar di Indonesia, karena masih sangat baru )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dll&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Contoh kombinasi obat :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;CMF ( cyclophosphamide, methotrexate, dan 5-FU )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;FAC ( 5-Fu, Doxorubicin, cyclophosmide )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;TAC ( docetaxel, doxorubicin, dan cyclophosphamide )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;GT ( gemcitabine dan paclitaxel )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dll&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Beberapa obat ini bisa juga dikombinasikan dengan trastuzumab (  Herceptine ), suatu obat yang tergolong dalam targeted therapy. Dalam  pengobatan kanker akan selalu dievaluasi oleh team dokter juga lebih  baik apabila pasien aktif terlibat.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. HORMON THERAPY. &lt;/strong&gt;Terapi hormone berguna bagi pasien  yang hasil biopsynya menunjukkan hasil positive untuk Estrogen receptor (  ER + ) dan Progesterone receptors ( PR + ) tipe kanker ini berarti  pertumbuhannya dipengaruhi oleh hormone-hormon tersebut sehingga  diperlukan obat untuk memblock hormone untuk membatasi / mengerem  pertumbuhan tumor. Pemakaiannya bisa sendiri atau bersamaan dengan obat  chemotherapy. Contoh terapi hormone sebagai adjuvant therapy adalah  tamoxifen, anastrozole ( arimidex ), letrozole ( femara ), dan  exemestane ( aromasin ).&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kankerpayudara.files.wordpress.com/2007/12/estrogen-receptors.jpg" title="estrogen-receptors.jpg"&gt;&lt;img alt="estrogen-receptors.jpg" src="http://kankerpayudara.files.wordpress.com/2007/12/estrogen-receptors.thumbnail.jpg?w=480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;A. Estrogen receptor&lt;br /&gt;B. Estrogen&lt;br /&gt;C. Estrogen helper protein&lt;br /&gt;D. Cell nucleus&lt;br /&gt;E. DNA ( genetic material ) inside the cell nucleus&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kankerpayudara.files.wordpress.com/2007/12/tamoxifen-estrogen-receptor.jpg" title="tamoxifen-estrogen-receptor.jpg"&gt;&lt;img alt="tamoxifen-estrogen-receptor.jpg" src="http://kankerpayudara.files.wordpress.com/2007/12/tamoxifen-estrogen-receptor.thumbnail.jpg?w=480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cell with estrogen receptors blocked by tamoxifen and helper  protein :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;A. Estrogen receptor&lt;br /&gt;B. tamoxifen&lt;br /&gt;C. Estrogen helper protein&lt;br /&gt;D. Tamoxifen helper protein&lt;br /&gt;E. Cell nucleus&lt;br /&gt;F. DNA ( genetic material ) inside the cell nucleus&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. TARGETED THERAPY.&lt;/strong&gt;Adalah termasuk obat baru yang  bekerja untuk mengerem / menghentikan aksi dari protein abnormal (  HER2/neu ) yang menyebabkan sel kanker tumbuh dan membelah tak  terkontrol.Monoclonal antibodies targete protein yang biasanya ada dalam  jumlah yang besar didalam sel kanker.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Trastuzumab ( Herceptin ) dipakai sebagai obat untuk kanker payudara  yang mengandung terlalu banyak protein HER2/neu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bevacizumab ( Avastin ) adalah antiangiogenic. ( masih dalam  percobaan klinis ). Antiagiogenesis agent ini memblock angiogenesis (  formasi dari pembuluh darah baru ) yang dibutuhkan tumor untuk  berkembang dan metastasis.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-6087198480274339743?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/6087198480274339743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/05/pengobatan-kanker-payudara.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/6087198480274339743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/6087198480274339743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/05/pengobatan-kanker-payudara.html' title='PENGOBATAN KANKER PAYUDARA'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-195348726119399745</id><published>2010-05-18T02:38:00.000-07:00</published><updated>2010-05-18T02:38:38.542-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MEKANISME PEYAKIT dan DASAR DASAR TERAPI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PATOFISIOLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PATOLOGI'/><title type='text'>CARCINOMA MAMAE ( KANKER PAYUDARA )</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;A.PENGERTIAN&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ca. Mamae  merupakan penyakit keganasan yang paling banyak menyerang wanita.,  disebabkan karena terjadinya pembelahan sel-sel tubuh secara tidak  teratur sehingga pertumbuhan sel tidak dapat dikendalikan dan akan  tumbuh menjadi benjolan tumor (kanker). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;B.ETIOLOGI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; margin-left: 18.7pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Sebab keganasan pada mamae masih belum jelas,  tetapi ada beberapa faktor yang berkaitan erat dengan munculnya  keganasan payudara yaitu: virus, faktor lingkungan , faktor hormonal dan  familiar;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;1.Wanita resiko tinggi dari pada pria (99:1)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;2.&lt;span&gt;Usia:  resiko tertinggi pada usia diatas 30 tahun&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;3.Riwayat  keluarga: ada riwayat keluarga Ca Mammae pada ibu/saudara perempuan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;4.Riwayat  meanstrual: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;-early menarche  (sebelum 12 thun)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Late menopouse  (setelah 50 th)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;5.Riwayat kesehatan: Pernah mengalami / sedang  menderita otipical hiperplasia atau benign proliverative yang lain pada  biopsy payudara, Ca. endometrial.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;6.Menikah tapi tidak  melahirkan anak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;7.Riwayat reproduksi: melahirkan anak&amp;nbsp; pertama  diatas 35 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;8.Tidak menyusui&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;9.Menggunakan  obat kontrasepsi oral yang lama, penggunaan therapy estrogen&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;10.Mengalami  trauma berulang kali pada payudara&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;11.Terapi radiasi; terpapar  dari lingkungan yang terpapar karsinogen&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;12.Obesitas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;13.Life  style: diet tinggi lemak, mengkomsumsi alcohol (minum 2x sehari),  merokok.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;14.Stres hebat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;C.&amp;nbsp; PATOFISIOLOGI&amp;nbsp; PENYAKIT&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Proses terjadinya kanker karena  terjadi perubahan struktur sel, dengan ciri : proliferasi yang  berlebihan dan tak berguna, yang tak mengikuti pengaruh jaringan  sekitarnya. Proliferasi abnormal&amp;nbsp; sel kanker akan menggangu fungsi  jaringan normal dengan menginfiltrasi dan memasukinya dengan cara  menyebarkan anak sebar ke organ-organ yang jauh. Di dalam sel tersebut  telah terjadi perubahan secara biokimiawi&amp;nbsp; terutama dalam intinya.  Hampir semua tumor ganas tumbuh dari suatu sel yang mengalami  transformasi maligna dan berubah menjadi sekelompok sel ganas diantara  sel normal. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="color: black;"&gt;D. TANDA DAN GEJALA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;1.Terdapat  massa utuh kenyal, biasa di kwadran atas bagian dalam, dibawah ketiak  bentuknya tak beraturan dan terfiksasi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;2.Nyeri di daerah massa &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;3.Perubahan  bentuk dan besar payudara, Adanya lekukan ke dalam, tarikan dan  refraksi pada areola mammae&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;4.Edema dengan “peant d’ orange  (keriput seperti kulit jeruk)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;5.Pengelupasan papilla mammae&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;6.Adanya  kerusakan dan retraksi pada area puting, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;7.Keluar  cairan abnormal dari putting susu berupa nanah, darah, cairan encer  padahal ibu tidak sedang hamil / menyusui.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;8.Ditemukan lessi pada  pemeriksaan mamografi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;E. PEMERIKSAAN PENUNJANG&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;1.&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Pemeriksaan labortorium meliputi:  Morfologi sel darah, LED, Test fal marker (CEA) dalam serum/plasma,  Pemeriksaan sitologis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;2.&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Test diagnostik lain:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;a.&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Non invasive;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Mamografi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Ro thorak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;USG&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;MRI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;PET&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;b.&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Invasif&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; margin-left: 20.1pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Biopsi, ada 2  macam tindakan menggunakan jarum dan 2 macam tindakan pembedahan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; margin-left: 20.1pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Aspirasi biopsy (FNAB)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; margin-left: 20.1pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Dengn aspirasi jarum halus ,  sifat massa dibedakan antar kistik atau padat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; margin-left: 20.1pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;True cut / Care biopsy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; margin-left: 20.1pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Dilakukan dengan perlengkapan  stereotactic biopsy mamografi untuk memandu jarum pada massa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; margin-left: 20.1pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Incisi biopsy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; margin-left: 20.1pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Eksisi biopsy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; margin-left: 37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Hasil biopsi dapat digunakan  selama 36 jam untuk dilakukan pemeriksaan histologik secara froxen  section&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;F.&amp;nbsp; KOMPLIKASI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; margin-left: 18.7pt; text-align: justify; text-indent: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 200%;"&gt;Metastase ke  jaringan sekitar melalui saluran limfe (limfogen) ke paru,pleura, tulang  dan hati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 200%;"&gt;G.&amp;nbsp; PENATALAKSANAAN  MEDIS&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; margin-left: 18.7pt; text-align: justify; text-indent: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;Ada 2  macam yaitu kuratif (pembedahan) dan paliatif (non pembedahan).&amp;nbsp;  Penanganan kuratif dengan pembedahan yang dilakukan secara mastektomi  parsial, mastektomi total, mastektomi radikal, tergantung dari luas,  besar dan penyebaran kanker.&amp;nbsp; Penanganan non pembedahan dengan  penyinaran, kemoterapi dan terapi hormonal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 200%;"&gt;H. CARA PENCEGAHAN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify; text-indent: 18.7pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 200%;"&gt;1.Kesadaran SADARI dilakukan  setiap bulan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify; text-indent: 18.7pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 200%;"&gt;2.Berikan ASI  pada Bayi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify; text-indent: 18.7pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 200%;"&gt;Memberikan  ASIpada bayi secara berkala akan mengurangi tingkat hormone tersebut.  Sedangkan kanker payudara berkaitan dengan hormone estrogen.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify; text-indent: 18.7pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 200%;"&gt;3.jika menemukan  gumpalan / benjolan pada payudara segera kedokter.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify; text-indent: 18.7pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 200%;"&gt;4.Cari tahu apakah ada sejarah  kanker payudara pada keluarga. Menurut penelitian 10 % dari semua kasus  kanker payudara adalah factor gen.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify; text-indent: 18.7pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 200%;"&gt;5.Perhatikan konsumsi alcohol.  Dalam penelitian menyebutkan alcohol meningkatkan estrogen.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify; text-indent: 18.7pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 200%;"&gt;6.Perhatikan BB, obesitas  meningkatkan risiko kanker payudara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify; text-indent: 18.7pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 200%;"&gt;7.Olah raga teratur. Penelitian  menunjukkan bahwa semakin kurang berolah raga, semakin tinggi tingkat  estrogen dalam tubuh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify; text-indent: 18.7pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 200%;"&gt;8.Kurangi  makanan berlemak. Gaya hidup barat tertentu nampaknya dapat  meningkatkan risiko penyakit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify; text-indent: 18.7pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 200%;"&gt;9.Usia &amp;gt; 50 th lakukan srening payudara teratur. 80% Kanker  payudara terjadi pada usia &amp;gt; 50 th&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify; text-indent: 18.7pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 200%;"&gt;10.Rileks / hindari stress berat.  Menurunkan tingkat stress akan menguntungkan untuk semua kesehatan  secara menyeluruh termasuk risiko kanker payudara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;I. DIAGNOSIS YANG MUNCUL&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-indent: 18.7pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;1.&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Nyeri akut / kronis b/d agen injuri fisik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-indent: 18.7pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;2.&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Risiko infeksi b/d imunitas tubuh primer  menurun, prosedur invasive, penyakit&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-indent: 18.7pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;3.&lt;span style="line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;PK: Perdarahan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-indent: 18.7pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;4.&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Cemas  b.d status kesehatan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-indent: 18.7pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;5.&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Deficite Knolage b.d Kurang  paparan sumber informasi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-indent: 18.7pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;6.&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Ketidakseimbangan  nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d faktor psikologis &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-indent: 18.7pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;7.&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Sindrom &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;deficite self care b.d nyeri, kelemahan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;RENPRA CA. MAMAE&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="border-collapse: collapse; font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; width: 631px;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 17.15pt;"&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; height: 17.15pt; padding: 0in 5.4pt; width: 33.45pt;" valign="top" width="45"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;No&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: solid solid solid none; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; height: 17.15pt; padding: 0in 5.4pt; width: 65.45pt;" valign="top" width="87"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Diagnosa&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: solid solid solid none; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; height: 17.15pt; padding: 0in 5.4pt; width: 114.65pt;" valign="top" width="153"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Tujuan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: solid solid solid none; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; height: 17.15pt; padding: 0in 5.4pt; width: 259.35pt;" valign="top" width="346"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Intervensi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 33.45pt;" valign="top" width="45"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 65.45pt;" valign="top" width="87"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Nyeri   Akut b/d agen injuri fisik  &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 114.65pt;" valign="top" width="153"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Setelah   dilakukan askep …. jam &lt;strong&gt;tingkat  kenyamanan&lt;/strong&gt; klien meningkat, &lt;strong&gt;nyeri   terkontrol &lt;/strong&gt;dengan  KH: &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;klien melaporkan   nyeri  berkurang, skala nyeri 2-3&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Ekspresi wajah   tenang &amp;amp; dapat istirahat,  tidur.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;v/s dbn (TD   120/80 mmHg, N:  60-100 x/mnt, RR: 16-20x/mnt).&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 259.35pt;" valign="top" width="346"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Manajemen   nyeri :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Kaji nyeri secara   komprehensif ( Lokasi,  karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor   presipitasi ).&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Observasi&amp;nbsp;   reaksi nonverbal dari ketidak  nyamanan.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Gunakan teknik   komunikasi  terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Berikan lingkungan   yang tenang&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Ajarkan teknik   non farmakologis (relaksasi,  distraksi dll) untuk mengatasi nyeri.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Kolaborasi   pemberian analgetik untuk  mengurangi nyeri.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Evaluasi tindakan    pengurang nyeri/kontrol nyeri.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Monitor   penerimaan klien tentang manajemen  nyeri.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Monitor V/S&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Evaluasi   efektifitas analgetik, tanda dan  gejala efek samping.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 33.45pt;" valign="top" width="45"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 65.45pt;" valign="top" width="87"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Risiko   infeksi b/d adanya luka  operasi, imunitas tubuh menurun, prosedur invasive&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 114.65pt;" valign="top" width="153"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Setelah   dilakukan askep …. jam tidak terdapat  &lt;strong&gt;&amp;nbsp;infeksi Terkontrol &lt;/strong&gt;dg KH: &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Bebas dari tanda &amp;amp;   gejala infeksi &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Angka lekosit   normal (4-11.000)&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Suhu normal&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;(36-37 c) &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 259.35pt;" valign="top" width="346"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Konrol   infeksi :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Bersihkan   lingkungan setelah dipakai pasien  lain.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Batasi pengunjung   bila perlu dan  anjurkan u/ istirahat yang cukup&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Anjurkan keluarga   untuk cuci tangan sebelum  dan setelah kontak dengan klien.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Gunakan sabun   anti microba untuk mencuci  tangan.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Lakukan cuci   tangan sebelum dan  sesudah tindakan keperawatan.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Gunakan baju,   masker dan sarung tangan  sebagai alat pelindung.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Pertahankan   lingkungan  yang aseptik selama pemasangan alat.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Lakukan perawatan   luka dan dresing infus,DC  setiap hari.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Tingkatkan intake   nutrisi. &amp;amp;  cairan yang adekuat&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Berikan   antibiotik sesuai  program. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Proteksi   terhadap infeksi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Monitor   tanda dan gejala  infeksi sistemik dan lokal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Monitor   hitung granulosit dan WBC.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Monitor   kerentanan  terhadap infeksi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Pertahankan   teknik aseptik untuk setiap  tindakan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Inspeksi    kulit dan mebran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Inspeksi   keadaan luka dan  sekitarnya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Monitor    perubahan tingkat energi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Dorong   klien untuk meningkatkan mobilitas dan  latihan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Instruksikan    klien untuk minum antibiotik sesuai program.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Ajarkan   keluarga/klien tentang  tanda dan gejala infeksi.dan melaporkan kecurigaan   infeksi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 33.45pt;" valign="top" width="45"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 65.45pt;" valign="top" width="87"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;PK:   Perdarahan&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 114.65pt;" valign="top" width="153"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;setelah dilakukan  perawatan …..&amp;nbsp; jam perawat akan   mengurangi komplikasi dari perdarahan  dg KH:&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Perdarahan    berkurang.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;HB   &amp;gt; /= 10 gr %&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 259.35pt;" valign="top" width="346"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-Pantau tanda dan gejala  perdarahan pada   luka / luka post operasi.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Pantau    laborat Hb, HMT. AT&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Kolaborasi   untuk tranfusi bila&amp;nbsp; terjadi  perdarahan (hb &amp;lt; 10 gr%)&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Kelola   terpi sesuai order&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Pantau   daerah  yang dilakukan operasi&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Lakukan   perawatan luka dengan hati-hati  dengan menekan daerah luka dengan kassa   steril dan tutuplah dengan  tehnik aseptic basah-basah / kering-kering sesuai   indikasi&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Pantau    keadaan umum secara klinis&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 13.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 33.45pt;" valign="top" width="45"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 65.45pt;" valign="top" width="87"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Cemas b.d  status kesehatan&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 114.65pt;" valign="top" width="153"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;setelah dilakukan perawatan   selama ….. jam cemas ps terkontrol  dg KH :&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Ps Mengungkapkan cemas berkurang&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Dapat  tidur dan rileks&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Pasien kooperatif saat dilakukan  tindakan&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 259.35pt;" valign="top" width="346"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Penurunan kecemasan &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Bina   Hub. Saling percaya&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Libatkan   keluarga dalam  memberikan dukungan / suport mental dan spiritual&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;-Jelaskan semua  Prosedur tindakan yang akan dilakukan &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Hargai   pengetahuan ps tentang  penyakitnya&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Bantu   ps untuk  mengefektifkan sumber support&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Berikan   reinfocement untuk  menggunakan Sumber Coping yang efektif&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 33.45pt;" valign="top" width="45"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 65.45pt;" valign="top" width="87"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Deficite pengetahuan tentang  penyakit dan   perawatannya b.d Kurang paparan thdp sumber informasi,  terbatasnya kognitif&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 114.65pt;" valign="top" width="153"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;setelah  diberikan penjelasan selama ….   pengetahuan klien dan keluarga  meningkat dg KH: &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Ps   mengerti proses penyakitnya dan Program  prwtn serta Th/ yg diberikan dg:&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Ps   mampu: Menjelaskan kembali tentang apa  yang dijelaskan&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Pasien   / keluarga kooperatif&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 259.35pt;" valign="top" width="346"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Teaching   : Dissease Process&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-Kaji&amp;nbsp;   tingkat pengetahuan klien  dan keluarga tentang proses penyakit&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-Jelaskan tentang patofisiologi  penyakit,   tanda dan gejala serta penyebabnya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Sediakan  informasi tentang kondisi klien&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Berikan informasi tentang  perkembangan   klien &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Diskusikan perubahan gaya hidup  yang   mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan  datang dan   atau kontrol proses penyakit&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Diskusikan  tentang pilihan tentang terapi   atau pengobatan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Jelaskan  alasan dilaksanakannya tindakan   atau terapi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Gambarkan  komplikasi yang mungkin terjadi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Anjurkan klien untuk  mencegah efek samping   dari penyakit&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Gali sumber-sumber atau  dukungan yang ada&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Anjurkan klien untuk melaporkan  tanda dan   gejala yang muncul pada petugas kesehatan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 13.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 33.45pt;" valign="top" width="45"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 65.45pt;" valign="top" width="87"&gt;   &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;Ketidakseimbangan nutrisi kurang  dari kebutuhan tubuh b.d faktor   psikologis, biologis ( mual, muntah )&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 114.65pt;" valign="top" width="153"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Setelah dilakukan asuhan  keperawatan   …&amp;nbsp; jam klien menunjukan &lt;strong&gt;status nutrisi adekuat&lt;/strong&gt;  dengan KH:&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;BB   stabil&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;tingkat   energi adekuat&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;masukan    nutrisi adekuat&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 259.35pt;" valign="top" width="346"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Manajemen Nutrisi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Kaji   adanya  alergi makanan.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Kaji   makanan yang disukai oleh klien.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Kolaborasi    team gizi untuk penyediaan nutrisi TKTP&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Anjurkan   klien untuk meningkatkan asupan  nutrisi TKTP dan banyak mengandung vitamin C&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Yakinkan   diet  yang dikonsumsi mengandung cukup serat untuk mencegah konstipasi.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Monitor    jumlah nutrisi dan kandungan kalori.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Berikan   informasi tentang kebutuhan nutrisi.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Monitor Nutrisi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Monitor  BB jika&amp;nbsp; memungkinkan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Monitor respon klien terhadap  situasi   yang mengharuskan klien makan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Jadwalkan  pengobatan dan tindakan tidak   bersamaan dengan waktu klien makan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Monitor adanya mual muntah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Kolaborasi  untuk pemberian terapi sesuai   order&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Monitor  adanya gangguan dalam input   makanan misalnya perdarahan, bengkak dsb.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Monitor intake nutrisi dan kalori.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;-&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Monitor kadar energi, kelemahan dan    kelelahan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 33.45pt;" valign="top" width="45"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 65.45pt;" valign="top" width="87"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Sindrom defisit self care b/d  kelemahan,   penyakitnya&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 114.65pt;" valign="top" width="153"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Setelah  dilakukan askep … jam klien dan   keluarga dapat &lt;strong&gt;merawat diri :  activity daily living (adl) &lt;/strong&gt;dengan   kritria :&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Kebutuhan    klien sehari-hari terpenuhi (makan, berpakaian, toileting, berhias,  hygiene,   oral higiene)&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Klien   bersih dan tidak bau.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 259.35pt;" valign="top" width="346"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Bantuan perawatan diri &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Monitor    kemampuan pasien terhadap perawatan diri yang mandiri&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Monitor    kebutuhan akan personal hygiene, berpakaian, toileting dan makan,  berhias&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Beri   bantuan sampai klien mempunyai kemapuan  untuk merawat diri&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Bantu   klien dalam memenuhi kebutuhannya  sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Anjurkan   klien untuk melakukan aktivitas  sehari-hari sesuai kemampuannya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-Pertahankan aktivitas  perawatan diri   secara rutin&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Dorong   untuk melakukan secara mandiri tapi  beri bantuan ketika klien tidak mampu   melakukannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Berikan    reinforcement positif atas usaha yang dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;      &lt;/span&gt;&lt;span class="article_separator" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-195348726119399745?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/195348726119399745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/05/carcinoma-mamae-kanker-payudara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/195348726119399745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/195348726119399745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/05/carcinoma-mamae-kanker-payudara.html' title='CARCINOMA MAMAE ( KANKER PAYUDARA )'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-1612074609962549288</id><published>2010-05-06T05:39:00.000-07:00</published><updated>2010-05-06T05:39:48.660-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='VIROLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MEKANISME PEYAKIT dan DASAR DASAR TERAPI'/><title type='text'>VIRUS DENGUE</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312895118217274354" src="http://3.bp.blogspot.com/_b0fTE19mTiY/Sbsx9go_Y_I/AAAAAAAAAAM/kvMMFrgwfQY/s320/2.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Gambar 1. Virus Dengue&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengue adalah penyakit virus didaerah tropis yang  ditularkan oleh nyamuk dan ditandai dengan demam, nyeri kepala, nyeri  pada tungkai, dan ruam.Demam dengue/dengue fever adalah penyakit yang  terutama pada anak, remaja, atau orang dewasa, dengan tanda-tanda klinis  demam, nyeri otot, atau sendi yang disertai leukopenia, dengan/tanpa  ruam (rash) dan limfadenophati, demam bifasik, sakit kepala yang hebat,  nyeri pada pergerakkan bola mata, rasa menyecap yang terganggu,  trombositopenia ringan, dan bintik-bintik perdarahan (ptekie) spontan.  Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus  dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk  Aedes aegypti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virus dengue masuk kedalam tubuh melalui gigitan  nyamuk aedes aegypti dan kemudian bereaksi dengan antibodi dan  terbentuklah kompleks virus-antibody, dalam asirkulasi akan mengaktivasi  sistem komplemen. Virus dengue masuk kedalam tubuh melalui gigitan  nyamuk dan infeksi pertama kali menyebabkan demam dengue. Reaksi tubuh  merupakan reaksi yang biasa terlihat pada infeksi oleh virus. Reaksi  yang amat berbeda akan tampak, bila seseorang mendapat infeksi berulang  dengan tipe virus dengue yang berlainan. Dan DHF dapat terjadi bila  seseorang setelah terinfeksi pertama kali, mendapat infeksi berulang  virus dengue lainnya. Re-infeksi ini akan menyebabkan suatu reaksi  anamnestik antibodi, sehingga menimbulkan konsentrasi kompleks  antigen-antibodi (kompleks virus-antibodi) yang tinggi.&lt;br /&gt;MORFOLOGI&lt;br /&gt;Seperti  beberapa flavivirus, virus dengue dewasa terdiri dari genom  single-stranded RNA yang dikelilingi oleh suatu ikosahedral atau  isometric nukleokapsid. Virion dengue merupakan partikel sferis dengan  diameter nukleokapsid 30 nm dan ketebalan selubung 10 nm, sehingga  diameter virion kira-kira 50 nm. Genom virus dengue terdiri dari asam  ribonuklead berserat tunggal, panjangnya kira-kira 11 kilobasa. Genom  terdiri dari protein struktural dan protein non struktural, yaitu gen C  mengkode sintesa nukleokapsid (Capsid), gen M mengkode sintesa protein M  (Membran) dan gen E mengkode sintesa glikoprotein selubung/ Evelope.&lt;br /&gt;Partikel  virus yang belum matang (immature) mengandung lebih banyak protein  rekursor (prM) dan kurang infeksius dibandingkan virion lengkap yang  dilepaskan. Virus ini stabil pada ph 7-9 dan pada suhu rendah, sedang  pada suhu yang relative tinggi infektivitasnya cepat menurun. Sifat  dengue yang lain adalah sangat peka terhadap beberapa zat kimia seperti  sodium deoxycholate, eter, kloroform dan garam empedu karena adanya  amplop lipid. Bentuk batang, sensitif terhadap inaktivasi oleh Dietil  eter dan Na dioksikolat, stabil pada suhu 70oC (Kusumawati, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protein  C adalah protein pertama yang dibentuk pada waktu translasi genom  virus. Berat molekulnya kira-kira 13.500, kaya asam amino lisin dan  arginin sehingga protein C bersifat basa. Karena sifatnya itu protein C  mampu berinteraksi dengan RNA virion. Selain itu pada ujung  karboksilnya, protein C terdiri dari rangkaian asam amino hidrofobik  yang memungkinkan ia menempel pada membran sebelum dipecah oleh  signalase pada ujung protein prM. Pada akhirnya, ujung hirofobik protein  C dilepas oleh enzim protease yang dikode gen virus sesaat menjelang  morfogenesis virion. Protein C merupakan salah satu protein flavivirus  yang conserved, walaupun masih kurang conserved disbanding protein  struktural lain.&lt;br /&gt;Protein prM adalah glikoprotein dengan berat molekul  22.000 dan pecah menjadi protein M dan glikoprotein lain menjelang  morfogenesis lengkap virion. Pemecahan ini tampaknya merupakan hal  kritis bagi morfogenesis karena pemecahannya diikuti segera dengan  naiknya titer virus aktif. Protein E di dalam sel terinfeksi dapat  berada dalam bentuk heterodimer antara prM-E. Protein E berat molekulnya  51.000 – 60.000 dan dalam virion berada dalam bentuk homotrimer. Dalam  rangkaian asam aminonya, protein E mempunyai 12 gugus sistein yang  membentuk enam ikatan disulfida. Melihat konfigurasinya, pada protein E  terdapat tiga kelompok epitop yang terpisah yaitu epitop A, B dan C.  Empat serotipe virus dengue (1 hingga 4) bagiannya kira-kira 60% - 74%  merupakan residu asam amino gen E merupakan pembeda antara serotipe yang  satu dengan yang lainnya dan menyebabkan reaksi antibody (Massi,    )&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;FISIOLOGI&lt;br /&gt;Adapun  protein non-struktural virus terdiri dari tujuh macam yang dikode oleh  gen terpisah. Protein tersebut adalah : NS1, NS2a, NS2b, NS3, NS4a,  NS4b, dan NS5. NS1 merupakan glikoprotein dengan berat molekul kira-kira  48.000 dan disintesis pada retikulum endoplasmik kasar (Rough  endoplasmic reticulum, RER) sebagai protein monomer yang hidrofilik dan  yang kemudian berubah menjadi homodimer yang lebih hidrofobik  dibandingkan aslinya. Glikolisasi protein terjadi dengan empat molekul  gula manosa, tetapi setelah protein dipindahkan ke komplek Golgi, dua  gula manosa diganti dengan molekul gula lain.&lt;br /&gt;Protein NS1 selama  proses infeksi dapat berada di dalam sel, di membrane plasma maupun  disekresikan keluar sel. NS1 berperan dalam morfogenesis virion. Karena  terpapar di membran plasma, ia juga berperan dalam proses imunopatologi  infeksi. NS2 terdiri dari dua jenis, yaitu NS2a yang berat molekulnya  kira-kira 20.000 dan NS2b berat molekulnya kira-kira 14.500. Kedua  protein ini bukan  merupakan glikoprotein. NS2a berfungsi sebagai enzim  proteolitik bagi pematangan NS1. NS3 merupakan protein hidrofilik dengan  berat molekul 70.000 dan berfungsi seperti enzim tripsin. Ia berperan  sebagai enzim yang memecah poliprotein prekursor protein virus dan juga  sebagai komponen dari RNA polimerase viral. NS4 tidak jelas fungsinya.  Berat molekulnya adalah 16.000 untuk NS4a dan 27.000 untuk NS4b.  Keduanya protein hidrofobik. NS5 merupakan protein terbesar dengan berat  molekul mencapai 150.000 dan bertindak sebagai RNA polymerase (Massi ,     ).&lt;br /&gt;Secara invitro, virus dengue dapat dikembang biakkan pada  berbagai biakkan sel, baik biakkan sel mamalia maupun insekta. Efek  sitopatogenik yang timbul sangat berfariasi, mulai dari tanpa efek  sitopatogenik sampai yang nyata. Dengan berbagi bentuk antara lain :  perubahan indeks refraksi sel, perubahan morfologi sel menjadi bulat dan  padat serta fungsi sel sehingga terbentuk sinsitia.&lt;br /&gt;Pembiakan pada  sel insekta umumnya kurang menimbulkan efek sitopatogenik dibandingkan  dengan pembiakan sel pada mamalia, walaupun titer virus infektif yang  dihasilkan oleh sel insekta biasanya lebih tinggi dibanding sel mamalia.  Biakan sel insekta yang sering dipakai adalah AP-61 (Aedes  pseudoscutelaris klon 61), sel C6/36 (Aedes albopictus, klon C6/36),  tRa-284 (Toxorrynchites ambonensis, klon 284).&lt;br /&gt;Titer maksimum yang  dapat dicapai pada pembiakan di sel insekta diatas berkisar antara  seratus juta sampai satu milyar plaque forming unit per mililiter  (PFU/ml). Sedangkan sel mamalia yang sering digunakan adalah LLC-Mk2  (ginjal monyet), sel BHK-21 (ginjal hamster), rero (ginjal monyet), FRhl  (paru fetus monyet),. Sel LLC-MK2 dan BHK-21 sering dipakai untuk  titrasi virus infektif, sedang sel FRhL biasanya dipakai di dalam  pengembangan vaksin (2,3,4).&lt;br /&gt;Masa laten in vitro berkisar antara  12-16 jam, setelah itu virus infektif dapat ditemukan ekstra sel. Dengan  infeksi yang berlanjut, jumlah virus intrasel makin berkurang dan pada  saat puncak titer virus tercapai, 80% atau lebih virion ditemukan  ekstrasel. Hospes seluler invitro untuk virus dengue terutama dari  sel-sel yang termasuk sistim retikuloendotel yaitu sel monosit dan  progenitornya, sel Endotel, sel kupfer, sel limfosit B dan makrofag.  Infeksi dimulai dengan menempelnya virion pada reseptor di membran  plasma. Reseptor ini dapat dihancurkan oleh ensim tripsin. Cara kedua  infeksi disebut immune infection enchancement, dalam ini virion  membentuk komplek dengan antibodi anti dengue kelas IgG dan sisi Fc-nya.  Kemudian menempel pada reseptor Fc yang ada di permukaan membran plasma  sel. Antibodi antidengue yang merangsang pelipatgandaan kembangbiak  virus didalam sel sistem retikuloendotel tersebut akan bekerja jika  kadarnya di bawah kadar ambang netralisasi virus.&lt;br /&gt;Secara in vitro,  pelipatgandaan kembang biak virus di dalam sel system retikuloendotel  tidak hanya dirangsang oleh antibodi anti dengue pada kadar rendah,  tetapi juga dirangsang oleh berbagai zat aktif lain, antara lain dinding  sel bakteri, toksin bakteri, komponen cacing usus, lektin dsb. Pada sel  sistem retikulendotel primata mempunyai efek pengandaan kembang biak  oleh komponen mikrobata yang konsisten sedangkan pada manusia hasilnya  barvariasi Virus dengue adalah virus termolabil yang dapat disimpan  dalam keadaan beku (-70oC) (Kusumawati, 2005).&lt;br /&gt;EKOLOGI&lt;br /&gt;Virus  dengue menempel pada hospesnya melalui dua cara yaitu terikat pada  reseptor virus yang ada dipermukaan sel dan melalui antibodi anti dengue  yang terikat pada sel. Setelah proses penempelan, virus masuk ke dalam  sel dengan dua cara yaitu : endositosis / pinositosis dan fusi antara  selubung virus dengan membran plasma yang diikuti pelepasan nukleokapsid  ke dalam sitoplasma sel.&lt;br /&gt;Tahap pertama setelah terjadinya pelepasan  kapsid adalah translasi RNA virion menjadi RNA polimerase yang kemudian  digunakan untuk membuat RNA template genom virus. Dalam proses  replikasinya, di dalam sel terdapat 3 jenia RNA yaitu :&lt;br /&gt;1. RNA dengan  koefisien sedimentasi 20-22S, merupakan RNA serat ganda dimana serat  satunya merupakan genom virus, disebut bentuk replikatif.&lt;br /&gt;2. RNA  dengan koefisien sedimentasi 20-28 S, merupakan RNA serat ganda persial,  disebut bentuk replikatif antara.&lt;br /&gt;3. RNA dengan koefisien  sedimentasi 42S dan peka RNA se yang merupakan genom virion.&lt;br /&gt;Di dalam  proses replikasi RNA ini, RNA polimerase difase awal dan fase lanjut  siklus, berbeda afinitasnya terhadap serat RNA berpolaritas positif dan  negatif, pada fase lanjut siklus replikasi terutama membentuk serat RNA  berpolaritas positif. Selanjutnya pada akhir siklus pengikatan protein C  pada ujung 3’RNA menghalangi ikatan RNA polimerasa dengan molekul RNA  dan tetap membiarkan ujung 5’ berikatan dengan ribosom.&lt;br /&gt;Translasi  genom virus dimulai dari kodon AUG gen protein C, prM,E,NS1 dan  seterusnya. Pada fase akhir siklus replikasi yaitu menjelang atau  bersamaan dengan terbentuknya virion, prM dipecah menjadi M. Setelah  semua komponen virus disintesis, morfogenesis lengkap virion berlangsung  dan pada dasarnya terdiri dari empat tahap yaitu :&lt;br /&gt;1. Perakitan  nukleokapsid dari RNA dan protein C&lt;br /&gt;2. Budding nukleokapsid dari  membra intraselular yang telah tersisip oleh prM dan E.&lt;br /&gt;3. Pelepasan  virion yang terjadi akibat proses fusi membran plasma dengan vesikel  pembawa virion.&lt;br /&gt;4. Pemecahan prM menjadi M.&lt;br /&gt;Virion flavivirus yang  telah matang terdiri dari 3 protein struktural : protein nukleokapsid/  Core (C; 12kd), Protein Membra nonglikosilasi ( M; 8kd), dan protein  envelop (E; 53 kd). Protein E merupakan komponen utama yang terdapat  pada permukaan virion, protein ini mengadung antigen determinan penting  untuk terjadinya inhibisi hemaglutinitas dan netralisasi dan sekaligus  menginduksi respon imunologi pada hospes yang terinfeksi. Nyamuk  mengisap darah penderita DBD, maka virus dengue ikut terisap dan  berkembang biak di dalam tubuh nyamuk. Nyamuk pun siap menularkan virus  ke tubuh manusia (Kusumawati, 2005).&lt;br /&gt;TAKSONOMI&lt;br /&gt;Familia :  (Flaviviridae)&lt;br /&gt;Genus  : (Flavivirus)&lt;br /&gt;Spesies  : (Dengue virus)&lt;br /&gt;Serotipe   : Den-1, 2, 3 dan 4&lt;br /&gt;(wikipedia, 2009).&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;PERANAN VIRUS DALAM  LINGKUNGAN&lt;br /&gt;Perjalanan Virus Dengue Banyaknya genangan air di musim  hujan menjadi tempat yang nyaman bagi nyamuk Aedes aegypti untuk  berkembang biak. Terutama di daerah genangan air yang kotor dan tenang.&lt;br /&gt;Program  yang sering dikampanyekan di Indonesia adalah 3M, yaitu menguras,  menutup, dan mengubur. Menguras bak mandi, untuk memastikan tidak adanya  larva nyamuk yang berkembang di dalam air dan tidak ada telur yang  melekat pada dinding bak mandi. Menutup tempat penampungan air sehingga  tidak ada nyamuk yang memiliki akses ke tempat itu untuk bertelur.  Mengubur barang bekas sehingga tidak dapat menampung air hujan dan  dijadikan tempat nyamuk bertelur (siswono, 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR  PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Massi, Nasrum M.2005.Teknik Identifikasi Serotipe Virus  Dengue (DEN 1-4) dengan Uji Reverse Transcription Polymerase Chain  Reaction (RT-PCR).  http://med.unhas.ac.id/DataJurnal/tahun2006vol2007/artikel%20masuk%202006%20ok/TP-Teknik%20Identifikasi%20_dr.%20Muh.%20Nasrum.pdf.  diakses tanggal 7 maret 2009&lt;br /&gt;Kusumawati, R. Lia. 2005. Teori  Sequential Infection dari Halstead.  http://library.usu.ac.id/download/fk/mikrobiologi-lia%20kusumawati.pdf.  Diakses tanggal 7 maret 2009&lt;br /&gt;Siswono.2004. Demam Berdarah Dengue dan  Permasalahannya.  http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2004022601454053. diakses  tanggal 7 maret 2009&lt;br /&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Demam_berdarah.  2009. diakses tanggal 7 Maret 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-1612074609962549288?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/1612074609962549288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/05/virus-dengue.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/1612074609962549288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/1612074609962549288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/05/virus-dengue.html' title='VIRUS DENGUE'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_b0fTE19mTiY/Sbsx9go_Y_I/AAAAAAAAAAM/kvMMFrgwfQY/s72-c/2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-8522462277023703825</id><published>2010-05-06T01:10:00.000-07:00</published><updated>2010-05-06T01:11:26.618-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MEKANISME PEYAKIT dan DASAR DASAR TERAPI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ENDROKIN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PATOFISIOLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PATOLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SISTEM SARAF'/><title type='text'>PATOFISIOLOGI DEMAM</title><content type='html'>Suhu tubuh diregulasi oleh suatu inti dalam hipotalamus anterior yang berfungsi sebagai termostat yang mengendalikan keseimbangan antara produksi dan kehilangan panas. Demam berkembang bila termostat digeser ke set yang lebih tinggi. &lt;br /&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_gdPKZoW8VOM/SoasP3fS7XI/AAAAAAAAAFk/t-txO6Hn0UA/s1600-h/pituitary2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370168994279124338" src="http://2.bp.blogspot.com/_gdPKZoW8VOM/SoasP3fS7XI/AAAAAAAAAFk/t-txO6Hn0UA/s400/pituitary2.jpg" style="float: right; height: 225px; margin: 0pt 0pt 10px 10px; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Untuk tubuh mencapai suatu suhu lebih tinggi kehilangan panas melalui kulit dikurangi dengan vasokonstriksi, sehingga dalam waktu singkat, sewaktu suhu meningkat, kulit secara paradoks menjadi dingin. Saat pergeseran ini, secara klinis terlihat sebagai gemetar, yang artinya suhu lingkungan mendadak diterjemahkan sebagai dingin.&lt;br /&gt;IL-1, IL-6 dan TNF adalah mediator-mediator penting dari reaksi ini. Sitokin-sitokin ini dihasilkan oleh leukosit dan jenis sel lain dalam respon terhadap organisme infeksi atau reaksi-reaksi imunologis dan toksik, yang dilepaskan dalam sirkulasi. IL-1 dan IL-6 mempunyai efek yang sama dalam menghasilkan reaksi fase akut, keduanya menghasilkan demam melalui interaksi dengan reseptor-reseptor vaskuler dalam pusat termoregulator dari hipotalamus dengan aksi langsung dari sitokin atau lebih cenderung melalui induksi produksi prostaglandin lokal (PGE), informasi ini kemudian ditransmisi dari hipotalamus anterior ke posterior ke pusat vasomotor, menyebabkan stimulasi saraf simpatis, vasokonstriksi pembuluh-pembuluh kulit, mengurangi perspirasi dan timbul panas demam. Pirogen endogen yang diketahui mencakup TNF, IL-1 dan IL-6. Mereka dilepaskan oleh monosit/makrofag dan sel-sel inang yang lain dalam respons terhadap mikroba dan stimulasi pirogen lain. Aspirin melawan demam dangan melalui inhibisi siklooksigenasi dalam hipotalamus. TNF juga menstimulasi pusat hipotalamus secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=446046793902323342&amp;amp;postID=8522462277023703825" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_gdPKZoW8VOM/SoawlLN1BaI/AAAAAAAAAFs/ZEGfCX8AufQ/s1600-h/nrd2171-i3.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370173758398334370" src="http://2.bp.blogspot.com/_gdPKZoW8VOM/SoawlLN1BaI/AAAAAAAAAFs/ZEGfCX8AufQ/s400/nrd2171-i3.jpg" style="height: 369px; width: 355px;" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah demam itu ada manfaatnya? Setiap otang yang menderita radang tenggorokan atau infeksi saluran nafas akan mengalami manifestasi radang akut. Demam adalah satu dari manifestasi yang paling menonjol, terutama bila bersamaan dengan infeksi. Bakteriemia biasanya menginduksi demam dengan meningkatnya suhu secara dramatik, menghasilkan apa yang disebut ‘spike’ pada grafik suhu. Orang menggigil kuat dapat dilihat pada mereka yang mendapat serangan flu atau malaria. Wagner-Jauregg pada tahun 1927mendapat hadiah nobel untuk metode pengobatan neurosifilis dengan menimbulkan demam tinggi melalui malaria. Dasar idenya adalah spiroketa akan mati pada suhu 41C. Ada beberapa strain pneumokokus yang mati pada suhu sekitar 40C. Fakta-fakta ini memberikan kesetujuan untuk efek yang berfaedah dari demam pada infeksi. Di samping itu terbukti bahwa leukosit bergerak lebih cepat bila suhu meningkat, demikian juga dengan banyak fungsi seluler lain. Studi sekarang memperlihatkan IL-1 dan TNF lebih efektif pada suhu yang lebih tinggi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-8522462277023703825?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/8522462277023703825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/05/patofisiologi-demam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/8522462277023703825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/8522462277023703825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/05/patofisiologi-demam.html' title='PATOFISIOLOGI DEMAM'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_gdPKZoW8VOM/SoasP3fS7XI/AAAAAAAAAFk/t-txO6Hn0UA/s72-c/pituitary2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-1829668608114373268</id><published>2010-05-06T00:58:00.001-07:00</published><updated>2010-05-06T00:58:33.636-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MEKANISME PEYAKIT dan DASAR DASAR TERAPI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PATOLOGI'/><title type='text'>DEMAM BERDARAH DENGUE</title><content type='html'>Penyakit ini tercatat pertama kali menjadi endemi pada tahun 1779-1780  di Asia, Afrika dan Amerika Utara dan terjadi secara hampir bersamaan  dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Hal ini  menggambarkan bahwa penyebaran penyakit ini sudah sangat luas sejak  lebih dari 200 tahun lalu dan merupakan penyakit yang cukup  membahayakan. Saat inipun penyakit ini masih merupakan masalah serius di  bidang kesehatan umumnya di daerah tropis dan subtropis dengan tingkat  ekonomi dan kesehatan yang rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APA ITU DEMAM DENGUE?&lt;br /&gt;Demam Dengue atau Dengue Fever (DF)  adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue Famili  Flaviviridae,dengan genusnya adalah flavivirus. Virus ini mempunyai  empat serotipe yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4.  Penyakit ini tidak ditularkan secara langsung dari manusia ke manusia  melainkan melalui perantaraan melalui gigitan nyamuk. Spesies nyamuk  yang menjadi vektor perantara penyakit ini utamanya adalah Aedes aegypti  dan Aedes albopictus betina. &lt;br /&gt;DF merupakan bentuk paling ringan dari  bentuk berikutnya yaitu Demam Berdarah Dengue atau Dengue Hemorrhagic  Fever (DHF) dan Dengue Shock Syndrome (DSS). &lt;br /&gt;BAGAIMANA GEJALA  DARI PENYAKIT TERSEBUT?&lt;br /&gt;Manifestasi klinis infeksi virus Dengue  pada manusia sangat bervariasi. Spektrum variasinya begitu luas, mulai  dari tanpa gejala, demam ringan yang tidak spesifik, Demam Dengue, Demam  Berdarah Dengue, hingga yang paling berat yaitu Dengue Shock Syndrome  (DSS)&lt;br /&gt;Demam Dengue memiliki tanda dan gejala awal berupa panas  yang berlangsung antara 4 – 7 hari setelah gigitan nyamuk pembawa virus  tersebut disertai dengan gejala-gejala berikutnya yang meliputi:&lt;br /&gt;-panas  tinggi hingga &amp;gt;38ºC yang berlangsung hingga 5-7 hari&lt;br /&gt;-Nyeri  kepala dan nyeri diretro-orbital (belakang mata)&lt;br /&gt;-Nyeri pada otot dan  sendi&lt;br /&gt;-Rasa mual dan muntah, tidak nafsu makan&lt;br /&gt;-Adanya ganguan  pencernaan (konstipasi atau diare)&lt;br /&gt;-Nyeri perut&lt;br /&gt;-Adanya rash  (tanda kemerahan) pada kulit&lt;br /&gt;Sedangkan Demam Berdarah Dengue  memiliki tanda dan gejala sebagai berikut:&lt;br /&gt;-Gejala di atas ditambah&lt;br /&gt;-Adanya  manifestasi perdarahan spontan, seperti bintik-bintik merah di kulit  yang tidak hilang jika ditekan (utamanya di daerah siku, pergelangan  tangan dan kaki), uji tourniquet positif, mimisan, perdarahan gusi,  perdarahan yang sulit dihentikan jika disuntik atau terluka &lt;br /&gt;-Adanya  pembesaran organ hepar (hati) dan limpa&lt;br /&gt;-Adanya trombositopenia,  yaitu jumlah trombosit &amp;lt; 100.000/mm³ (normalnya 150-450 ribu/mm³) &lt;br /&gt;-Adanya  kebocoran plasma yang ditandai dengan nilai Hematokrit (Hct) yang  meningkat atau menurun 20% atau lebih dari nilai normalnya, adanya efusi  pleura (cairan dalam paru) dan ascites (penumpukan cairan dalam rongga  perut). &lt;br /&gt;Bentuk paling berat dari infeksi virus ini adalah Dengue  Shock Syndrome (DSS) dimana gejalanya meliputi :&lt;br /&gt;-Gejala pada DHF  ditambah,&lt;br /&gt;-Adanya penurunan kesadaran&lt;br /&gt;-Tekanan darah sangat rendah&lt;br /&gt;-Nadi  cepat dan lemah&lt;br /&gt;-Tangan dan kaki pucat dan dingin&lt;br /&gt;Untuk  memudahkan dalam menentukan diagnosis dan mencegah terjadinya  overdiagnosis, maka WHO membagi menjadi 4 derajat manifestasi klinis,  yaitu:&lt;br /&gt;-DHF derajat I: Tanda-tanda infeksi virus, dengan menifestasi  perdarahan yang tampak hanya dengan Uji Torniquet positif. &lt;br /&gt;-DHF  derajat II: Tanda infeksi virus dengan manifestasi perdarahan spontan  (mimisan, bintik-bintik merah) &lt;br /&gt;-DHF derajat III: Disebut juga fase  pre syok, dengan tanda DHF grade II namun penderita mulai mengalami  tanda syok; kesadaran menurun, tangan dan kaki dingin, nadi teraba cepat  dan lemah, tekanan nadi masih terukur. &lt;br /&gt;-DHF derajat IV: Atau fase  syok (disebut juga dengue syok syndrome/DSS), penderita syok dalam  dengan kesadaran sangat menurun hingga koma, tangan dan kaki dingin dan  pucat, nadi sangat lemah sampai tidak teraba, tekanan nadi tidak dapat  terukur. &lt;br /&gt;BAGAIMANA PERAWATAN PENDERITANYA?&lt;br /&gt;Pada prinsipnya  karena ini adalah penyakit karena infeksi virus maka belum ada obat&amp;nbsp;  spesifik untuk mengatasinya. Perawatan yang diberikan hanya berupa  penanganan secara simtomatik saja berupa perbaikan keadaan umum  penderitanya dan menjaga jangan sampai dehidrasi (kekurangan cairan).  Perawatannya bisa dilakukan di rumah apabila penderita masih bisa makan  dan minum sendiri dan tidak ada mual atau muntah yang berat (DHF Derajat  I-II). Perawatan dapat dilakukan dengan memberikan kompres hangat, obat  turun panas, pereda nyeri dan antimuntah bila perlu. &lt;br /&gt;Apabila  kondisi penderita tidak membaik atau apabila ada tanda-tanda shock (DHF  Derajat III-IV) segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat.&lt;br /&gt;DHF  umumnya akan mengalami penyembuhan setelah 7-8 hari, jika tidak ada  infeksi sekunder dan dasar pertahanan tubuh penderitanya memang baik.  Tanda penyembuhan antara lain meliputi demam yang turun perlahan, nafsu  makan dan minum yang membaik, lemas yang berkurang dan tubuh terasa  segar kembali.&lt;br /&gt;BAGAIMANA PENCEGAHAN AGAR TIDAK TERJANGKIT PENYAKIT  INI?&lt;br /&gt;Yang harus dilakukan adalah mengetahui kapan biasanya  penyakit ini muncul, biasanya pada awal musim hujan dan selama musim  hujan. Laksanakan tindakan pencegahan dengan melakukan gerakan 3M plus,  yaitu menguras bak air minimal seminggu sekali, menutup tempat-tempat  penampungan air, mengubur barang-barang bekas yang dapat menampung air  hujan.&lt;br /&gt;dokterku.net (Juni 2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-1829668608114373268?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/1829668608114373268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/05/demam-berdarah-dengue_06.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/1829668608114373268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/1829668608114373268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/05/demam-berdarah-dengue_06.html' title='DEMAM BERDARAH DENGUE'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-2820032071925995496</id><published>2010-05-05T02:12:00.001-07:00</published><updated>2010-05-05T02:12:34.985-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MEKANISME PEYAKIT dan DASAR DASAR TERAPI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PATOLOGI'/><title type='text'>DEMAM BERDARAH DENGUE</title><content type='html'>&lt;table border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr valign="top"&gt;&lt;td class="judulbesar" valign="top" width="302"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt;       &lt;td valign="top" width="302"&gt;&lt;span class="subjudul"&gt;DEFINISI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Demam  dengue adalah demam virus akut yang disertai sakit kepala, nyeri otot,  sendi dan tulang, penurunan jumlah sel darah putih dan ruam-ruam.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demam berdarah dengue/dengue hemorrhagic fever (DHF) adalah demam dengue  yang disertai pembesaran hati dan manifestasi perdarahan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada keadaan yang parah bisa terjadi kegagalan sirkulasi darah dan  pasien jatuh dalam syok hipovolemik akibat kebocoran plasma.  Keadaan  ini disebut dengue shock syndrome (DSS).                                &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt;       &lt;td valign="top" width="302"&gt;&lt;span class="subjudul"&gt;PENYEBAB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Demam  dengue  dan DHF disebabkan oleh salah satu dari 4 serotipe virus yang  berbeda antigen.&lt;br /&gt;Virus ini adalah kelompok Flavivirus dan  serotipenya adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infeksi oleh  salah satu jenis serotipe ini akan memberikan kekebalan seumur hidup  tetapi tidak menimbulkan kekebalan terhadap serotipe yang lain.   Sehingga seseorang yang hidup di daerah endemis DHF dapat mengalami  infeksi sebanyak 4 kali seumur hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengue adalah penyakit daerah tropis dan ditularkan oleh nyamuk Aedes  aegypti.  Nyamuk ini adalah nyamuk rumah yang menggigit pada siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor resiko penting pada DHF adalah serotipe virus, dan faktor  penderita seperti umur, status imunitas, dan predisposisi genetis.                                 &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt;       &lt;td valign="top" width="302"&gt;&lt;span class="subjudul"&gt;GEJALA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Infeksi  oleh virus dengue menimbulkan variasi gejala mulai sindroma virus  nonspesifik sampai perdarahan yang fatal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala demam dengue  tergantung pada umur penderita. &lt;br /&gt;Pada bayi dan anak-anak kecil  biasanya berupa demam disertai ruam-ruam makulopapular. &lt;br /&gt;Pada  anak-anak yang lebih besar dan dewasa, bisa dimulai dengan demam ringan  atau demam tinggi (&amp;gt;39 derajat c) yang tiba-tiba dan berlangsung  selama 2 - 7 hari, disertai sakit kepala hebat, nyeri di belakang mata,  nyeri sendi dan otot, mual-muntah dan ruam-ruam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintik-bintik  perdarahan di kulit sering terjadi, kadang kadang disertai bintik-bintik  perdarahan di farings dan konjungtiva.&lt;br /&gt;Penderita juga sering  mengeluh nyeri menelan, tidak enak di ulu hati, nyeri di tulang rusuk  kanan dan nyeri seluruh perut. &lt;br /&gt;Kadang-kadang demam mencapai 40 - 41  derajat c dan terjadi kejang demam pada bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DHF adalah  komplikasi serius dengue yang dapat mengancam jiwa penderitanya,  ditandai oleh : &lt;ul&gt;&lt;li&gt;demam tinggi yang terjadi tiba-tiba  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;manifestasi perdarahan  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;hepatomegali/pembesaran hati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;kadang-kadang terjadi syok manifestasi perdarahan pada dhf  dimulai dari tes torniquet positif dan bintik-bintik perdarahan di kulit  (ptechiae). Ptechiae ini bisa terlihat di seluruh anggota gerak,  ketiak, wajah dan gusi. juga bisa terjadi perdarahan hidung, perdarahan  gusi, perdarahan dari saluran cerna dan perdarahan dalam urin.  &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan gejalanya DHF dikelompokkan menjadi 4 tingkatan :  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Derajat I : demam diikuti gejala tidak spesifik. satu-satunya  manifestasi perdarahan adalah tes torniquet yang positif atau mudah  memar.  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Derajat II : gejala yang ada pada tingkat I ditambah dengan  perdarahan spontan. perdarahan bisa terjadi di kulit atau di tempat  lain.  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Derajat III : kegagalan sirkulasi ditandai oleh denyut nadi  yang cepat dan lemah, hipotensi, suhu tubuh yang rendah, kulit lembab  dan penderita gelisah.  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Derajat IV : syok berat dengan nadi yang tidak teraba dan  tekanan darah tidak dapat diperiksa. fase kritis pada penyakit ini  terjadi pada akhir masa demam.  &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Setelah demam selama 2 - 7 hari, penurunan suhu biasanya disertai dengan  tanda-tanda gangguan sirkulasi darah. penderita berkeringat, gelisah,  tangan dan kakinya dingin, dan mengalami perubahan tekanan darah dan  denyut nadi. &lt;br /&gt;Pada kasus yang tidak terlalu berat gejala-gejala ini hampir tidak  terlihat, menandakan kebocoran plasma yang ringan. &lt;br /&gt;Bila kehilangan plasma hebat, akan terjadi syok, syok berat dan kematian  bila tidak segera ditangani. Kondisi yang buruk bisa segera ditangani  dengan diagnosa dini dan pemberian cairan pengganti. Trombositopeni dan  hemokonsentrasi sudah dapat dideteksi sebelum demam turun dan terjadi  syok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penderita dengan DSS kondisinya dengan segera memburuk. Ditandai  dengan nadi cepat dan lemah, tekanan darah menyempit sampai kurang dari  20 mmhg atau terjadi hipotensi. Kulit dingin, lembab dan penderita  mula-mula terlihat mengantuk kemudian gelisah. &lt;br /&gt;Bila tidak segera  ditangani penderita akan meninggal dalam 12 - 24 jam. Dengan pemberian  cairan pengganti, kondisi penderita akan segera membaik. &lt;br /&gt;Pada syok  yang berat sekalipun, penderita akan membaik dalam 2 -3 hari.  Tanda-tanda adanya perbaikan adalah jumlah urine yang cukup dan  kembalinya nafsu makan. &lt;br /&gt;Syok yang tidak dapat diatasi biasanya  berhubungan dengan keadaan yang lain seperti asidosis metabolik,  perdarahan hebat di saluran cerna atau organ lain. Perdarahan yang  terjadi di otak akan menyebabkan penderita kejang dan jatuh dalam  keadaan koma.                                 &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt;       &lt;td valign="top" width="302"&gt;&lt;span class="subjudul"&gt;DIAGNOSA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada  awal mulainya demam, dhf sulit dibedakan dari infeksi lain yang  disebabkan oleh berbagai jenis virus, bakteri dan parasit. &lt;br /&gt;Setelah  hari ketiga atau keempat baru pemeriksaan darah dapat membantu diagnosa.  &lt;br /&gt;Diagnosa ditegakkan dari gejala klinis dan hasil pemeriksaan darah : &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Trombositopeni, jumlah trombosit kurang dari 100.000 sel/mm3  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hemokonsentrasi, jumlah hematokrit meningkat paling sedikit 20%  di atas rata-rata.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Hasil laboratorium seperti ini biasanya  ditemukan pada hari ke-3 sampai ke-7. &lt;br /&gt;Kadang-kadang dari x-ray dada  ditemukan efusi pleura atau hipoalbuminemia yang menunjukkan adanya  kebocoran plasma. &lt;br /&gt;Kalau penderita jatuh dalam keadaan syok, maka  kasusnya disebut sebagai Dengue Shock Syndrome (DSS).                                 &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt;       &lt;td valign="top" width="302"&gt;&lt;span class="subjudul"&gt;PENGOBATAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;untuk  mengatasi demam sebaiknya diberikan asetaminofen. salisilat tidak  digunakan karena akan memicu perdarahan dan asidosis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;asetaminofen  diberikan selama demam masih mencapai 39 derajat c, paling banyak 6  dosis dalam 24 jam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kadang-kadang diperlukan obat penenang pada  anak-anak yang sangat gelisah. kegelisahan ini bisa terjadi karena  dehidrasi atau gangguan fungsi hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;haus dan dehidrasi  merupakan akibat dari demam tinggi, tidak adanya nafsu makan dan muntah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengganti cairan yang hilang harus diberikan cairan yang  cukup melalui mulut atau melalui vena. Cairan yang diminum sebaiknya  mengandung elektrolit seperti oralit. cairan yang lain yang bisa juga  diberikan adalah jus buah-buahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;penderita harus segera  dirawat bila ditemukan gejala-gejala berikut :&lt;/b&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;takikardi, denyut jantung meningkat &lt;/li&gt;&lt;li&gt;kulit pucat dan dingin  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;denyut nadi melemah  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;terjadi perubahan derajat kesadaran, penderita terlihat ngantuk  atau tertidur terus menerus  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;urine sangat sedikit  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;peningkatan konsentrasi hematokrit secara tiba-tiba &lt;/li&gt;&lt;li&gt;tekanan darah menyempit sampai kurang dari 20 mmhg  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;hipotensi. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;pada tanda-tanda tersebut berarti penderita mengalami dehidrasi yang  signifikan (&amp;gt;10% berat badan normal), sehingga diperlukan penggantian  cairan segera secara intravena. &lt;br /&gt;cairan pengganti yang diberikan  biasanya garam fisiologis, ringer laktat atau ringer asetat, larutan  garam fisiologis dan glukosa 5%, plasma dan plasma substitute. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pemberian  cairan pengganti harus diawasi selama 24 - 48 jam, dan dihentikan  setelah penderita terrehidrasi, biasanya ditandai dengan jumlah urine  yang cukup, denyut nadi yang kuat dan perbaikan tekanan darah.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;infus juga harus diberikan kalau kadar hematokrit turun sampai 40% .  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila pemberian cairan intravena diteruskan setelah tanda-tanda  ini dicapai, akan terjadi overhidrasi, mengakibatkan jumlah cairan  berlebih dalam pembuluh darah, edema paru-paru dan gagal jantung.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oksigen diberikan pada penderita dalam keadaan syok.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;transfusi darah hanya diberikan pada penderita dengan  tanda-tanda perdarahan yang signifikan.                                 &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt;       &lt;td valign="top" width="302"&gt;&lt;span class="subjudul"&gt;PENCEGAHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;pengembangan  vaksin untuk dengue sangat sulit karena keempat jenis serotipe virus  bisa mengakibatkan penyakit. &lt;br /&gt;perlindungan terhadap satu atau dua  jenis serotipe ternyata meningkatkan resiko terjadinya penyakit yang  serius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat ini sedang dicoba dikembangkan vaksin terhadap  keempat serotipe sekaligus. &lt;br /&gt;sampai sekarang satu-satunya usaha  pencegahan atau pengendalian dengue dan dhf adalah dengan memerangi  nyamuk yang mengakibatkan penularan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. aegypti berkembang biak terutama di tempat-tempat buatan  manusia, seperti wadah plastik, ban mobil bekas dan tempat-tempat lain  yang menampung air hujan. &lt;br /&gt;nyamuk ini menggigit pada siang hari,  beristirahat di dalam rumah dan meletakkan telurnya pada tempat-tempat  air bersih tergenang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;pencegahan dilakukan dengan langkah 3m :&lt;/b&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt; menguras bak air  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;menutup tempat-tempat yang mungkin menjadi tempat berkembang  biak nyamuk  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;mengubur barang-barang bekas yang bisa menampung air.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;di tempat penampungan air seperti bak mandi diberikan insektisida yang  membunuh larva nyamuk seperti abate. &lt;br /&gt;hal ini bisa mencegah  perkembangbiakan nyamuk selama beberapa minggu, tapi pemberiannya harus  diulang setiap beberapa waktu tertentu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di tempat yang sudah terjangkit dhf dilakukan penyemprotan  insektisida secara fogging. &lt;br /&gt;tapi efeknya hanya bersifat sesaat dan  sangat tergantung pada jenis insektisida yang dipakai. &lt;br /&gt;di samping  itu partikel obat ini tidak dapat masuk ke dalam rumah tempat  ditemukannya nyamuk dewasa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk perlindungan yang lebih intensif, orang-orang yang tidur  di siang hari sebaiknya menggunakan kelambu, memasang kasa nyamuk di  pintu dan jendela, menggunakan semprotan nyamuk di dalam rumah dan  obat-obat nyamuk yang dioleskan.                                 &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/446046793902323342-2820032071925995496?l=veniwulandari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://veniwulandari.blogspot.com/feeds/2820032071925995496/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/05/demam-berdarah-dengue.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/2820032071925995496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/446046793902323342/posts/default/2820032071925995496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://veniwulandari.blogspot.com/2010/05/demam-berdarah-dengue.html' title='DEMAM BERDARAH DENGUE'/><author><name>VENI WULANDARI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13778788261251320255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-bEwjv33mIW0/TjUcovYYSFI/AAAAAAAAAKg/uHjF1Sx3WxA/s220/tw.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-446046793902323342.post-8263598608436274841</id><published>2010-05-05T01:00:00.000-07:00</published><updated>2010-05-25T02:08:43.104-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MEKANISME PEYAKIT dan DASAR DASAR TERAPI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FARMAKOLOGI'/><title type='text'>ANTIBIOTIK (CARA KERJA dan PENGGOLONGANNYA)</title><content type='html'>Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik,  yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di  dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri.&lt;a href="http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran/antibiotik-mekanisme-cara-kerja-dan-klasifikasinya/#_edn4" name="_ednref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;  Literatur lain mendefinisikan antibiotik sebagai substansi yang bahkan  di dalam konsentrasi rendah dapat menghambat pertumbuhan dan reproduksi  bakteri dan fungi.&lt;a href="http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran/antibiotik-mekanisme-cara-kerja-dan-klasifikasinya/#_edn5" name="_ednref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;  Berdasarkan sifatnya (daya hancurnya) antibiotik dibagi menjadi dua:&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Antibiotik yang bersifat bakterisidal, yaitu antibiotik yang  bersifat destruktif terhadap bakteri.&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Antibiotik yang bersifat bakteriostatik, yaitu antibiotik yang  bekerja menghambat pertumbuhan atau multiplikasi bakteri.&lt;br /&gt;Cara yang ditempuh oleh antibiotik dalam menekan bakteri dapat  bermacam-macam, namun dengan tujuan yang sama yaitu untuk menghambat  perkembangan bakteri. Oleh karena itu mekanisme kerja antibiotik dalam  menghambat proses biokimia di dalam organisme dapat dijadikan dasar  untuk mengklasifikasikan antibiotik sebagai berikut:&lt;a href="http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran/antibiotik-mekanisme-cara-kerja-dan-klasifikasinya/#_edn6" name="_ednref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel bakteri. Yang  termasuk ke dalam golongan ini adalah Beta-laktam, Penicillin,  Polypeptida, Cephalosporin, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ampicillin&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Ampicillin (halaman belum tersedia)"&gt;Ampicillin&lt;/a&gt;,  Oxasilin.&lt;br /&gt;a)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Beta-laktam menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara  berikatan pada enzim DD-transpeptidase yang memperantarai dinding  peptidoglikan bakteri, sehingga dengan demikian akan melemahkan dinding  sel bakteri Hal ini mengakibatkan sitolisis karena ketidakseimbangan  tekanan osmotis, serta pengaktifan hidrolase dan autolysins yang  mencerna dinding peptidoglikan yang sudah terbentuk sebelumnya. Namun  Beta-laktam (dan Penicillin) hanya efektif terhadap bakteri gram  positif, sebab keberadaan membran terluar (&lt;i&gt;outer membran&lt;/i&gt;) yang  terdapat pada bakteri gram negatif membuatnya tak mampu menembus dinding  peptidoglikan.&lt;a href="http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran/antibiotik-mekanisme-cara-kerja-dan-klasifikasinya/#_edn7" name="_ednref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;b)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Penicillin meliputi natural Penicillin, Penicillin G dan  Penicillin V, merupakan antibiotik bakterisidal yang menghambat sintesis  dinding sel dan digunakan untuk penyakit-penyakit seperti sifilis,  listeria, atau alergi bakteri gram positif/&lt;i&gt;Staphilococcus&lt;/i&gt;/&lt;i&gt;Streptococcus&lt;/i&gt;.  Namun karena Penicillin merupakan jenis antibiotik pertama sehingga  paling lama digunakan telah membawa dampak resistansi bakteri terhadap  antibiotik ini. Namun demikian Penicillin tetap digunakan selain karena  harganya yang murah juga produksinya yang mudah.&lt;br /&gt;c)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Polypeptida meliputi Bacitracin, Polymixin B dan Vancomycin.  Ketiganya bersifat bakterisidal. Bacitracin dan Vancomycin sama-sama  menghambat sintesis dinding sel. Bacitracin digunakan untuk bakteri gram  positif, sedangkan Vancomycin digunakan untuk bakteri &lt;i&gt;Staphilococcus&lt;/i&gt;  dan &lt;i&gt;Streptococcus&lt;/i&gt;. Adapun Polymixin B digunakan untuk bakteri  gram negatif.&lt;br /&gt;d)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Cephalosporin (masih segolongan dengan Beta-laktam) memiliki  mekanisme kerja yang hampir sama yaitu dengan menghambat sintesis  peptidoglikan dinding sel bakteri. Normalnya sintesis dinding sel ini  diperantarai oleh PBP (Penicillin Binding Protein) yang akan berikatan  dengan D-alanin-D-alanin, terutama untuk membentuk jembatan  peptidoglikan. Namun keberadaan antibiotik akan membuat PBP berikatan  dengannya sehingga sintesis dinding peptidoglikan menjadi terhambat.&lt;a href="http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran/antibiotik-mekanisme-cara-kerja-dan-klasifikasinya/#_edn8" name="_ednref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;e)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ampicillin memiliki mekanisme yang sama dalam penghancuran  dinding peptidoglikan, hanya saja Ampicillin mampu berpenetrasi kepada  bakteri gram positif dan gram negatif. Hal ini disebabkan keberadaan  gugus amino pada Ampicillin, sehingga membuatnya mampu menembus membran  terluar (&lt;i&gt;outer membran&lt;/i&gt;) pada bakteri gram negatif.&lt;a href="http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran/antibiotik-mekanisme-cara-kerja-
